Sejak Jamel memboyong isteri dananak-anaknya ke Moro, kini dia sudah benar-benar menjadi warga Moro. Jika delapan bulan pertama, Jamel hanya hidup sendiri di Moro sementara isteri dan anak-anaknya tetap di Tanjungbatu, kini tidak lagi. Jamel sudah pindah habis. Barang-barang perabot rumah yang ada di Tanjungbatu juga sudah berpindah ke Moro. Ada kulkas yang dibeli berstatus bekas, ada kursi yang dulu dibeli juga berstatus bekas dan beberapa barang lainnya yang dibeli di Pasar Sawang, Kundur. Ada juga besi tiang antene televisi dengan televisi berbodi kayu. TV itu sudah berwarna gambarnya walaupun bodinya masih terbuat dari kayu semacam triplek. Ini tv kedua yang pernah dibeli Jamel sejak menjadi guru. Tv pertama adalah tv hitam-putih.
Sebuah vespa super berwarna putih bermesin 1978 juga sudah diboyong ke Moro. Vespa ini juga memiliki catatan kenangan yang unik bagi Jamel. Biasanya seorang guru memiliki kendaraan bermotor, itu setelah bekerja, semisal sudah menjadi PNS. Tapi Jamel sudah memiliki vespa itu persis setelah tamat dari Universitas Riau (1983) dan baru akan menjadi seorang guru PNS. Uangnya diperoleh dari tabungan uang beasiswa yang kebetulan dia dapatkan saat menimba ilmu di FKIP Unri itu. Selain untuk membayar uang kuliah dan beli buku, dia masih bisa menabung. Ditambah penghasilan lain seperti menghonor di sekolah, cukuplah uang itu untuk membeli sebuah scutter bekas yang kebetulan pemiliknya memerlukan uang. Scutter itu dibeli di Pekanbaru, diboyong ke Tanjungbatu dan kini ada di Moro.
Ketika tinggal sendiri di Moro sebagai Wakil Kepala Sekolah SMA Tanjungbatu di Moro saat itu, Jamel berjalan kaki saja dari Mess Guru ke Rawamangun, tempat SMA Moro berada. Tidak terlalu jauh memang. Dengan berjalan kaki cukup 10-15 menit saja sudah sampai. Waktu itu vespanya masih di Tanjungbatu karena belum berani membawanya ke Moro. Jamel tidak berpikir kalau akhirnya tidak kembali lagi ke Tanjungbatu sebagaimana yang dipikirkannya sebelumnya.
“Filling Neng benar, ya. Dulu, Pak Pardjo berpesan jangan berharap menjadi Kepala Sekolah di rantau orang. Jadi, Abang tidak mau mengajak Neng ke sini takut akan kembali lagi setelah ada Kepala Sekolah defenitif.” Jamel kembali berkisah tentang waktu dia bolak-balik Tanjungbatu-Moro setiap minggu. Isterinya ditinggalkan di Tanjungbatu bersama anak-anak sementara dia ke Moro dalam lima atau enam hari setiap minggunya. Itulah masa-masa sulit dia mengelola SMA Moro saat awal berdiri.
“Tati sudah katakan sejak awal. Filing Tati, Abang tidak akan kembali lagi ke Tanjungbatu.” Itu kalimat isterinya sebelum Jamel benar-benar ditunjuk secara tertulis sebagai pimpinan SMA Moro. Pernyataan itu ternyata benar. Jamel akhirnya memboyong isterinya ke Moro bersama dua anaknya dan satu calon anak yang masih dalam perutnya setelah Kanwil Depdikbud Riau memastikan akan menunjuk dia sebagai peneraju SMA Moro.
Sebelum Jamel menyewa rumah lain, isterinya dan dua anaknya masih bertempat tinggal di mess. Kurang lebih dua bulan mereka tinggal di gedung berdinding dan berlantai papan itu. Mes itu dengan konstruk panggung di bibir pantai. Jika air naik (pasang) mereka serasa berada di atas kapal yang sedang ditambatkan. Hempasan gelombang di bawah rumah mereka rasakan setiap hari. Dua orang anak Jamel yang masih kecil sering pula mandi air laut di bibir pantai di depan rumah itu. Itulah catatan hidup keluarga Jamel saat tinggal di mess guru itu.
Rumah itu juga membuat catatan penting dalam keluarga Jamel. Anak ketiga Jamel yang selama tujuh bulan rutin ditinggalkan di Tanjungbatu dalam kandungan isterinya, akhirnya lahir di mes itu. Anak ketiga ini pun begitu berat buat isterinya dalam proses melahirkan. Perjuangan hidup-mati isterinya terasa betul untuk ketiga ini. Dua anak pertama Jamel lahir di Tanjungbatu dengan relatif mudah keluarnya. Tapi anak ketiga ini butuh waktu 22 jam menunggu sejak bidan mengatakan bayinya segera akan lahir karena ketubannya sudah pecah.
Namun sejak dinyatakan akan segera keluar oleh bidan yang merawat kandungannya itu, isteri Jamel harus menanggung sakit satu hari satu malam. Istserinya sudah putus asa mencoba meneran anaknya yang tidak kunjung keluar. Jamel sendiri sudah berpikir akan membawa isterinya ke Tanjungpinang jika sampai pagi tidak juga keluar. Alhamdulillah, malam itu anak lelakinya itu keluar setelah membuat isterinya merasakan sakit selama 22 jam itu. “Sudahlah, Bang. Tati harus ikat aja lagi,” Kalimat itu diucapkan isterinya untuk memastikan dia tiak akan hamil lagi setelah anak ketiga itu.***








