KMAB- Day 3: Hikmah Khutbah Ustadz Adi Hidayat “Perenungan Mendalam Khotbah Iedul Adha” Pada Tanggal 9 Juli 2022 atau tepatnya 10 Dzulhijjah 1443 H.

Peristiwa, Terbaru2151 Dilihat

Dalam Khotbahnya Ustadz Adi Hidayat menyampaikan bahwa: “Tidak akan ditemukan dalam perputaran hari selama 1 tahun”. Saat amal sholeh dikerjakan di hari itu nilainya lebih tinggi di sisi Allah dan naik statusnya menjadi dicintai oleh Allah SWT. Itulah 10 hari pertama di bulan awal Dzulhijjah. Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, bertanya: “Ya Rasullullah”: “Apakah jihad fi sabilillah tak mampu menggungguli itu?”. Nabi Muhammad SAW menjawab: “Bahkan jihad fi sabilillah pun tidak mampu menggungguli keutamaan di 10 hari pertama di awal bulan Dzulhijjah itu, Kecuali seorang pejuang yang berjuang jiwa dan hartanya untuk Allah SWT, sampai hari dimana ia diwafatkan Allah Subhanahu Wata’ala”.
Puncaknya 10 hari di bulan Dzulhijjah itu yang disebut dengan Ieduladha atau yang disebut Iedul Qurban. Ied dalam bahasa Arab berarti kembali, yaitu kembali ke asal mula. Tempatnya disebut dengan Ma’ad, waktunya disebut dengan Mi’ad. Dimana suatu saat nanti kita akan kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala Sang Pencipta kita. Sungguh yang telah memfardhukan kepada engkau Muhammad SAW, dan sampaikan, viralkan kepada seluruh umatmu yang telah memfardhukan kepadamu seluruh ketentuan dalam berkehidupan dalam Al-Qur’an itu kelak pasti akan mewafatkanmu dan mengembalikanmu ke tempat kembalimu. Artinya Setiap kita suatu saat akan wafat atau dikembalikan kepada Allah SWT. Seiring berputarnya waktu, kita pasti akan kembali kepada Allah SWT. Sungguh Allah SWT, tidak akan mengingkari janji-Nya bahwa setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Pemiliknya, yaitu Allah SWT. Saat kembali itu di sebut Ied.
Maka Ied merefleksikan pesan kepada kita bahwa waktu kita kembali berputar dan puncaknya kembali kepada Allah SWT Pemilik tempat dan waktu. “Tapi akankah setiap hamba yang akan berpulang kepada Allah akan mendapatkan ampunan dari Allah?”. “Apakah setiap hamba yang kembali memiliki bekal yang cukup untuk mendapatkan rahmat-Nya Allah?”. “Akankah setiap yang berpulang akan mendapatkan ampunannya Allah?”.
“Apakah setiap hamba yang berpulang akan mendapatkan husnul khatimah?”. Sebelum kita menjawab Allah sudah menginginkan terlebih dahulu setiap hamba yang berpulang memiliki kedekatan dengan Allah SWT. Setiap hamba yang berpulang mesti mendapatkan rahmat-Nya Allah SWT. Setiap hamba yang berpulang mesti mendapatkan ampunan Allah SWT. Dekat, kedekatan yang berlebih dalam bahasa Arab di sebut Qurban atu Quroba artinya mendekat.
Iedul Qurban adalah latihan untuk kita membangun kedekatan yang berlebih kepada Allah SWT. Saat tiba waktunya kita untuk pulang yaitu lebih dekat dengan Allah. Bukan hanya momentum duduk, melaksanakan shalat Iedul Adha 2 raka’at dan mendengarkan khutbah.Tetapi ada hal yang lebih penting dari itu, bagaimana kita sebagai hamba Allah bisa mengenal, merenungi kehidupan yang kita jalankan ini, apakah membawa pada keabaikan bagi diri kita dan orang lain sebagai bekal kita untuk kembali pulang menghadap kepada Allah SWT.

Untuk melahirkan sifat Qurban yang berkualitas, Maka Allah memberikan kesempatan hamba dengan 3 (tiga) Jalan yang berbeda tetapi serupa esensinya :

1. Di undang langsung oleh Allah untuk menunaikan Ibadah Haji. Dalam pelaksanaan ibadah haji hakekatnya ada pada momentum Arafah. Di Arafah, jamah yang melaksanakan ibadah haji bukan sekedar datang, duduk, dan diam. Tetapi ada wukuf, yaitu kegiatan berkontemplasi atau melakukan perenungan diri, mengenal diri, mengenal Allah sehingga melahirkan kualitas diri untuk dekat dengan Allah SWT. Essensi Haji Arafah puncaknya adalah membangun kedekatan diri kepada Allah. Dalam pelaksanaan wukuf, kita dianjurkan untuk memperbanyak do’a dan berdoa menghadap kiblat hingga matahari terbenam. Bertobatlah dari dosa-dosa, dan menangislah mengharap ampunan Allah. Sesalilah semua kesalahan dan sibukkanlah diri dengan berdzikir untuk mendekatkan kepada Allah. Di hari ke-9 Dzulhijjah kegiatan ini dikerjakan. Mendekati Di hari ke-10 Dzulhijjah di Muzdalifah, hingga saat melempari Jumrah Aqabah. Berangkat dari Muzdalifah, sesudah sinar matahari terang, tetapi sebelum matahari terbit. Melempari Jumrah Aqabah antara matahari terbit sampai dengan matahari tergelincir, sambil membaca Allahu Akbar pada tiap-tiap melemparkan anak batu. Essensi kegiatan melempar jumrah adalah untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang melekat dalam tubuhnya. Ketika pelaksanaan itu sudah selesai dilanjutkan dengan melaksanakan penyembelihan hewan qurban. Di dalam penyembelihan hewan qurban, jamaah yang melaksanakan penyembelihan dilarang untuk memotong kuku dan bercukur, sampai proses penyembelihan hewan qurban dilaksanakan.

Surah: QS. Al-Baqarah Ayat 197:

• اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

197. (Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!

2. Berqurban. Kegiatan ini dilakukan oleh orang yang tidak berhaji tetapi ingin melaksanakan qurban atau penyembelihan hewan. Essensi berqurban di sini adalah ketika proses penyembelihan berlangsung, maka pengkurban akan membayangkan bahwa di dalam mengalirnya darah hewan yang disembelih, pengkurban harus bertekad untuk meninggalkan sifat-sifat yang dimiliki hewan seperti; menahan nafsu yang tidak baik, meninggalkan perbuatan yang di larang oleh Al-Qur’an, dan meninggalkkan kemaksiatan lainnya. Maka di sinilah pembersihan diri dari dosa-dosa dilakukan, melakukan introspeksi diri, menyesali perbuatan dosa-dosa yang dilakukan dan kemudian bertaubat kepada Allah untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi.

Surah: QS. Al-Hajj Ayat 37:

• لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

37. Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

3. Melaksanakan Puasa Di Bulan Dzulhijjah pada tgl 9 Dzulhijjah.
Melaksanakan ibadah puasa, bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi kita juga diminta untuk mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah haji di Arafah yaitu melakukan instrospeksi diri, menyesali segala perbuatan dosa-dosa yang dilakukan, memohon ampun, bertaubat, dan memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Landasan Hadistnya:
Rasululullah SAW bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
Artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)

Imam Al Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin mengutip hadits riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Abbas.

Rasulullah SAW bersabda:

“‘Tiada ada hari yang amal sholeh, lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 hari pertama bulan Dzulhijjah).’ Sesungguhnya berpuasa satu hari di dalamnya membandingi berpuasa satu tahun. Melakukan Sholat malam di dalamnya membandingi sholat malam pada malam Lailatul Qadar. Salah seorang sahabat bertanya ‘Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah?’ Beliau bersabda, ‘Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid)'”.

Sumber:
1. Channel Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=kFQ09pvWHkE
Adi Hidayat Official #KAJIAN UAH# Iduladha
“Renungan Mendalam Idul Adha- Ustadz Adi Hidayat”
2. https://www.merdeka.com/quran/al-baqarah/ayat-197
3. https://www.merdeka.com/quran/al-hajj/ayat-37
4. detiknews, “Hadits Keutamaan Puasa Arafah, Amalan Utama di Bulan Dzulhijjah” selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-5109428/hadits-keutamaan-puasa-arafah-amalan-utama-di-bulan-dzulhijjah.


Tinggalkan Balasan