Day 11 Syukur yang Dipeluk Lebih Lama

Catatan Ramadhan

Ramadhan2 Dilihat

Jigsawscapes

Day 11 — Syukur yang Dipeluk Lebih Lama

(Catatan Ramadhan)

Hari kesebelas Ramadhan saya jalani dengan perasaan yang lebih pelan.
Ada syukur yang ingin saya peluk lebih lama hari ini—bukan karena nikmat bertambah, melainkan karena hati diajak melihat lebih dalam.

Entah mengapa, pagi ini saya ingin menyapa sahabat sesama penulis. Dari percakapan dengannya, saya merasakan betapa hidup yang ia jalani tidaklah mudah. Ia hidup sendiri, tinggal di kontrakan yang sempit, makan ala kadarnya. Di bulan puasa ini, ia hanya mengandalkan singkong rebus dan minuman hangat yang menenangkan. Ia tidak bekerja, namun tetap bertahan.

Saya terdiam. Tidak terbayangkan oleh saya bagaimana ia menjalani hari-harinya. Ia menggantungkan hidup pada pertolongan Allah SWT—melalui keponakan yang peduli, dan sesekali uluran tangan orang lain. Mendengar ceritanya, ada rasa penyesalan yang menyelinap di hati saya. Terkadang, saya masih merasa belum cukup meski menerima gaji pensiun setiap bulan.

Saya menyadari, masih sering memutar otak untuk mencari tambahan dana—agar bisa berjalan-jalan, bersilaturahmi, dan membantu keluarga. Padahal, Allah masih memberi jalan. Alhamdulillah, sebulan sekali masih ada tambahan pemasukan di luar gaji pensiun karena saya masih menguji mahasiswa.

Dalam percakapan itu, seolah ada dorongan lembut yang menggerakkan hati saya—dan saya tahu, itu datang dari Allah SWT. Saya meminta nomor rekening sahabat saya, lalu mentransfer sejumlah dana untuk membeli sembako. Tidak banyak, namun saya berharap bisa sedikit meringankan. Saya juga mengecek rekening saya sendiri—masih cukup hingga awal bulan. Saya pun menyisihkan sebagian untuk keponakan yang memiliki bayi.

Ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Bukan karena merasa mampu, tetapi karena diberi kesempatan untuk membantu.

Sahur hari ini masih sama—menu berbuka yang dihangatkan: soto daging. Saya merebus telur sebagai tambahan. Air putih hangat menemani, sederhana dan menenangkan.

Hari kesebelas ini mengajarkan saya bahwa syukur tidak selalu berhenti pada menerima. Kadang, syukur menemukan bentuknya yang paling jujur ketika dibagikan.

Jonggol, Minggu, 1 Maret 2026
Nani, pecinta literasi

Self Reminder

“Syukur yang paling dalam sering lahir ketika kita melihat kehidupan orang lain.”

“Bukan seberapa besar yang kita beri, tetapi seberapa tulus kita mengikhlaskan.”

“Ketika hati digerakkan untuk berbagi, itu tanda Allah sedang menitipkan amanah.”

 

Tinggalkan Balasan