
Menjadi MC Bedah Buku Anthologi Puisi Gizi
Pertama kali saya diberi tahu oleh bapak Haji Thamrin Dahlan untuk menjadi MC Bedah Buku Anthologi Puisi Gizi, saya merasa sedikit kaget bukan karena harus menjadi MC namun lebih kepada judul buku yang menurut saya baru kali ini saya mendengarkannya. Anthologi Puisi biasanya membahas tentang rasa sedih dan suka dari seorang penulis misalkan tentang kenangan, kerinduan, pengorbanan dan impian. Namun kali ini bapak Abraham Raubun bersama-sama sahabat-sahabatnya menuliskan sesuatu yang berbeda. Walau saya belum memiliki buku tersebut namun saya telah mendapat gambaran tentang buku tersebut dari pemaparan beliau juga dari kedua pembahas bedah buku bapak Dr. Anang Muftiadi dan bapak Antonius Sri Hartono, MPS.
Penulis dan para pembahas ternyata masih berteman sesama angkatan dan ada juga yang jadi adik kelas. Namun saya belum tahu pasti secara detail tentang persahabatan mereka karena saya masih terfokus dengan buku anthologi puisi tersebut.
Menarik sekali jika mendengarkan alasan mengapa bapak Abraham Raubun bersama-sama sahabat-sahabatnya menuliskan puisi tersebut. Diusia menjelang tujuh puluh tahun mereka mewujudkan hasil karyanya dalam bentuk puisi yang didalamnya terdapat berbagai makanan dan nama buah-buahan serta sayuran yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh yang dikemas menjadi puisi akrostik yang menarik. Walau saya pernah mendapatkan pelajaran tentang puisi akrostik tersebut dari WCS (Writing Class School), namun belum pernah terpikir untuk membuat puisi tentang buah-buahan dan sayur-sayuran yang bergizi bagi tubuh.
Jika tulisan itu hanya dikemas seperti artikel biasa tentang manfaat gizi mungkin kita sudah sering membaca dari internet atau buku tentang gizi. Namun menjadikan informasi tentang gizi sebagai puisi akan sedikit berbeda.
Buku puisi tersebut dapat menjadi langkah awal terbitnya buku puisi-puisi lain dengan tema yang berbeda namun berdasarkan fakta disekeliling kita yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Buku puisi tersebut memiliki pesan bahwa kita harus memperhatikan kesehatan kita untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran yang dapat kita jumpai sehari-hari dan dengan harga terjangkau. Bahkan dijaman modern seperti sekarang, buah-buahan dan sayur-sayuran tersebut sudah dikemas menjadi makanan bernutrisi berupa kapsul yang memiliki nilai jual tinggi.
Buah-buahan yang terdapat dalam buku tersebut diantaranya buah tomat, ceplukan dan sayuran seperti daun kelor dan Pare. Sebenarnya masih banyak lagi jenis buah-buahan dan sayur-sayuran juga makanan yang bergizi lainnya yang terdapat dalam buku puisi gizi tersebut.
Beberapa masukan yang disampaikan oleh kedua pembahas, bapak Dr. Anang Muftiadi dan bapak Antonius Sri Hartono, MPS juga sangat bermanfaat. Bapak Dr. Anang Muftiadi lebih menekankan dari segi akademis tentang buku tersebut seperti sasaran penerima informasi dari buku puisi tersebut yaitu apakah untuk kalangan terbatas, masyarakat luas atau umum, kelompok tertentu dan apakah buku puisi tersebut ditujukan untuk jangka waktu pendek (short term) atau jangka panjang (long term). Beliau juga menjelaskan pilihan media yang digunakan dalam menyampaikan pesan tentang gizi yang dapat berupa buku, artikel, story telling, puisi atau bahkan video.
Bapak Dr. Anang Muftiadi menyarankan puisi gizi tersebut dapat disampaikan melalui video karena akan tampak jelas rima puisi jika dibacakan dengan lantunan indah dan ekspresi, sehingga penikmat puisi dapat menikmati keindahannya juga pesan yang terkandung di dalamnya.
Sementara bapak Antonius Sri Hartono, MPS benar-benar mengupas tuntas tentang buku tersebut. Beliau membahas tentang beberapa gambar sebagai pendukung dari puisi agar diperjelas sehingga pembaca dapat mengetahui dengan benar buah tersebut, sebagai contoh buah ceplukan yang sebagian besar pembaca yang di daerahnya tidak ada buah ceplukan, maka akan tidak mengetahui gambaran tentang buah ceplukan tersebut. Gambar yang ditampilkan seharusnya ada buah ceplukan yang sudah terbuka dan tidak hanya dibungkus daun.
Beliau juga menyoroti tentang beberapa puisi yang terdapat dalam sub bab buku puisi gizi tersebut yaitu puisi tentang covid-19 yang tampaknya kurang pas jika dimasukkan dalam tema yang terdapat dalam buku puisi gizi karena bukan kelompok makanan.
Penulisan kata-kata yang masih belum lengkap atau masih berdempetan karena tidak adanya spasi juga menjadi perhatian bapak Antonius. Beliau menjelaskannya dengan sedikit canda namun serius yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Masih banyak lagi yang di bahas oleh bapak Antonius yang kemudian mendapat tanggapan dari penulis buku.
Bapak Abraham mengakui tidak mudah untuk menjadi kurator yang harus membaca ratusan atau bahkan ribuan kata. Beliau juga menyadari perlu adanya chek dan recheck sebelum tulisan di submit ke penerbit. Beliau juga membutuhkan editor yang dapat membantu dalam hal teknis penulisan dan untuk menemukan kesalahan-kesalahan lainnya.
Program webinar ke-15 yang diwadahi oleh Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan sangat bermanfaat untuk para penulis untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari buku tersebut.
Kata salut yang dapat saya ucapkan kepada penulis buku dan pembahas yang tampil begitu santai dan menarik dalam mempresentasikan ide-idenya. Usia bukanlah menjadi penghalang untuk berkarya. Menulis adalah salah satu obat atau bahkan vitamin untuk tetap awet muda dalam berfikir positif karena tua adalah kodrat namun merasa tua adalah pilihan seperti dikatakan bapak Abraham.
Untuk melengkapi informasi tentang bedah buku Anthologi Gizi, akan saya berikan contoh puisi yang ditulis oleh bapak Djoko Sutopo salah satu sahabat bapak Abraham yang ikut menulis. Puisi berikut belumlah lengkap karena saya hanya mencupliknya dari yang dipaparkan.
Puisi yang berjudul, “KELOR”, karya bapak Djoko Sutopo.
Kaya manfaat berkat serat, vitamin, mineral anti oksidan ….
Efeknya bukan kepalang, kadar kolesterol darah diturunkannya, sel kanker dilibasnya hingga tak lagi mampu berkembang,..
Luluran daun kelor diyakini dapat menyehatkan dan menghaluskan kulit untuk urusan kecantikan, mempesona yang jadi idaman ….
Rebusan daun kelor juga berguna bagi orang dewasa karena dapat menghambat proses datangnya penuaan …
Inilah cuplikan dari salah satu puisi yang terdapat dalam buku Anthologi Gizi.
Memang masih ada yang perlu diperbaiki dengan penempatan kata-kata agar keindahan puisi akrostik dapat terbaca dan dirasakan.
Nani
Jonggol, 1 September 2021
Artikel ke – 12 Lomba KMAA







Luar biasa mbk.. berpuisi tema gizi. Setuju menulis adalah satu obat atau bahkan vitamin.yuik kita menulis..
Ayuk…