Rintihan panjang suara hujan, menyibak kegelisahan pada pagi yang tak dibersamai matahari. Hujan itu seperti cucuran air mata dari langit yang membentangkan kesedihan. Menari keras di atap rumah warga.
“Pa, si dede suapin ya. Mamah mau nyuci piring dulu” Ujar Bu Elis pada suaminya.
“Iya mah, ambilkan nasinya” Jawab suaminya Pak Jalal.
Percakapan itu dikemas senada dengan suara hujan yang begitu riak.
Hati bu Elis mulai gelisah, memantau pergerakan sungai Ciberang di pinggir rumahnya. Hujan yang mengguyur semalaman membuat debit sungai sedikit meninggi.
“Pa, mamah hawatir datang banjir”imbulnya pada sang suami.
“Enggak Mah, mudah-mudahan aman” balas suaminya menenangkan.
Berlandas ucapan suaminya, Bu Elis kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan rumah. Hatinya merasa gelisah. Hujan di atas asbes rumahnya seperti memberi isyarat untuk pergi meninggalkan rumah.
Atas kegelisahan itu, ia kembali menengok teras rumah. Sebuah rumah kokoh yang baru tiga bulan selesai di bangun oleh keluarganya, Nampak bagus nan kokoh.
Suami bu Elis menghampirinya di teras rumah. Dari teras itu, mereka menyaksikan para anak kecil berlari-lari di jembatan pelangi di depan rumahnya. Para bocah itu nampak senang menyambut hujan, seperti sebuah adegan pada film India aya yang berlari sambil berpayung, pula ada yang berlari dengan basah kuyup.
Pemandangan itu nampak asyik bagi para bocah desa. Namun mengantar keresahan dalam benak warga. Tiga puluh menit berlalu, air mulai menaiki jembatan pelangi. Sang air singgah seperti tamu tak berkawan. Hal itu membuat para bocah berlari menghindari jembatan.
“Pa, sepertinya akan datang banjir” ucap bu Elis kepada suaminya yang sedari tadi merasa gelisah.
“Ayo Mah, kita kumpul ke mesjid” balas suaminya.
Dengan sigap bu Elis mengambil barang yang amat penting, yaitu surat-surat serta izazah. Belum selesai ia mengambil barang-barang lainnya ia kemudia di kagetkan dengan demtuman suara yang begitu keras. Lantai rumahnya bergetar kencang seperti dihantam gempa bumi.
Suaminya panik dan segera menggendong putranya. Ia menyaksikan dengan jelas tiba-tiba badai datang, gulungan air mematahkan pondasi jembatan pelangi itu.
“Mah ayo cepat pergi dari rumah” teriak suaminya.
“Iya iya” balas bu Elis dengan tangan gemetar. Pikirannya jadi buntu, kakinya gemetar tak banyak yang sanggup ia bawa selain surat-surat penting dan Hp.
Pak Jalal dan bu Elis berlari kencang, bersamaan dengan kencangnya arus banjir bandang yang menghantam rumahnya.
Sampai pada teras mesjid, ia histeris menyaksikan dengan lekat rumahnya tersapu banjir bandang. Rumah kokoh yang baru selesai di bangun, kini porak poranda hanya tersisa setengahnya.
Tak pernah terbayang sebelumnya, ketika bencana hanya ia saksikan di TV, kini menimpa dirinya. Air matanya jatuh tanpa ia rasa, deras menari pada pipi seperti derasnya air hujan pada pagi itu.
Anaknya yang baru satu tahun ikut larut dalam kesedihan ibunya, seperti mengerti banyak hal. Si bayi kecil yang malang, ia hanya berbungkus kaos stelan pada tubuhnya, segala keperluannya hanyut sejajar dengan penggalan rumahnya.
Para warga beristigfar, menangis beriringan, serta gelisah tak tertahankan. Bingung harus apa, dan dengan cara apa menyelesaikannya.
Dalam mesjid itu, mereka saling berkumpul dan menguatkan. Tak ada info yang bisa di kabarkan ke luar, karena kendala sinyal yang mati total.
Sehari semalam mereka bertahan dalam mesjid hanya berasal tikar yang menghangatkan tubuh mereka.
Keesokan harinya, debit air mulai surut, para warga melakukan evakuasi bersama. Mereka membentangkan tambang untung menyebrangkan warga lainnya menuju kampung sebrang. Karena keluarga bu Elis berada di kampung sebrang, maka ia dan suaminya harus melewati episode tersebut.
“Pah, mamah takut” ujarnya sambil menggendong putrnya.
Rasa ingin dan takut bercampur dalam hatinya. Dengan lantunan doa dan rasa pasrah, warga kemudian mengikat pinggangnya dengan tambang. Perlahan ia di sebrangkan dengan ikatan tambang pada pinggang dan tangannya.
Proses ini amat mendebarkan, anaknya dalam gendongan menatap ibunya begitu dalam, seolah mengerti kegelisahan ibunya. Pelan dan pasti proses itu bisa ia lewati dengan hati yang berdebar. Seandainya ia terpeleset maka suatu kemungkinan buruk bisa terjadi, ia bisa hanyut terbawa arus.
Sampai pada tepian sungai bu Elis di sambut oleh para kakanya. Kakak tertuanya memeluk erat sambil menangis. Suasana pilu ini begitu haru, karena ia dan keluarganya merasa gusar.
“Ya Allah dede, uwa hawatir sama dede” ujar salah satu kakanya sambil menangis.
Keluarganya kemudian membawa bu Elis, anak, suami, beserta adiknya untuk mengungsi di rumahnya.
Kejadian ini, sungguh di luar dugaan, bencana itu erat dalam ingatannya. Tiada terlupakan, rumahnya kini menjadi saksi bisu keberingasan sang gelombang banjir bandang.
Setiap musibah selalu ada hikmahnya, begitulah janji Tuhan untuk manusia yang bersyukur. Seperti pepatahnya Socrates “Kesejahteraan memberikan peringatan, sedangkan bencana memberi nasihat”.
Hidup itu harus terus berjalan, tak perlu seberapa pahit perjalananya, ketika kita mampu bertahan, Tuhan pasti memberikan jalan keluar. Seperti itu lah Bu Elis melewatinya, hingga harta yang hanyut dalam arus banjir bandang kini tergantikan dengan yang lebih baik.
-Sekian-






