Kopdar Dan Sumpah Serapah ..

Selamat pagi sobat,

Semalam (28/10/2022), saya sempat membuka bagian memory di akun Facebook saya untuk melihat lihat tulisan tulisan saya di dalam status Facebook di hari yang sama namun dalam tahun tahun yang berbeda.

Ada dua status yang menarik perhatian saya. Yang pertama di tanggal 28 Oktober 2020, saya bertemu dengan para penulis senior di Kompasiana di percetakan Buring jalan Margonda Raya Depok.

Hari itu penerbit YPTD (Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan) mencetak beberapa buku yang sudah memperoleh lisensi ISBN dari Perpustakaan Nasional. Sambil mencetak buku di percetakan Buring tersebut, bapak Haji Thamrin Dahlan selalu Ketua YPTD mengajak teman teman penulis di komunitas penulis YPTD untuk kopi darat alias bertemu dan bersilaturahmi. Di kesempatan itu Penerbit YPTD mencetak master dari buku ke-5 saya yang baru mendapat lisensi ISBN.

Sementara para penulis yang hadir melakukan kopi darat atau kopdar selain tergabung dalam komunitas penulis YPTD adalah juga para penulis senior di kompasiana. Mereka adalah pak TD, sapaan akrab bapak Haji Thamrin Dahlan, pak Taufik Hidayat alias Taufik Uieks, bang Ajinatha, uda Dian Kelana (Almarhum).

Selain bertemu di percetakan Buring, pak TD mengajak kita untuk menikmati mpek mpek Palembang di kedai khusus menjual mpek mpek Palembang di jalan menuju stasiun Pondok Cina.

Yang kedua di tanggal 28 Oktober 2017, saya membuat status berkaitan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda tahun 2017. Lengkapnya, tulisan status saya adalah sebagai berikut :

“Apakah Sumpah Pemuda sudah diamalkan oleh anak muda kekinian atau milenial ?

Jawabnya BELUM, bisa juga TIDAK .. Lho kok ?

La iya, setiap saya terbitkan artikel tentang sepak bola saja .. yang komen, saling caci maki, saling hina dan tak jarang penulisnya juga jadi sasaran ..

Jadi, sumpah pemuda itu hanya masa lalu .. yang kekinian adalah SUMPAH SERAPAH” ..

Ya di tahun 2017 itu saya tengah bergabung dalam kreator/penulis di UC We Media yang diharuskan memposting tulisan di media online UC News. Saat itu, saya baru bergabung sekitar lima bulan di UC We Media dan memang kerap menulis tentang ulasan dari laga sepakbola nasional di kompetisi Liga 1 2017.

Situasi di tahun 2017 tetap tak banyak berubah sampai hari ini. Hal ini bisa terlihat di media sosial seperti Instagram, Facebook atau Twitter. Sebagai sesama anak bangsa yang sejatinya menyadari sebagai satu bangsa nyaris tak terlihat lagi. Mulai dari perseturuan politik seperti antara Cebong dan Kadrun atau perseteruan antara suporter sepakbola seperti JakMania vs Bobotoh atau Bonek vs Aremania. Komentar dari sebuah status, selalu dihiasi oleh saling ejek, saling caci maki, saling hina yang berkepanjangan. Sangat memprihatinkan ..

Oleh karena itu rasanya masih relevan kalau sekarang ini saya kembali katakan seperti di status saya di atas : Sumpah Pemuda itu hanyalah masa lalu dan yang kekinian itu adalah SUMPAH SERAPAH .. hehehe ..

Sobat, saatnya saya undur diri.

Selamat beraktivitas ..

Salam sehat ..

 

NH

Depok, 29 Oktober 2022

Tinggalkan Balasan