Cleopatra Muda

Kejatuhan dan keruntuhan sebuah kerajaan itu berawal dari ketidakberesan hubungan antara para punggawa kerajaan yang masih sanak saudara. Cleopatra telah mencium semuanya setelah beberapa malam yang lalu dia mendapati ular cobra bersarang di kamarnya dan hendak membunuhnya.

“Usqutil malik, idzhab ila Roma!”, “Jatuhkan raja dan pergi saja ke Roma!”, slogan yang semakin ramai diteriakkan oleh semua rakyat Mesir akibat fitnah yang mengatakan kalau raja Ptolemeus bersekongkol dengan Roma. Homles, penasehat kerajaan mendekat kepada Ptolemeus dan berkata padanya, “lebih baik baginda pergi ke Roma, sebelum rakyat melakukan kudeta”.

Ptolemus marah besar, “siapa yang selama ini menyebarkan fitnah bahwa aku bersekongkol dengan Roma. Kepergianku ke sana beberapa bulan lalu adalah untuk urusan diplomasi dan demi rakyat Mesir, siapa dia, ku penggal kepalanya!”. Homles berusaha menenangkan Ptolemeus, “Saya tidak bisa memaksa baginda, tetapi terkadang akal harus mengalah dengan fakta, terlalu banyak rakyat yang menginginkan baginda meninggalkan Mesir”.

“Cleopatra, aku tidak kuat dengan suara sumbang itu. Aku sangat mencintai Mesir. Mesir adalah aku. Tetapi kita harus pergi ke Roma untuk kebaikan negeri ini”, dengan nada sedih Ptolemus mendekap Cleopatra dan menjelaskan kehendak kepergiannya. “Amruka ya abiy”, “aku akan mengikutimu wahai ayah”. Ya, semakin hari suara “usqutil malik, idzhab ila Roma” semakin sampai di pojok-pojok kota Iskandaria.

Dion, orang bayaran Bernies telah berhasil menghasut hampir seluruh rakyat Mesir untuk menurunkan raja saat Ptolemeus dan Cleopatra mengadakan kunjungan ke negara Roma. Ketika dalam perjalanan menuju pelabuhan Iskandaria. Cleopatra telah mencium sesuatu yang tidak beres, terutama dari kakak perempuannya sendiri, Bernies. Ada nada kebencian di wajah kakaknya terhadap dirinya.

“Ada yang salahkah dengan kelakuanku selama ini kepadamu, ya ukhti”, Cleopatra membuka pembicaraan serius sebelum meninggalkan Iskandaria. “Kamu nanti akan tahu sendiri Cleopatra!”, jawaban singkat Benies dengan wajah dingin. Cleopatra punya segalanya. Kecerdasan, kecerdikan dan kecantikannya menjadikan semua orang takluk padanya. Tidak hanya mereka para anak menteri raja, seorang pemuda miskin-pun rela bertekuk lutut dihadapannya.

Ya, pemuda itu bernama Kari, pemuda miskin dari pinggiran kota Iskandaria. “Ya kary, la tadzhab anny”, Cleopatra menggertak ke rumah Kari ketika dirinya bermimpi Kari telah telah meninggalkan dirinya selamanya dengan menenggelamkan diri di laut. Kari tahu Cleopatra akan pergi ke Iskandaria dan dia hanya bisa meniup seluring kesayangannya di rumah sambil membayangkan sesuatu yang tak mungkin dia miliki, Clopatra kekasihnya.

Memasuki Roma, mereka disambut langsung oleh seorang pemuda di rumah konsul Roma, Pompey. “Ahlan ila Roma ya malika mishr”, “selamat datang ke Roma wahai pemimpin mesir”. “Ana kenus pompius ya sayyidy”, seorang pemuda memperkenalkan diri kepada raja Ptolemeus. “Marhaban ayyatuhal malikah, Cleopatra”, pemuda itu melanjutkan dengan manyapa lembut ratu Cleopatra yang masih muda.

Cleopatra hanya tersenyum yang dalam senyumnya menyimpan beribu tanya pada siapa saja yang melihatnya. “na’am, anta haqqan ibnu konsul Pompey!”, “kamu pasti anak dari konsul Pompey”, dengan nada heran Ptolemeus menebak pemuda itu. “Na’am ya sayyidy”, “betul sekali”, ucap pemuda dengan penuh wibawa. Ptolemeus memuji Kenus yang semakin dewasa, terakhir melihatnya saat itu dia masih kecil dan suka bermain di halaman istana ketika konsul Pompey berbincang santai dengan Ptolemeus.

“Aina abika ya Kenus?”, Di mana ayahmu wahai kenus?”, “huwa fi majlisis Syuyukh ya sayyidiy”, “dia sedang rapat di anggota parlemen Roma”. Cleopatra tetap diam dengan pandangan matanya yang tajam terhadap Kenus. Rupanya Kenus ada rasa pesona dalam dirinya ketika menengok Cleopatra kembali. Di Iskandaria. Bernies bertemu dengan Dion dan kahanatul ma’bad. Dengan terusirnya Ptolemus dan Cleopatra, secara otomatis posisi pimpinan kerajaan Mesir kosong.

“Saakunu malikatan ya Dion”, “aku akan menjadi ratu wahai Dion”. “Walakin ya sayyidati…”, Dion memotong perkataan Bernies dan menjelaskan kalau budaya Mesir selama ini, seorang perempuan tidak bisa menjadi ratu jika dirinya belum menikah. “Indy akhi ya Dion, saukunu malikan ma’a Ptolemeus XIII”, “aku memiliki saudara wahai dion, aku akan menjadi ratu dengan Ptolemeus XIII”.

Dion tetap melanjutkan alasan keberatan dirinya jika Bernies langsung mengambil posisi ratu Mesir, “Ptolemeus XIII belum bisa menjadi raja ya Sayyidati, dia terlalu kecil umurnya”. Dion memberi saran kepada Bernies untuk menikahi seorang keturunan kerajaan di Syiria. “Hadhir ya dion”, “Oke Dion, besok nikahkan diriku dengannya di altar kahanatul ma’bad”.

Demi ambisinya yang menggebu untuk menjadi firaun Mesir, Bernies rela menikah dengan seseorang yang belum dia kenal, dia hanya mempercayai omongan Dion, orang yang selama ini menjadi musuh dalam selimut ketika Mesir masih dipimpin Cleopatra dan Ptolemeus XII. Akibatnya bisa ditebak, Mesir yang sudah melemah semakin melemah dengan mlempemnya pemimpin yang saat ini dikuasai oleh Bernies dan suaminya yang ternyata orang yang tidak bisa diandalkan.

Homles, penasehat kerajaan buru-buru pergi ke Roma untuk bertemu dengan Ptolemeus dan Cleopatra untuk mengabarkan perkembangan Mesir setelah ditinggalkannya. Ketika bertemu, Homles langsung menunjukkan kejutan yang tidak pernah diduga oleh Ptolemeus, “anta ta’rif ya sayyidy, man fi hadzihis shuroh?”, “kamu tahu wahai raja, siapa yang ada di gambar ini?”, Homles menunjukkan uang koin emas Mesir kepada Ptolemeus. “La..la..la..la yumkin, hadzihi hiya ibnaty, Bernies!”, “tidak..tidak..tidak mungkin, gambar ini adalah gambar anakku, benies!”.

Innaha khoinah!”, “dia adalah pengkhianat”, ketidakpercayaan berubah menjadi kebencian yang sangat mendalam di hati Ptolemeus. “Aku tidak bisa membantumu secara militer sebelum mendapatkan izin dari semua anggota parlemen Roma, wahai Ptolemeus”, konsul Pompey menjelaskan panjang lebar ketika Ptolemeus meminta kepadanya untuk merebut kembali kekuasaannya di Iskandaria.

Aku akan mengadakan rapat malam ini dan besok engkau akan tahu hasilnya. “na’am ana a’rif, hadzihi hiya demokratiah ayyatuhal konsul”, “iya, saya mengerti, inilah demokrasi wahai tuan konsul”. “Besok aku akan menemukanmu dengan Gabinius, panglima utama perang Roma”, kata Pompey. Pompey memberikan kabar gembira kepada Ptolemeus keesokan harinya sambil mengajak Gabinius untuk hadir, namun dia memberikan syarat, “Roma pasti bisa mengembalikan singgasana yang tuan miliki, namun kami perlu biaya perang”, konsul Pompey menjelaskan.

“Majlisis syuyukh meminta 10 ribu keping emas untuk biaya itu”. “Aku bernjanji akan memberikan lebih dari itu, jika Roma mampu mengembalikan Iskandaria ke pangkuanku kembali”, Ptolemeus begitu mantap dengan jawabannya. “Wallailu yakhjalu min bahaiki ayyatuhal Cleopatra”, “malampun malu dengan keanggunanmu wahai Cleopatra”, di tengah kesibukan Ptolemeus merembuk untuk mengembalikan singgasananya, Cleopatra mempunyai cara lain untuk itu, dengan menaklukkan Kenus.

Kenus telah bertekuk lutut dihadapannya dengan kata pujian untuk Cleopatra itu yang keluar dari mulutnya. Kenus adalah aset jika nantinya Cleopatra menjadi ratu Mesir kembali. Cleopatra dan Kenus bergabung bersama ayah keduanya setelah bermesraan di ujung kota Roma. Mereka semua berkumpul dan konsul Pompey memberikan lampu hijau kepada Cleopatra dan Ptolemeus, “idzhab ila Syiria, hunaka katsirun min jundi Roma”, “Pergilah kalian ke Syiria, di sana sangat banyak sekali tentara Roma”.

“Pasukan Roma akan mengantarkan baginda dan Cleopatra hingga ke sana”, Gabinius membuka pembicaraan dan berjanji akan memberikan perlindungan kepada Ptolemeus dan yakin akan bisa menaklukkan Iskandaria, Syiria saat ini adalah wilayah bagian dari Roma. “Kami memiliki panglima perang yang sangat ditakuti dunia, dia bernama Mark Antony, selama dia memimpin perang Roma, tidak satupun gagal menaklukkan daerah kekusaannya.

Pasti dia akan berhasil”, Gabinius terus melanjutkan pembicaraannya dengan kemantapan penuh dari wajahnya. Mereka pergi ke Syiria dan bertemu dengan Antony. “Marhaban ya sayyidy, Malik mishr wa sayyidati Cleopatra”, Antony menaruh hormat kepada Ptolemeus dan Cleopatra. Dia telah mengetahui perihal tentang kedatangan Ptolemeus dan Cleopatra. Bernies kalut dengan adanya kabar penyerangan dari ayah dan adiknya atas bantuan Roma.

Dia tidak bisa berbuat banyak. Pasukan Roma membantai habis-habisan para tentara Mesir. Bahkan, Bernies akhirnya dihukum penggal oleh Ptolemeus ketika tentara Roma berhasil menerobos pertahanan terakhir Iskandaria. Ptolemeus telah berhasil memegang kursi kekuasaan Mesir kembali. Nama Cleopatra semakin ramai terdengar di seantreo Mesir. Para pengkhianat kerajaan yang dulu merongrong kekuasaan dirinya bersama ayahnya telah mati dengan penyerangan Roma. Wajah sinis Bernies ketika dia hendak pergi ke Roma telah terjawab sekarang.

“Tidak ada yang abadi di dunia ini wahai putriku. Seluruh raja-raja telah meninggal dan digantikan oleh orang sesudahnya. Cintai dengan tulus negerimu dan sejahterakan rakyatmu, baru setelah itu engkau bisa menguasai dunia”, Ptolemeus XII telah merasakan ajal semakin dekat menghampiri dirinya, pesannya kepada Cleopatra menjelang detik-detik kematiannya begitu dalam. “Uq’udny ila ‘arsyi!”, “dudukkan aku di kursi kebesaranku!”, dengan nada datar dia memohon kepada aparat raja untuk membopongnya di kursi raja.

“Idzhab anny kullu!”, “pergi dariku semuanya!”, Ptolemeus dengan suara yang ditinggikan ditengah ketidakberdayaannya menyuruh semua orang untuk keluar dari istananya. Tinggal dia seorang dengan kursi singgasana di depannya. Dari jauh di pintu masuk, Cleopatra hanya bisa menangis melihat ayahnya yang berada diujung ajal. Ptolemeus dengan sekuat tenaga ingin memegang kursi yang selama ini menjadikan dirinya diakui sebagai raja Mesir.

Namun, perkataannya sungguh benar, “tidak ada yang abadi di dunia ini”. Ptolemeus meninggal ketika masih berusaha untuk duduk di kursi kebesarannya.

Tinggalkan Balasan