
NGETEH MORNING di pagi hari ini saya ingin berbagi kisah tentang tentang kejujuran.
Sejatinya jujur itu adalah perilaku manusia. Lawannya jujur ya tidak jujur alias bohong, kalo kate anak betawi ngibul.
Jujur itu berkaitan erat dengan kepercayaan atau dalam bahasa kerennya, trust. Biasanya kalau seseorang sudah tidak jujur alias bohong maka kepercayaan orang lain kepadanya akan berkurang.
Bahkan, bila seseorang itu kerap berbohong dan tabiat berbohong itu sudah menjadi hobinya maka jangan harap orang lain percaya lagi kepadanya, kecuali orang orang dengan tabiat penjilat berkacamata kuda.
Seorang penjilat berkaca mata kuda, meskipun orang yang dibelanya itu kang ngibul, kalo kate anak betawi maka dia akan tetap saja membelanya, kebohongan bisa diplintir menjadi seolah olah benar.
Saya ingin berbagi kisah tentang kejujuran ini. Dulu saat saya aktif berorganisasi, saya pernah dibohongi juga. Saat itu, saya diperintah oleh penanggung jawab sebuah acara untuk mengambil surat ijin di kepolisian padahal saya menjadi anggota panitia yang bukan mengurusi soal perijinan.
Tanpa pikir panjang saya bergegas ke kantor polisi dan ketika saya bertemu dengan pak polisi berpangkat Kombes yang mengurus perijinan ternyata surat ijin sama sekali belum diurus padahal acara tinggal menghitung jam saja. Alhasil, saya kena semprot pak polisi.
Sambil marah marah, pak polisi menunjukkan surat dari sebuah organisasi anak tentara yang acaranya masih dua minggu lagi. Pak polisi meminta saya untuk membaca surat permohonan ijin yang ditunjukkannya.
Nah, saya terkejut membaca surat permohonan ijin dari organisasi anak tentara tersebut dimana saya juga sebagai panitia dan ada tanda tangan saya selaku sekretaris panitia di surat permohonan ijin tersebut.
Pak polisi pun melunak setelah tahu siapa saya dan saya pun meluruskan keberadaan saya yang hanya mendapat tugas mengambil dan bukan mengurus surat ijin.
Pak polisi itu pun lalu mengontak pejabat eselon satu di Kementerian Pemuda dan Olahraga karena acara tersebut memang akan dihadiri oleh orang berkuasa nomor dua di negeri ini.
Akhirnya setelah menunggu cukup lama hingga jelang sore, surat ijin dari kepolisian terbit juga.
Sepulang dari kantor polisi dengan membawa surat ijin, saya langsung menuju tempat acara yang akan berlangsung. Saya sempat emosi juga karena ketiban sial diomelin sama pak polisi.
Beruntung di jaman itu masih belum ada handphone sebab urusan bisa panjang kalo sudah eranya handphone.
Selepas dibohongi, saya menjadi sulit percaya dari setiap kata kata dari orang yang telah membohongi saya.
Di era sekarang ini, kita sering kali disuguhkan oleh perilaku orang yang tidak jujur. Kita kerap membaca berita yang tidak mengungkap kejujuran.
Hoax alias berita bohong makin merajalela sehingga terkadang sulit membedakan antara berita yang benar dan tidak benar.
Si pembuat berita hoax sudah tentu adalah orang orang yang berperilaku tidak jujur, entah demi apa, bisa demi uang, demi jabatan, demi perkawanan atau .. demi kian, hehehe ..
Ketidakjujuran pun sudah merambah ke dunia intelektual yang sangat berpegang teguh kepada kebenaran dan kejujuran.
Rela melakukan plagiat karya ilmiah hanya demi sebuah jabatan. Ngeri kali ..
Namun yang paling memprihatinkan ketika ketidakjujuran juga merambah ke rakyat jelata atau yang kerap disebut wong cilik.
Saya kembali ingin berbagi kisah bahwa saya pun pernah dibohongi oleh wong cilik.
Pada suatu pagi, saya meminta kepada petugas kebersihan di perumahan saya untuk mengangkat sampah ranting pohon di seberang rumah saya dan memberinya tips sebagai uang lelah. Petugas kebersihan tersebut mengatakan baru akan mengangkat sampah ranting pada siang hari nanti.
Dan benar, siang hari itu petugas kebersihan datang membawa gerobak untuk mengangkat sampah ranting dan saya melihatnya sendiri dari balik jendela rumah saya. Sekitar satu jam sesudahnya, turunlah hujan cukup lebat.
Keesokan harinya, petugas kebersihan itu datang menemui saya dan mengatakan bahwa kemarin siang dia mengangkat sampah ranting sambil hujan hujanan.
Nah, ketahuan bohong.
Saya jadi tahu bahwa petugas kebersihan ini berkata tidak jujur demi untuk mendapat tips tambahan dari saya.
Jujur itu terkadang menjadi sulit dilakukan ketika kita hendak menginginkan sesuatu.
Sejak itu, saya tak lagi percaya sama petugas kebersihan tersebut.
Berusahalah untuk berkata dan berbuat jujur karena jujur itu sebagai sebuah keharusan bro ..
Selamat beraktivitas dan teruslah berkarya di tengah pandemi COVID-19 ..
Jangan lupa sempatkan untuk menikmati kehangatan teh di cangkir anda ..
Salam sehat ..
NH
Depok 4 Februari 2021








