
raihanhabibi-cake-7190829_1280
Ramadhan: Hari-Hari yang Menenangkan Hati
Day 6 — Doa yang Dirapikan, Syukur yang Dibagikan
(Catatan Ramadhan)
Hari keenam Ramadhan saya awali dengan merapikan doa-doa. Bukan doa yang panjang, tetapi doa yang jujur. Saya memohon agar saya dan putra saya selalu sehat, dilindungi Allah SWT di setiap langkah, dan dijauhkan dari hal-hal yang melemahkan lahir maupun batin. Saya juga menyelipkan satu harapan: semoga setelah Lebaran nanti, ada kabar baik untuk kembali mengajar. Saya serahkan semuanya dengan tenang—jika waktunya tepat, Allah pasti membuka jalannya.
Pagi hari selepas salat Subuh, saya membantu sahabat untuk membeli kue nastarnya. Tidak harus menunggu Lebaran untuk berbagi rasa manis. Selain membantu usaha teman, putra saya juga bisa menikmati kue tersebut saat berbuka puasa, ditemani teh atau kopi hangat. Ada nada kegembiraan yang terasa ketika pesanan itu berhasil—kegembiraan sederhana, namun menguatkan.
Hari itu, sahabat lain menelepon hampir satu jam. Ia bercerita tentang perjuangannya memenuhi kebutuhan bulanan, tentang dinamika hubungannya dengan sang putri yang tidak selalu mudah, dan tentang kepahitan yang harus ia telan ketika perilaku anaknya tak sesuai dengan harapannya. Saya mendengarkan, pelan dan penuh empati. Sebagai sahabat, saya hanya bisa memberi semangat. Saya percaya, doa seorang ibu untuk anak-anaknya adalah doa yang tidak pernah sia-sia—pelan, namun mampu mengubah arah kehidupan.
Saya juga bersyukur. Semalam kami mendapat kiriman durian dan pizza. Hari ini saya memilih berbagi pizza kepada tetangga agar bisa dinikmati bersama. Untuk kami berdua, rasanya sudah lebih dari cukup. Durian saya simpan di kulkas, dinikmati sedikit demi sedikit sebagai selingan—tidak berlebihan, sekadar cukup.
Di sela hari, saya menyempatkan diri belajar bahasa Inggris selama tiga puluh menit. Waktu singkat, namun berarti. Belajar menjadi salah satu cara saya merawat diri dan harapan.
Menjelang sore, saya memutuskan tidak memasak. Berbuka hari ini cukup membeli makanan di luar—lebih hemat tenaga dan pikiran. Menjelang magrib, rumah terasa ringan. Tidak ada yang ditumpuk, tidak ada yang dikejar.
Hari keenam ini saya tutup dengan satu keyakinan:
selama doa dirapikan dan syukur dibagikan, hati akan selalu menemukan jalannya pulang.
Jonggol, Selasa, 24 Februari 2026
Nani, pecinta literasi
Self Reminder
“Doa yang paling kuat sering kali lahir dari hati yang pasrah.”
“Berbagi tidak selalu mengurangi; sering kali justru melapangkan.”
“Ketika seorang ibu berdoa, langit mendengarkan dengan cara yang paling lembut.”



