
Selamat pagi sobat,
Di pagi hari yang cerah ini saya mengangkat topik di rubrik NGETEH MORNING tentang Mengenang Saat Pertama Kali Menjadi Pengurus FKPPI.
Hari ini, 12 September merupakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-43 FKPPI (Forum Komunikasi Putra Putri Purnawiranan dan Putra Putri TNI-Polri).
Pada tanggal 12 September 1978, sekumpulan anak purnawirawan ABRI yakni :
1. Drs. Surya Paloh.
2. J.P. Yoseano Waas.
3.Tjokro Supriyanto, BA.
4. Prof. DR . Karel S. Waas.
5. Ir. Wisnu Batubara
6. Capt Haribowo.
7. Agus Santoso, SH.
mendirikan sebuah Organisasi Kepemudaan yang bernama FKPPI (Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia). Pada tanggal 12 September 1978 saat ulang tahun Pepabri di Gedung Wanita Nyi Ageng Serang Kuningan Jakarta, diumumkan dan disahkan berdirinya FKPPI dan untuk pertama kalinya dibentuk Pengurus Besar FKPPI dengan Drs. SURYA PALOH sebagai Ketua Umum dan KAREL S. WAAS sebagai Sekjen yang dikukuhkan melalui SK dari Pengurus Besar Pepabri.
Sejak itulah tanggal 12 September 1978 untuk selanjutnya ditetapkan sebagai hari lahirnya FKPPI.
Pada Munas III yang berlangsung di Magelang pada tanggal 10-13 November 1987, kepanjangan FKPPI yang awalnya bernama Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia, berubah menjadi Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri ABRI.
Pada tahun 1995 karena tuntutan zaman untuk mengembangkan wadah FKPPI maka terjadilah Musyawarah Luar Biasa (Muslub) pada tanggal 12 september 1995. Salah satu keputusan penting dalam Musyawarah Luar Biasa tersebut adalah merubah nama FKPPI yang selama ini dikenal sebagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) menjadi Generasi Muda FKPPI (GM-FKPPI) dengan tetap melanjutkan masa bakti hingga tahun 1998.
Pada saat bersamaan dibentuklah wadah baru yang bernama FKPPI sebagai wadah berhimpun bagi anggota FKPPI yang berusia 40 tahun keatas yang dideklarasikan pada saat peringatan HUT FKPPI ke-17 pada tanggal 12 September 1995 di Balai Sidang Senayan Jakarta dengan Ketua Umum untuk pertama kalinya adalah H. BAMBANG TRIHATMOJO didampingi Ir. INDRA BAMBANG UTOYO sebagai Sekretarus Jenderal.
Kedua organisasi ini baik FKPPI maupun GM FKPPI mempunyai jiwa dan semangat yang sama, dan komposisi kepengurusannyapun saling kait mengkait agar terjadi sinergitas. Walaupun kedua organisasi ini mempunyai lambang yang berbeda namun hampir sama serta masing masing memiliki AD/ART namun karena platformnya yang sama dan dilahirkan dari sumber yang sama maka sering diistilahkan bahwa antara FKPPI dan Generasi Muda FKPPI adalah “Dua Raga Satu Jiwa”.
Kemudian setelah reformasi tahun 1998, dimana TNI dan Polri tidak lagi sebagai ABRI maka kepanjangan nama FKPPI menjadi Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNU-Polri.
Pada tanggal 27-29 Maret 2015 Musyawarah Nasional VIII Keluarga Besar FKPPI di Lembah Tidar, Akademi Militer, Magelang yang dihadiri oleh kader FKPPI dari seluruh Indonesia telah menghasilkan sebuah deklarasi yang meleburkan 2 (dua) organisasi yaitu: Generasi Muda FKPPI dan FKPPI menjadi sebuah organisasi baru bernama Keluarga Besar FKPPI.
Dari sejarah panjang organisasi anak TNI dan Polri inilah saya mulai berorganisasi.
Alkisah, pada siang hari di akhir bulan Desember 1985. Saat itu saya kedatangan 3 orang tamu di rumah (komplek militer Cijantung 2), salah satunya saya sudah kenal baik karena sesama mahasiswa di Universitas Indonesia (UI) yaitu Haris Ali Moerfi (putra dari Letjen TNI Ali Moertopo). Setelah ngobrol sejenak, Haris mengajak saya untuk bertemu dengan seseorang. Awalnya saya menolak tapi Haris terus memaksa saya untuk ikut dengannya dan setengah “diculik” saya pun dibawa oleh Haris dan 2 rekannya. Ternyata tempat yang dituju tidak jauh dari rumah Cijantung 2, yaitu di Rindam Jaya Condet yang saat itu tengah berlangsung Musyawarah Daerah (MUSDA) II PD IX FKPPI DKI Jakarta. Di lokasi tersebut, saya dibawa Haris untuk menemui seseorang yang ternyata adalah Ketua Umum FKPPI Djoko Mursito Humardani yang saat itu tengah bersama beberapa Pengurus FKPPI lainnya. Tidak banyak yg diperbincangkan saat bertemu dengan saya karena beliau mau mengikuti sidang Formatur pembentukan Pengurus Daerah IX FKPPI DKI Jakarta. Saya ingat saat itu, mas Djoko hanya bilang, “Mau ya bantu saya di FKPPI”. Jawab sayapun singkat, “Siap mas”.
Setelah pertemuan itu, Haris mengantarkan saya kembali ke rumah dan mewanti wanti agar hadir pada malam hari di tempat yang sama untuk mengikuti acara penutupan Musyawarah Daerah (MUSDA) II PD IX FKPPI DKI Jakarta.
Malam harinya, saya kembali ke tempat Musyawarah Daerah (MUSDA) II PD IX FKPPI DKI Jakarta di Rindam Jaya Condet untuk mengikuti acara penutupan sekaligus pengumuman Pengurus Baru hasil kerja Formatur.
Saat susunan Pengurus Daerah IX DKI Jakarta diumumkan oleh Formatur nama saya disebut sebagai Ketua Biro Organisasi, Keanggotaan dan Pembinaan Teritorial PD IX FKPPI DKI Jakarta.
Saat itu, saya mungkin satu satunya pengurus yang dikukuhkan oleh Ketua Umum FKPPI tanpa mengenakan seragam organisasi FKPPI.
Selepas acara penutupan, saya sempatkan mendatangi Ketua PD IX FKPPI DKI Jakarta yang baru Ruhut Poltak Sitompul. Kami sudah saling kenal saat saya mengikuti Penataran P4 Tingkat Nasional Pola 120 jam/Pola Calon Penatar BP-7 di bulan Agustus-September 1984. Saat itu Ruhut sebagai Penatar/Manggala BP-7 sedangkan saya sebagai peserta.
Sejak itulah, saya mulai aktif membantu Ketua PD IX FKPPI DKI Jakarta Ruhut Poltak Sitompul selama satu periode kepengurusan. Sebagai Ketua Biro yang membidangi Organisasi, Keanggotaan dan Pembinaan Teritorial, saya selalu diajak bang Ruhut, begitu saya menyapa Ruhut Poltak Sitompul dalam setiap acara Musyawarah Cabang, Rapat Kerja Cabang atau kegiatan organisasi lainnya di 7 wilayah di DKI Jakarta.
Itulah sekelumit kisah ketika saya untuk pertama kali sebagai Pengurus FKPPI.
Entah apa yang ada dibenak seorang Haris Ali Moerfi mengajak saya menjadi Pengurus FKPPI.
Saat bertemu Ketua Umum FKPPI mas Djoko Mursito Humardani, saya ingat Haris ikut bicara, “Nah kita sama sama sekarang” yang maksudnya sebagai Pengurus FKPPI. Haris di Pengurus Pusat sedangkan saya di Pengurus Daerah.
Di tahun 1990, saya dan Haris akhirnya bersama sama dalam satu kepengurusan yaitu di Dewan Pengurus Pusat (DPP) KNPI dalam satu periode. Kemudian di tahun 1997, saya dan Haris kembali bersama sama sebagai Anggota DPR/MPR RI.
Setelah berhenti sebagai Anggota DPR/MPR RI, saya dan Haris tak pernah bertemu lagi.
Waktu terus berlalu dan Allah Subhannahu Wa Ta’ala ternyata berkendak lain, saya dan Haris tidak akan bisa bertemu lagi karena Haris telah lebih dahulu menghadap ke kehadirat Ilahi …
Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun ..
Al Fatihah untuk sahabatku, Haris Ali Moerfi ..
Dirgahayu FKPPI ..
Saya Bangga Jadi Kader FKPPI ..
Saya tutup tulisan ini dengan sebuah pantun :
Si Ani Lagi Nunggu Pedagang Sayur Yang Jual Bihun
Sambil Duduk Di Bawah Kanopi
FKPPI Telah Berusia 43 Tahun
Saya Bangga Jadi Kader FKPPI
Sobat, saatnya saya undur diri dan mari kita nikmati secangkir teh hangat di pagi hari ini ..
Selamat beraktivitas ..
Salam sehat ..
NH
Depok, 12 September 2021








