Tulis Saja Ternyata Bisa

SAAT itu, tahun 2014. Saya masih berdinas sebagai guru yang mendapat tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah. Masih memimpin SMA Negeri 3 Karimun.  Pada kesempatan mengikuti satu pelatihan yang diikuti oleh para Kepala Sekolah –SLTP dan SLTA— se-Kabupaten Karimun saya membuat catatan. Kegiatan menulis sebagai  kegiatan tambahan sehari-hari memang selalu saya lakukan.

Selama beberapa hari mengikuti kegiatan pelatihan yang berlabel ‘Penguatan Kepala Sekolah (SMP, SMA dan SMK) Kabupaten Karimun’ di Hotel Alisan, Tanjungbalai Karimun, itu ternyata tidak hanya materi penguatan yang disampaikan oleh Pak Tri Harsono Ujianto dan Pak Narta dari Solo itu saja yang diterima. Tidak semata materi penguatan Kepala SEkolah saja yang didapatkan.

Bahwa materi itu pada intinya adalah materi yang lebih banyak bersinggungan langsung dengan tugas dan fungsi pokok Kepala Sekolah, memang begitulah tujuan utama pelatihan. Bagaimanapun  itu memang sangat terasa dan menyadarkan para pengelola sekolah akan kewajibannya. Semakin dipahami oleh para ‘peneraju’ sekolah akan tugas pokok dan fungsinya akan semakin baik sekolah yang dipimpinnya. Itulah target penguatan itu.

Tapi tanpa dinyana dalam waktu-waktu seperti itu dan dari beberapa obrolan di luar diskusi materi penguatan, seorang teman sempat pula membicarakan perihal kebiasaan menulis di kalangan Kepala Sekolah khususnya, di kalangan para guru pada umumnya. Bagi saya ini menarik. Topik literasi, khsusnya bagian tulis-menulis adalah kesukaan saya sejak sebelum menjadi guru. Diskursus materi ini di saat-saat jam tertentu saat itu membuat kami merasa beruntung juga.

Saya memang selalu merespon dengan antusias jika ada rekan guru yang berbicara tentang tradisi menulis ini. Saya tahu kalau tingkat dan kemampuan menulis para guru sangatlah rendah pada saat itu. Bukan hanya di Karimun malah secara nasional juga sangat memprihatinkan kemauan dan kemampuan menulis plus membaca para guru. Lima – sepuluh tahun yang lalu, itu sudah sama-sama kita ketahui bagaimana sikap para guru dalam hal tradisi tulis-menulis.

Guru yang antusias berdiskusi perihal kebiasaan menulis itu sesungguhnya juga seorang Kepala Sekolah. Peserta pelatihan penguatan ini memang hanya Kepala Sekolah. Kepada Kepala Sekolah yang sudah lama bergolongan IV/a (Guru Pembina), itu sengaja saya tunjukkan beberapa tulisan saya yang ada di blog pribadi, www.mrasyidnur.blogspot.com yang sudah saya kelola sejak empat tahun sebelumnya. Saya tahu, kebanyakan para guru, khususnya Kepala Sekolah yang ada di daerah ini, rata-rata sudah bergolongan IV/A dalam waktu yang sudah cukup lama waktu itu. Bahkan ada guru atau Kepala Sekolah yang sudah naik pangkat sejak 17 tahun sebelumnya ke golongan IV/A. Saya sendiri tenggelam di golongan itu selama 16 tahun sebelum mampu menembusnya ke IV/B dengan memenuhi persyaratan membuat karya tulis. Sungguh tidak mengenakkan.

Penyebab dari macetnya kenaikan pangkat tersebut adalah kemampuan menulis guru yang sangat rendah. Padahal menurut ketentuan, seorang guru tidak dapat mengajukan kenaikan pangkatnya jika tidak bisa membuat karya tulis sebagai bentuk pengembangan profesi. Diperlukan 12 point untuk kenaikan pangkat dari golongan IV/A ke IV/B. Ini berdasarkan ketentuan lama yang saat ini sudah diubah dengan Permeneg PAN-RB No 16/ 2009 yang kewajiban menulis itu malah sudah diwajibkan sejak dari golongan III/b ke III/c. Tidak hanya dari golongan IV saja.

Oleh karena itulah, rekan Kepala Sekolah yang bertugas di Pulau Kundur ini cukup bersemangat juga ketika saya membicarakan perihal pentingnya menulis di sela-sela diskusi kegiatan Penguatan Kasek itu. Ketika saya menunjukkan hasil tulisan saya yang sudah ratusan judul di blog ini, dia spontan memuji. “Bapak memang rajin menulis,” katanya. “Saya nak membuat judul saja kadang sulit,” tambahnya. Saya sebenarnya malu dipuji begitu. Apalagi jika diingat begitu terlambatnya saya naik pangkat ke IV/b tersebab karya tulis yang menjadi persyaratan. Ah, itu tidak masalah. Memberi semangat kepada rekan-rekan seperjuangan itu perlu, kata saya dalam hati.

Spontan saya mengatakan bahwa jika benar-benar ingin serius belajar dan melaksanakan kegiatan tulis-menulis, maka tulis sajalah apa yang sudah dialami. Ini awal pertama yang dapat dilakukan. Jika ada pengalaman, tulislah pengalaman itu. Terserah saja, mau ditulis di buku (manual) atau mau ditulis di PC atau laptop juga bisa. Malah lebih bagus jika mau menulis di laptop secara online yang bisa langsung dibaca orang pada waktu yang sama. Ada banyak blog sosial yang bisa kita manfaatkan untuk menayangkan karya tulis kita. Tulisan kita bisa dinikmati pembaca lainnya. Intinya, tulis saja maka semuanya akan bisa.

Bagaimanapun, budaya menulis yang masih sangat rendah di kalangan guru ini memang perlu juga menjadi perhatian Kepala Sekolah. Dan saya selalu mengingatkan rekan-rekan Kepala Sekolah untuk terus-menerus memotivasi para guru untuk menulis. Saya sendiri, terutama di sekolah tempat saya mengabdi saya terus mendorong agar aktif menulis. Sekali lagi, tulislah apa yang terjadi di sekitar kita dan semuanya akan terjadi begitu saja. Pengalaman pribadi, malah lebih mudah untuk mengulangnya dalam bentuk tulisan.

Dewasa ini, dengan berbagai fasilitas yang mendukung untuk bergiat di ranah loterasi memungkinkan para guru untuk dengan mudah mengembangkan kreatifitas tulis-menulis. Berbagai komunitas menulis juga bermunculan untuk memberikan dorongan dan pengetahuan serta keterampilan menulis. Tinggal kita saja, apakah kita mau atau masih menunggu. Atau masih menggunakan alasan klasik, tidak mampu? Percaya saja kita kepada pesan orang tua-tua, ‘Dimana ada kemauan, di situ ada jalan’ dan yakinlah akan muncul juga kemampuan. Mari memupuk motivasi untuk berbgiat di ranah literasi.***

*Dikembangkan dari:  https://mrasyidnur.blogspot.com/2014/09/tulis-saja…

Tinggalkan Balasan

2 komentar