BUKAN YANG PERTAMA (2)

Literasi527 Dilihat

BUKAN YANG PERTAMA (2)
Kamis, tanggal 25 Februari 2021
(Tantangan Menulis Hari ke-25)
Oleh
Nana Wihana
NPA : 1019200412

BUKAN YANG PERTAMA (2)

Tak terasa hari ini kegiatan Lomba Blog PGRI sudah memasuki hari ke 25. Berarti tiga hari kedepan akan selesai kegiatan tersebut. Pada artikel kali ini saya memberinya judul dengan bukan yang pertama. Artinya saya bertugas tidak hanya sekali dua kali, akan tetapi sering dan telah lama bertugas di berbagai sekolah.

“Good morning everybody, First of all I would like to introduce myself, my name etc. Saya awali pembelajaran dengan memperkenalkan diri.

It’s my first time taught here. Beforehand, I had been teaching somewhere. I had to run my duty there for three years. Now, I returned to guide all of you here.  Nice to meet you here, I enjoyed teaching here. I hoped all of you can introduce one by one in front of the class room.

All right, it’s time for all of you to introduce yourself. From name, class, address etc. Who could some of you do the first please come here!.” Saya mencoba memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk belajar berbicara. Ada seorang siswa yang mengacungkan tangan, dan siap untuk mempraktekannya.

“Hi everybody allow me to introduce myself. My name was Rudi. I lived in Patimura. My hobby was reading and writing. Setelah selesai sebagian siswa memperkenalkan dirinya. Kini saatnya untuk membahas materi selanjutnya.

“Well, students. What did you think of tenses?, saya mencoba memancing semua siswa agar bisa merespon pertanyaan saya.” Kelas tampak hening, mereka diam bukan tidak mengerti, tetapi lebih di sebabkan karena minimnya kosakata yang dikuasainya. Sebab, modal utama agar bisa berbicara adalah banyaknya kosakata yang telah dikuasainya di samping juga harus ada keberanian untuk menggunakannya.

“I was sir, I could answer that the tenses was a form of time.” Kata seorang siswa mencoba menjawabnya.

All right, very good. What else?, Who had the other answers. Kembali saya bertanya ke siswa yang lainnya. “The tenses was time sir,” seorang siswa yang duduk paling belakang mencoba menjawabnya.

Well, very good. Your answer was good.

The next question was…, how many tenses were there?,” kembali saya memacing dengan pertanyaan selanjutnya. Dan ternyata yang menjawab siswa yang sama.

Memberikan apresiasi kepada siswa yang bisa menjawab adalah suatu kewajiban, dan harus. Tidak menyalahkan secara langsung ketika mereka mejawab keliru adalah hal yang perlu dipegang erat-erat oleh seorang pendidik. Semua itu adalah usaha dalam rangka menumbuhkembangkan rasa percaya diri terlebih dahulu. Kebiasaan praktek berbicara ini harus tetap berlanjut dan konsisten menggunakan Bahasa Inggris dalam kesehariannya. Sehingga diharapkan akan lahir menjadi sebuah kebudayaan, budaya berbicara.

 

BERBAGI

Tinggalkan Balasan

3 komentar