Batu Misterius Pemberian Dari Mbah Kani

Selamat pagi sobat,

NGETEH MORNING di pagi hari yang dingin dan masih turun hujan ini saya berbagi kisah tentang pemberian Batu Misterius dari orang yang saya anggap sebagai guru spiritual saya, bapak Haji Sukani.

Saat itu bulan Desember 1998, saya berada di kota Surabaya dan akan bersiap kembali ke Jakarta melalui penerbangan malam dari bandara udara Juanda Sidoarjo.

Beberapa hari sebelumnya saya memang sudah berada di Jawa Timur dalam rangka kegiatan reses selaku Anggota DPR/MPR RI mewakili Golongan Karya (Golkar) di daerah pemilihan saya di kabupaten Tulungagung.

Sore hari saya sudah meninggalkan hotel karena akan singgah terlebih dahulu di hotel Utami yang letaknya tak begitu jauh dari bandara udara Juanda.

Di hotel Utami menurut kawan yang mengantar saya, ada kegiatan Golkar Daerah Jawa Timur.

Sesampai di hotel Utami saya bertemu dengan kawan kawan dari Kabupaten di Jawa Timur untuk bersilaturahmi.

Namun yang agak spesial saya ditemui oleh dua pengurus Golkar dari Kabupaten Tulungagung yang terlihat lega bisa bertemu dengan saya.

Salah satunya, Bapak Rudiyanto yang juga merupakan Anggota DPRD Kabupaten Tulungagung ternyata membawa amanat dari Ketua Golkar Kabupaten Tulungagung untuk menemui saya. “Saya baru sampai tadi siang dari Tulungagung dan mbah Kani menitipkan barang untuk diserahkan pada mas” begitu kata mas Rudi, panggilan akrab dari Bapak Rudiyanto.

Heran juga saya karena saya datang ke hotel Utami ini secara mendadak tanpa direncanakan lebih dahulu namun mbah Kani nampaknya sudah tahu kalau saya akan singgah ke hotel Utami tersebut.

Mas Rudi kemudian mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kertas putih dari dompetnya dan menyerahkan kepada saya seraya membuka bungkusan kecil itu. Saya lihat ada dua buah batu yang tidak terlalu besar di dalam bungkusan itu, satu berwarna coklat dan satu lagi berwarna hitam. Mas Rudi hanya bilang batu yang hitam itu adalah fosil kayu yang sudah jadi batu. Tolong disimpan baik baik, begitu kata mas Rudi menirukan pesan dari mbah Kani.

Saat itu, mbah Kani adalah Ketua Golkar Kabupaten Tulungagung. Haji Sukani, begitu nama lengkap beliau namun masyarakat di Kabupaten Tulungagung mengenalnya dengan sebutan mbah Kani.

Purnawirawan Letkol TNI AD sudah menjabat sebagai Ketua Golkar Tulungagung sejak tahun 1971 hingga tahun 1999. Mbah Kani juga pernah menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Tulungagung dalam beberapa periode dan terakhir sebagai Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung.

Mbah Kani dikenal sebagai tokoh masyarakat Jawa Timur yang sangat disegani. Beliau dikenal juga sebagai “orang pintar” atau banyak yang menyebutnya sebagai tokoh supranatural.

Sejak mengenal beliau di awal tahun 1997 yang saat itu sudah berusia 72 tahun, saya menganggap beliau sebagai guru “kehidupan” karena ucapan, nasehat dan wejangan beliau yang sangat mengena buat saya yang saat itu masih berusia 38 tahun.

Hubungan fisik maupun batin antara saya dengan mbah Kani menjadi semakin dekat ketika musim kampanye Pemilu di tahun 1997 selama 40 hari di mana saya sebagai Caleg DPR/MPR RI di daerah pemilihan Kabupaten Tulungagung mendampingi mbah Kani mengelilingi seluruh Kecamatan di Kabupaten Tulungagung.

Di samping itu, mbah Kani mempunyai batu akik kuning yang selalu dipakai dan menurut cerita dari orang orang dekatnya, batu akik kuning itu ada “isi”nya atau “sakti” karena bisa menyembuhkan orang sakit.

Sayangnya cerita itu tak pernah bisa saya buktikan dengan mata kepala saya sendiri hingga beliau wafat di tahun 2005.

Setelah saya terpilih menjadi Anggota DPR/MPR RI yang mewakili Kabupaten Tulungagung, hubungan kami semakin akrab dan guyup. Saat reses saya selalu menyempatkan untuk sowan ke kediaman beliau untuk bersilaturahmi dan berdiskusi tentang apa saja.

Mbah Kani pun sudah menganggap saya sebagai muridnya. Hal itu terbukti, saya pernah diajak beliau untuk berkumpul bersama para muridnya di suatu tempat di pinggir kota Tulungagung yang tak banyak orang tahu.

Setelah saya pensiun sebagai Anggota DPR/MPR RI, saya tetap menjaga silaturahmi dengan mbah Kani lewat telepon. Di tahun 2004 saat saya ke Jawa Timur, saya sempatkan berkunjung ke kediaman beliau di Tulungagung.

Itulah pertemuan terakhir kami karena di tahun 2005 beliau wafat setelah solat dzuhur lalu tidur dan tak bangun lagi .. Al Fatihah untuk mbah Kani ..

Dua buah batu pemberian mbah Kani saya simpan dalam kotak kayu jati berukuran kecil. Hingga di akhir tahun 2015 saat terjadi booming batu akik di Indonesia, saya pun teringat batu pemberian mbah Kani dan berniat untuk memakainya terutama batu yang berwarna coklat.

Kemudian saya mencari cincin iketan untuk batu berwarna coklat tersebut ke tempat penjualan batu akik di Pasar Segar Depok yang pada saat itu masih sangat ramai dikunjungi orang. Sedangkan batu yang berwarna hitam saya ikat dengan cincin yang saya beli di kios penjualan batu akik di jalan dekat kampus Universitas Gunadarma Kelapa Dua.

Suatu hari di awal tahun 2016, ada seorang kawan bertamu ke rumah saya. Beliau seorang yang supranatural. Saat itu kita berbincang tentang batu akik kemudian saya tunjukkan batu cincin pemberian mbah Kani yang berwarna coklat. Kawan saya memakai cincin batu akik tersebut namun dia buru buru melepasnya kembali seraya berkata bahwa batu di cincin tersebut mempunyai energi yang besar. “Ono isine pak”, kata kawan saya dalam bahasa Jawa.

Kejadian yang dialami kawan saya terjadi lagi ketika saya jumpa dengan kawan saya yang lain dan juga seorang supranatural.

Saat itu saya memakai batu cincin pemberian mbah Kani. Kawan saya tertarik untuk memakainya. Saya melepas cincin yg saya gunakan lalu saya berikan ke kawan saya itu. Saat dia pakai cincin tersebut. Kawan saya ini juga buru buru melepas cincin tersebut sambil berkata bahwa batu pada batu tersebut kayak punya daya setrum.

Batu coklat pemberian mbah Kani merupakan sebuah batu yang misterius bagi saya karena saya tak pernah tahu nama dan jenis apa batu tersebut. Entah benar atau tidak yang dirasakan oleh dua kawan saya bahwa batu tersebut mempunyai energi yang besar karena saya tak merasakan apa apa saat saya menggunakan batu cincin tersebut.

Apapun yang terjadi pada batu tersebut, saya akan tetap merawat dan menjaga batu pemberian mbah Kani sesuai amanat yang dititipkan lewat mas Rudi saat menyerahkan batu tersebut kepada saya.

Sesungguhnya kekuatan yang Maha Besar adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata ..

Sobat, saatnya saya undur diri dan mari kita nikmati secangkir teh hangat di pagi hari yang dingin ini ..

Selamat beraktivitas ..

Salam sehat ..

 

NH

Depok, 20 Februari 2021

Tinggalkan Balasan

2 komentar