Malaikat Kecil dalam Palung Keabadian

Cerpen200 Dilihat

“Mah, dede mau mandi” celoteh si kecil yang menggemaskan.

“Masih pagi ganteng, dingiiin” Sahut ibunya yang sedang memasak nasi goreng.

“Tapi dede pengen anter teteh sekolah Mah” balasnya.

“Mandinya pake air hangat ya, bentar mamah siapin dulu”

Percakapan itu dikemas pada pagi yang menyiskan embun di lengkung dedaunan. Matahari terbit perlahan membuka  semangat yang merekah membawa senyuman serta tarian untuk hari yang butuh imaji.

“Teteh Nita, dede udah ganteng belum?” ujarnya sambil menyisir rambut. Tampak kepolosan yang kental pada wajah bocah 4 tahun itu.

“Ganteng bangeet jagoan teteh” Sahut Kakaknya yang duduk di bangku SMP.

“Ayo sarapan dulu anak-anak mamah yang soleh dan solehah” ujar Bu Marni menyela obrolan mereka.

Sarapan pagi itu dimulai dengan candaan diantara mereka. Keluarga kecil yang sederhana, namun tampak hangat dalam balutan kasih sayang.

“Kalau sudah selesai makannya ayo kita berangkat teh” Sahut Pak Dori sambil menyiapkan motor.

“Sebentar Pak, teteh minum dulu” balas si sulung.

“Horee dede mau anter teteh sekolah. Pak nanti pulang dari sekolah teteh, kita beli permen ya” sambung si kecil Rahman. Nada suaranya yang lucu membuat pagi begitu menggemaskan.

Dengan mengendarai sepeda motor, Pak Dori mengantarkan anaknya yang duduk di kelas 2 SMP. Jarak antara sekolah dan rumahnya hanya berkisar 1 Km, jadi hanya butuh waktu beberapa menit untuk sampai di sekolah Nita.

***

Jam pada dinding semakin berangkat naik, matahari semakin tersenyum lebar memberi isyarat jika siang telah dimulai. Di hari itu Pak Dori pergi ke gunung dan memulai aktivitasnya sebagai ‘kuli tambang’.

Bu Marni duduk bersantai di teras rumah, sambil menunggu anak gadisnya pulang sekolah. Ia saling bercerita dengan tetangganya. Suasana  asik meliputi hari itu, canda tawa membingkai sebuah  kebersamaan yang hangat.

“Mah dede lapar” ujar si kecil Rahman kepada ibunya.

“Udah lapar lagi dede? Sebentar mamah ambil makanannya dulu ya” balas Bu Marni.

Di tengah obrolan bu Marni membawakan sepiring nasi berserta lauknya untuk Rahman. Si kecil Rahman nampak lahap disuapi ibunya. Bu Marni semakin semangat menyuapi anaknya yang biasanya amat sulit untuk makan. Tapi hari itu nampak berbeda, ia begitu lahap menyantap makan siang ditengah obrolan asik ibunya.

“Pinter ya anak mamah” guraunya menyemangati.

“Dede harus makan banyak, karena nanti malam dede gak bakal makan” balasnya.

“Makan itu sehari 3 kali, nanti malam dede makan lagi ya” timpal Bu Marni.

Si kecil Rahman menjawab hanya dengan mengangguk.

Lantunan suara adzan duhur seperti menyudahi aktivitas Bu Marni. Anak gadisnya yang masih belum pulang, lekat dalam pandangan.  Setelah selesai menyuapi si kecil Bu Marni bergegas berwudhu untuk melaksanakan Solat Duhur.

Sambil memakai mukena, Bu Marni memanggil-manggil  anaknya yang tak nampak di dalam rumah. Ternyata, Rahman pergi mandi di Ciberang tanpa sepengatahuan ibunya.

“Kemana ya Rahman? Aku solat dulu ah, selesai solat aku cari keluar” gumam Bu Marni dalam hati.

Di Sungai Ciberang, Rahman mandi bersama ketiga temannya, mereka saling bercanda dan berenang. Siang yang terik tidak membuat mereka gentar, mereka amat menikmati mandi di bawah terik matahari.

Celotehan dan candaan membuat mereka tak sadar jika mereka berada di tengah palung sungai, dalam bahasa sunda di sebut dengan kata ‘leuwi’. Tubuh mungil Rahman terjebak dalam kubangan air yang begitu dalam. Ketiga teman Rahman sangat panik, mereka menarik tangan Rahman dengan kencang, namun semakin di tarik tubuh mungil Rahman semakin masuk ke kedalaman. Ketiganya berteriak memanggil Rahman sembari menangis.

Salah satu dari mereka kemudian berlari menuju rumah Rahman.

“Bu Marni, tolongin Rahman hiks hiks, hiks” isak  bocah si pembawa pesan.

“Kenapa Rahman?” tanya Bu Marni dengan panik.

“Rahman tenggelam di Leuwi” balasnya dengan isak tangis.

Sontak Bu Marni melepaskan mukenanya. Ia berlari kencang menuju sungai Ciberang, air matanya tak terhatankan.

Tiba di Ciberang, Bu Marni menyaksikan dua bocah yang sedang meratapi Rahman. Ia tak melihat Rahman meski hanya bayaangannya. Bu Marni kemudian turun menuju ‘Leuwi’ tersebut, ia berusaha mencari anaknya namun sia-sia, bahkan bajunya saja tak dapat ia temukan. Bu Marni menjadi histeris ia berteriak meminta tolong hingga banyak warga yang mendatanginya.

Satu persatu warga menyelami palung tersebut. Namun tak ada yang menemukan Rahman. Bu Marni semakin lunglai dan menjerit, rasa sesak berkawan dalam dadanya, merasa tak percaya, dan berharap si mungil Rahman masih bisa hidup.

Setelah 30 menit pencarian, para warga memutuskan untuk memanjatkan do’a bersama. Selesai berdoa mereka kembali menyelami palung, dan akhirnya salah seorang warga menemukan kaki Rahman. Ia menariknya dengan kencang, hingga Rahman muncul ke permukaan. Semua warga sontak terkejut bahagia karena Rahman di temukan.

Si kecil Rahman akhirnya di bawa menuju rumahnya. Bu Marni masih terisak dalam menyaksikan anaknya terkapar lemas. Segala upaya telah dilakukan warga, berharap Rahman masih bisa bernafas, namun semua upaya itu sia-sia si mungil Rahman pergi menghadap sang khalik dalam balutan dingin yang pekat. Badannya terbujur kaku, sertaa wajah gantengnya biru lebam.

Bu Marni semakin sesak, merasa sulit percaya atas kejadian itu. Ia hanya melepaskan Rahman selama solat, namun waktu begitu cepat merenggut. Ia menangis dengan histeris, masih terngiang di telinganya

“Dede harus makan banyak, karena nanti malam dede gak bakal makan”.

Bu Marni tersadar bahwa ucapan itu pertanda pesan mendalam yang tidak di mengerti olehnya. Mengingat perkataan itu ia semakin histeris.

Keramaian seketika berpusat di rumah Bu Marni, anak gadisnya, merasa heran menyaksikan rumahnya yang amat ramai.

Dengan segera Nita melepaskan sepatunya dan melihat keadaan. Ia menjerit mendapati adik kecilnya terbujur kaku tak bernyawa, ibunya yang meratapi dengan penuh kesedihan membuat air mata Nita pecah tak tertahankan.

Nita berteriak dan masih sulit percaya, adik kecil yang tadi pagi mengantarnya berangkat sekolah, tak akan ia jumpai di esok harinya. Nita dan ibunya menangis berbalasan menciptakan ritme kesedihan yang amat dalam.

Tetangganya kemudian mengabari Pak Dori yang baru berangkat kerja. Pak Dori merasa tak percaya, Ia menangis selama perjalanan, tak kuasa membayangkan anak lelakinya yang begitu rupawan. Ketika pagi ia masih menggenggam tubuh mungilnya, membelikan permen yang bahkan bungkusannya masih tampak di tempat sampah.

Semua seperti mimpi, semua terjadi begitu cepat. Keluarga  Bu Marni tak kuasa menerima keadaan, seperti sebuah berlian yang direbut dari genggaman tangan, ia marah dan sedih tak tertahankan. Satu hal yang membuat mereka kuat, yaitu sebuah takdir. Takdir sepenuhnya bukan milik manusia. Tak ada yang bisa melawan takdir, mampu atau pun tidak kita manusia lemah yang harus berkawan sejalan dengan takdir.

Untukmu si kecil yang tinggal dalam keabadian, kepolosannmu membuat Tuhan begitu sayang padamu. Hingga Tuhan menempatkanmu sebagai bunga surga.

-Sekian-

Tinggalkan Balasan