
Tepian bidara gugur berangan,
Dikutip perkasa berteman nyonya,
Rumpun nusantara berpayung naungan,
Satu bahasa variasi larasnya.
Bungkam di perdu hutan di redah,
Jalan bertuntun merentas buana,
Hati yang sendu terobat sudah,
Mencipta pantun terasa bermakna.
Jangan puan menggunting pita,
Kalu hanya berlembar satu,
Tanpa terucap pantun tercipta,
Kata tersusun pantun penyatu.
Asal diriku dari tanjong karang,
Ada kaitan dengan herman tino,
Sakit otakkku hendak mengarang,
Pantun kalian hebat bebeno.
Baju berenda dipakai dara,
Di atas tangga manis bermadah,
Sabarlah adinda berpantun bicara,
Kalam pujangga untaian terindah.
Air tenang tiada buaya,
Buaya diternak penghasil kulit,
Senang membaca pantun pujangga,
Akhir pekan terasa legit.
Sambil minum menonton kartun,
Duduk santai di sofa empuk,
Maaf belum ikut berpantun,
Kerjaan masih banyak menumpuk.
Mari ditarik tunggangan pedati,
Jalan bertuntun beteman dara,
Bapak Taufik gerangan kunanti,
Kini berpantun membuka bicara.
Enak serawa ubinya empuk,
Dijamah nanas beserta kuini,
Langsaikan kerja kian menumpuk,
Amanah lunas kami santuni.
Saling menyapa sambil berpantun,
Akrab bicara bersama teman.
Tak mengapa jalan bertuntun,
Asalkan dara temankan berjalan.
Di hujung taman menanti Kirana,
Segak busana berkain selendang,
Dara berteman pujaan teruna,
Cantik wajahnya tak jemu memandang.
Kalau berjalan di tengah ladang,
Awas tersengat hewan berbisa.
Teruna dan dara menjamah pandang,
Hati bergetar nyaman terasa.
Nyanyian gemersik alunan gitar,
Merdu suara beriring irama,
Pantun Pak Taufik hatiku gementar,
Bermadah pujangga meruntun sukma.
Tuntutlah ilmu ke negri jiran,
Yakin dan sabar anugrah Tuhan,
Pantunmu ouan juga demikian,
Bikin gemetar seluruh badan.
Membeli puyuh untuk digulai,
Jangan lupa beli campurannya,
Dengan bismillah kita mulai,
Alhamdulillah untuk mengakhirinya.








