
Oleh MUCH. KHOIRI
MENGAPA wanita “cantik” (bukan balita atau kanak-kanak) menggiurkan? Pertanyaan yang terarah bagi laki-laki ini juga berlaku bagi perempuan: Mengapa laki-laki ganteng macho menggiurkan? Menggiurkan di sini bukan sekadar terkagum, melainkan menggoda syahwat. Mengapa ini bisa terjadi?
Dalam agama ada larangan bagi laki-laki dan perempuan dewasa untuk berdua-duaan. Sebab, “orang ketiga” mereka adalah setan laknatullah. Maka, setanlah yang dianggap mendorong mereka untuk mendekati (dan/atau melakukan) perbuatan zina. Setanlah yang dianggap biang munculnya syahwat laki-laki terhadap perempuan itu dan sebaliknya. Sepasang manusia ini tidak merasa bersalah 100%; karena, stimulusnya adalah setan.
Dalam lensa agama, tentu saja larangan berduaan itu tak diragukan lagi. Dalam berbagai ceramah hal ini kerap disampaikan. Bahkan, kebenaran adanya campur-tangan setan dalam berbagai perilaku buruk manusia juga sangat meyakinkan. Meski demikian, juga bisa ditemukan manusia yang mencari pembenar bahwa kejahatannya bukan semata kesalahannya, melainkan merupakan rekayasa setan terhadapnya.
Saya tidak menggunakan dalil langit di atas, melainkan sisi lain saja, yakni lensa pemahaman atas kebutuhan jasadiyah manusia. Maksudnya, tanpa dalil agama pun, bisa dijelaskan adanya alasan mengapa laki-laki dan perempuan saling tergiur syahwatnya ketika berduaan. Cukup dengan merujukkannya pada kebutuhan jasadiyah mereka, masalah ini bisa dijelaskan atau ditafsirkan.
Manusia sejatinya adalah penduduk langit, yang dianugerahi _kesing_ atau bentuk berupa jasad. Karena jasad itu bersifat keduniaan, maka wajar jika ia senang untuk bertemu, berdekatan, dan bersentuhan dengan jasad lain dengan sifat keduniaan pula. Secara fisiologis, laki-laki dan perempuan memiliki hormon-hormon tertentu yang saling membutuhkan. Pada tataran tertentu, keduanya seperti katoda dan anoda kelistrikan, yang memungkinkan terjadinya tarik-menarik.
Kebutuhan jasadiyah terendah manusia, menurut Abraham Maslow, adalah kebutuhan fisiologis. Inilah kebutuhan dasar yang tak bisa ditunda lagi: makan, minum, tidur, seks, dan sebagainya. Jika kurang terpenuhi, jasad akan menjerit atau menangis. Maunya dipenuhi, dan bahkan dimanjakan. Mengapa? Ya, memang manusia hakikatnya ingin dimanja dengan kebutuhan fisiologisnya.
Itulah mengapa, tanpa ada setan pun, laki-laki bisa tersedot oleh ranumnya pipi dan merekahnya bibir wanita. Tanpa setan pun, laki-laki bisa menelan ludah tatkala melihat bodi wanita yang semlohai dan menonjolkan lekuk-lekuknya–terlebih dengan pakaian transparan. Sebaliknya, tanpa setan pun, perempuan bisa “meriang” melihat laki-laki yang macho, alpha-male, dan memiliki kelebihan tertentu. Terlebih jika mereka bertelanjang dada, itu bisa bikin gemetar dan lemas.
Kemudian, andaikata mereka berduaan, tanpa setan pun, katoda menginginkan anoda dan sebaliknya. Jika saling pandang terlalu lama, tanpa setan pun, akan ada aliran aura tubuh keduanya yang saling bersinggungan, dan jika matched, keduanya berproses ke langkah selanjutnya, yakni saling menyentuh. Bersentuhan fisik, tanpa setan pun, menyebabkan bertemunya dua permukaan kulit yang berbeda kekuatan listrik–dan menimbulkan reaksi dan getaran tertentu. Semakin lama bersentuhan, semakin deras aliran listrik yang saling dipertukarkan.
Jadi, tanpa setan pun, laki-laki berduaan dengan perempuan lazimnya bisa mengarah ke pemenuhan kebutuhan fisiologis, khususnya kebutuhan seksual, mulai yang ringan semacam berpegangan tangan hingga yang berat semacam hubungan suami-istri. Jangan salahkan setan, sebab setan bisa berguman: “Loe yang enak, gue yang disalahin.” Sementara, tatkala terpuaskan, akan meminta pemenuhan lebih, bahkan pemanjaan, laksana minum air lautan. Ada semacam sensasi ketagihan yang menuntut pemanjaan sewaktu-waktu.
Maka, laki-laki dan perempuan dewasa ada baiknya mengurangi makan makanan berhormon tinggi. Louis Farakhan, pemimpin Black Moslem AS, pernah menulis dalam bukunya A Torchlight for America, bahwa anak-anak Amerika lebih cepat “dewasa” secara seksual akibat mengonsumsi fast-food berupa fried-chicken (dengan aneka brand). Ternyata, ayam-ayam fried-chicken itu mengandung hormon aktif yang membangkitkan kondisi hormonal anak-anak. Akibatnya, mereka lebih cepat dewasa dari usia sesungguhnya. Farakhan pernah menuding perusahaan-perusahaan fast-food itu sebagai stimulus bagi percepatan naiknya angka aborsi.
Bisa dipahami, mengapa para pelaku zuhud biasanya berpuasa, dan tidak mengonsumsi makanan bernyawa—termasuk para sufi, pendeta, dan pertapa. Buah-buahan dan sayur-mayur bagi mereka lebih menjinakkan jasad. Dengan jenis makanan demikian, reaksi kimiawi hormonal diri terhadap sari makanan bisa terminimkan atau tertiadakan. Begitu pun puasa, menyebabkan orang lapar, dan pada taraf tertentu juga bisa melemahkan kerja homon seksual.
Maka, secara sederhana, jika Anda tergiur sampai gila pada lawan jenis (gender), sebagaimana Dulgemuk kesengsem pada Rosalina, tak perlu mengambing-hitamkan setan. Cukup tanyakan pada diri sendiri apakah Anda punya rem cakram untuk tidak membiarkan sinar aura dan ion-ion jasad Anda berinteraksi dan bertransaksi dengan milik si dia. Jika punya rem cakram Anda selamat, jika punya rem tromol Anda masih akan selamat. Namun, jika Anda tidak punya rem, waspadalah, Anda akan bisa masuk siaran TV.[]
*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Unesa Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.







