
Selamat pagi sobat,
Di pagi hari yang cerah ini saya mengangkat topik di rubrik NGETEH MORNING tentang Kembali Ke Jalan Yang Lurus, Jalan Pancasila.
Hari ini, tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila. Oleh karena itu saya mengangkat topik tentang Pancasila. Tulisan ini sebenarnya sudah pernah saya publikasikan di tahun 2013 di sebuah media cetak. Tulisan tentang ajakan saya agar kita kembali ke jalan lurus, jalan Pancasila.
Ajakan ini sebenarnya telah dilontarkan oleh Bung Hatta di dalam sebuah bukunya “Ilmu dan Agama” :
“Kita manusia itu sifatnya lupa … dengan Pancasila itu diingatkan kita bahwa ada Pancasila. Kalau sekali-sekali kita berbuat salah, diingatkan kita, sehingga kita harus kembali ke jalan yang lurus. Itulah gunanya Pancasila itu. Bukan sekedar untuk dihapalkan di bibir saja. Hapalkan, jalankan dengan bukti !”
Benar apa yang disampaikan oleh Bung Hatta bahwa ada Pancasila. Karena selama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini tegak berdiri maka Dasar Negaranya ialah Pancasila bukan Ideologi yang lain.
Menurut Bung Hatta, Pancasila itu pedoman kita, bila kita salah atau lupa maka segera kita kembali ke jalan yang lurus yaitu jalan Pancasila.
Di saat memperingati Hari Lahirnya Pancasila kali ini, saatnya kita merenung apakah Pancasila sudah dijalankan dengan bukti seperti yang diinginkan oleh Bung Hatta.
Mungkin kita bisa bertanya bahwa sudahkah kita ada di jalan yang lurus, jalan Pancasila ?
Sudahkah Pancasila menjadi pedoman bagi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat setiap warga negara Indonesia ?
Gelombang globalisasi dengan neolib (Neo Liberalisme) yang semakin kuat mencengkeram perekonomian kita, apakah masih di jalan Pancasila yang tertuang dalam Pasal 33 UUD 1945 ?
Apakah Demokrasi perpolitikan di Indonesia sudah di jalan Pancasila yang mengedepankan Musyawarah/Mufakat ?
Dan apakah makna Persatuan Indonesia sudah dijiwai oleh semua anak bangsa ini ketika makin maraknya Buzzer bayaran yang merusak kerukunan masyarakat, terjadinya bentrokan antar warga, mau menang sendiri dengan cara cara kasar/kriminal dan mengabaikan adab kesantunan dan jiwa ksatria ?
Ketika arus Globalisasi dengan Neo Liberalisme yang demikian kuat dan bisa saja menenggelamkan nasionalisme dan kedaulatan ekonomi suatu bangsa maka hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi.
Bagaimanapun juga, setiap Bangsa harus berdaulat baik secara Politik, Ekonomi, Budaya dan Pertahanan/Keamanan.
Setiap Bangsa sejatinya harus punya jiwa nasionalisme yang kalau di Indonesia yaitu Nasionalisme yang berjiwa Pancasila !!
Belum terlambat kalau kita mau kembali ke jalan lurus, jalan Pancasila !!
Insya Allah ..
Saya tutup tulisan ini dengan sebuah pantun :
Punya Anak Kecil Jangan Terlalu Dimanjakan
Nanti Dia Jadi Sombong Dan Kurang Berbakti
Pancasila Jangan Sekedar Dihafalkan Dan Diucapkan
Namun Harus Dihayati Dan Diamalkan Dengan Bukti
Sobat, saatnya saya undur diri dan mari kita nikmati secangkir teh hangat di pagi hari
ini ..
Selamat beraktivitas ..
Salam sehat ..
NH
Depok, 1 Juni 2021








