MENATA HATI
Setiap orang pasti mengalami peristiwa yang tidak terduga baik senang maupun sedih. Apalagi jika peristiwa itu adalah peristiwa sedih secara mendadak. Tidak dapat dipungkiri jika akhirnya kita tidak dapat berfikir sama sekali.
Jenis musibah berbeda-beda, demikian juga dengan cara menyikapinya, pasti berbeda-beda. Beberapa orang akan menyalahkan keadaan atau pihak lain yang membuat seseorang bernasib buruk dan menjadi bertambah sengsara.
Ada juga yang hanya menyesuaikan diri dengan keadaan dan bersikap menunggu serta berharap penderitaan segera lewat.
Namun orang mampu menata hati tatkala dia mendapat musibah dapat mengambil sisi positif dari musibah tersebut dan menganggapkan sebagai ujian hidup yang harus diterima. Ujian tersebut sudah seharusnya disikapi dengan keiklasan namun bukan kepasrahan. Menjadikan ujian menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.
Contoh ini dapat saya petik dari pengalaman pribadi tatkala suami harus menghadap kepada Sang Pencipta. Baru saja saya video call dengan suami karena suami berada di rumah dan saya di kantor. Saya selalu menanyakan keadaannya apa baik-baik saja setelah perawatan di rumah sakit.
Suami tampak sehat dan sudah bisa menghabiskan bubur yang saya buat di pagi hari sambil tersenyum memandangi saya. Tak terbesit sedikitpun dalam benak saya suami akan meninggalkan saya selama-lamanya.
Kala itu telpon berdering. Suara isakan tangis dari putra kedua saya terdengar di telinga saya. “Mah papah sudah meninggal.”
Saya terperanjat dan berusaha menenangkannya. “Mas tenang dulu ya, mamah akan panggilkan mantri yang merawat papah untuk memastikan ya”
Dengan menahan tangis saya menghubungi mantri yang tinggal di komplek Angkatan Laut.
Tidak lama kemudian putra saya menelpon kembali dan memberi tahu bahwa papahnya benar-benar sudah meninggal. Sambil masih terisak-isak dia menjelaskan kejadiannya.
“Mah papah tiba-tiba dadanya sesak dan minta untuk dibawa ke rumah sakit. Papah masih bisa menuruni tangga untuk segera menuju mobil. Kemudiah papah duduk di depan sambil merebahkan kepalanya di sandaran kursi. Ketika aku meletakkan tabung oksigen di belakang mobil, aku melihat kepala papah jatuh di kursi ditempat biasa aku duduk sebagai sopirnya. Aku angkat papah di pangkuanku dan aku mendengar hembusan terakhir papah dengan suara batuk yang tertahan. Aku melihat air bening keluar dari hidung papah. Dan nafas papah sudah tidak ada Mah.”
Saya terus mendengarkan penjelasannya sambil terisak-isak.
“Mas tunggu mamah ya. Yang sabar ya mas. “
Saya berusaha menenangkan putra saya sambil mengusap air mata yang membasahi baju seragam saya. Saya masih dapat mengontrol emosi saya dan berusaha mencari kendaraan juga driver yang dapat mendampingi saya pulang.
Allah SWT yang memberikan kehidupan dan kematian masih menyayangi saya. Senior di institusi yang sama tapi berbeda bagian segera menawarkan diri untuk mengantar saya pulang. Dalam perjalanan pulang, saya masih menangis namun saya berusaha menenangkan diri untuk berfikir lebih logis.
Saya segera berfikir, suami akan dimakamkan dimana. Dalam suasana covid saat ini tidak mudah untuk mendapatkan tempat pemakaman bagi suami walau suami tidak terkena covid.
Tiba-tiba saya teringat makam putra pertama saya di Pondok Rangon. Putra pertama saya telah meninggal hampir 11 tahun. Saya segera memutuskan tempat pemakaman suami ditempat yang sama di Pondok Rangon untuk menjadi satu dengan almarhum putra pertama saya.
Saya segera meminta bantuan senior saya untuk membelokkan mobilnya ke kantor pemakaman di Pondok Rangon. Staf disana menunjukkan berbagai administrasi yang harus dilengkapi.
Saya meneruskan perjalanan pulang sambil memikirkan banyak hal. Sesekali saya menangis sambil berdoa. Saya ambil kembali HP saya. Saya tonton kembali video saat terakhir ketika saya dan suami menuruni tangga. Inisiatif memvideokan adalah permintaan dia. Saya tidak tahu untuk apa. Yang jelas video itu membuat hati saya sedih.
Untuk mengungkapkan kesedihan dan kerinduan saya, jari-jemari saya mulai memencet tomboh di HP untuk sebuah puisi kepada belahan jiwa. Draf itu saya simpan di WhatsApp dalam perjalanan pulang.
Draf itu baru saya share ketika suami telah dimakamkan dan setelah selesai tahlilan hari pertama. Sungguh saya benar-benar menata hati dan menyikapi ujian sebagai evaluasi diri dan tetap menulis.
Nani Kusmiyati, SPd., M.M., CTMP.
Jakarta, 10 Februari 2021
LOMBA MENULIS PGRI
Day 10



