Ketika Buzzer Nyamar Menjadi Pengamat

Selamat siang sobat,

Di siang hari ini saya mengulas topik ketika Buzzer nyamar menjadi pengamat.

Sejak adanya media sosial (medsos) hampir selama 13 tahun, apakah itu facebook, twitter, instagram atau yang lainnya yang niat awal diluncurkan adalah untuk membangun dan mempererat silaturahmi antar manusia dengan mewartakan
kehidupan pribadi, keluarga, kelompik dan juga kegiatan sosial lainnya.

Namun lama kelamaan media sosial juga digunakan untuk kegiatan bisnis dan politik
praktis.

Apalagi di era demokrasi liberal dengan pemilihan langsung seperti sekarang ini maka
media sosial merupakan ujung tombak atau sarana jitu untuk digunakan mensosialisasikan diri dan/atau kelompok (Organisasi Kemasyarakatan atau Partai Politik). Istilah keten yang digunakan adalah pencitraan.

Namun semakin ke sini, media sosial makin jauh dari tujuan semula. Media sosial
malah dijadikan ajang saling ejek dan saling caci maki. Status status yang muncul merupakan cermin dari sifat si pembuat status.

Apabila si pembuat status itu dipenuhi kebencian atas “sesuatu” yang bisa merupakan orang, institusi atau yang lainnya maka statusnya pun akan terus diwarnai
dengan kebencian.

Di media sosial sudah dipenuhi dengan status status kebencian atau nyinyir, istilah sekarang.

Media Sosial seharusnya ditampilkan status yang mengajak untuk berdiskusi dan mencari solusi bukan malah status yang provokatif untuk membuat kegaduhan dengan saling ejek dan saling caci maki.

Di situasi seperti inilah muncul para buzzer, baik buzzer bayaran alias buzzerRp dan buzzer partikelir yang menambah media sosial menjadi semakin tidak kondusif dan runyam.

Sejatinya sifat buzzer itu pembenci dan selalu meniadakan obyektivitas dan yang ditulis
selalu subyektivitas.

Celakanya, banyak buzzer yang menyamar seolah olah menjadi pengamat yang netral tapi bila terus disimak tulisan dalam status statusnya akan bisa ditebak bahwa pengamat itu adalah seorang buzzer sejati.

Orang yang mempunyai tabiat selalu benci terhadap “sesuatu” maka bisa dipastikan dia sudah kehilangan akal sehatnya.

Jadi berhati hatilah dalam bersosmed karena kita bisa terjebak menjadi seorang
buzzer.

Sobat, saatnya saya undur diri.

Selamat beraktivitas ..

Salam sehat ..

 

NH
Depok, 21 Juli 2022

Tinggalkan Balasan