
Pemilihan judul yang Lucu dan sedikit kontra menurut saya. Berbicara tentang gadis,jomblo, bebas, dan penuh petualangan mengingatkan kebiasaan saya kala itu. Maniak Bola atau Gila Bola, atau dikenal dengan Pecinta bola dadakan/musiman. Mulai dari Copa America, piala dunia, piala Europa, sampai liga-liga negara, tak luput dari tontonan.
Jika banyak remaja menggilai artis sinetron maka saya menggilai pemain Bola. Kurang apa mereka? Tubuh athletis, sehat, bugar, dan penuh taktik dalam adu kecepatan badan dan ketangkasan dalam merebut Bola. Tujuannya hanya satu mencetak gol sebanyak-banyaknya di gawang lawan.
Entah kenapa diri ini sangat mencintai dan menyukai pemain bola dari Argentina. Dari Maradona sampai ke Messi. Padahal dari fisik mereka tidak ada yang spesial banget seperti David Beckham, Ozil, Cristiano Ronaldo dan pemain-pemain hebat lainnya. Itu lah bila sudah menyukai sesuatu atau seseorang. Suka bukan berarti cinta.
Apakah saya pecinta bola saja? Tentu tidak. Saya juga pecinta novel dan movie. Terutama bergenre romantis. Tapi saya bukanlah perempuan yang romantis seromantis mereka yang ada di film.
Siapa yang tidak kenal dengan aktor-aktor ternama seperti Keanu Reeves, Brad Fit dan sebagainya.
Memang masa itu belum ada tuntutan dan keterikatan dengan seseorang. Apa yang menjadi hobi seakan dilampiaskan untuk kenikmatan sesaat. Sehebat dan semampu apapun di waktu gadis, norma kehidupan tetap menjadi nomor satu. Ketakutan akan mempermalukan mak (Ibu) dan abak (bapak) seakan membatasi gerak dalam bergaul. Meskipun jauh di rantau tak sekalipun ingin mengecewakan orang tua dalam pergaulan.
Bagaimana sekarang? Sulit dijelaskan. Sudah menjadi Mak-Mak dengan tiga anak yang masih kecil, 2 tahunan, 3 tahunan dan 7 tahunan. Meskipun mereka masih bau kencur, mereka sangat istimewa bagi kami.
Mulai bangun pagi masak ala kadar nya. Berangkat kerja sampai diang menjelang sore. Pulang kerja disambut aduan, celotehan dan rengekan kecil mereka. Kemudian masak lagi sambil bercengkrama dengan mereka. Selanjutnya tidur. Usai meninabobokkan mereka, kembali kerja tengah malam itupun bila badan tak pegal dan lelah. Lanjut bangun pagi dan melakukan pekerjaan rutinitas.
Ceritanya, setelah menikah lebih banyak berkutik dengan si bawang merah. Wajarlah mak dikenal dengan bau bawang. Tapi jangan heran. Kami tau apa tugas kami. Karena siap menikah berarti siap menjadi mak di tiga tempat yaitu kasur, sumur, dan dapur.
Rutinitas sebagai mak ternyata bisa melupakan semua hal yang dilakukan sewaktu gadis. Jangan bandingkan antara dirimu dan diri Ku. Nanti protes Pula pas baca tulisan ini. Kepedean banget! Apalagi diri mu orang terkenal dan hidup bergelimangan harta. Semua pekerjaan bisa dikerjakan dan diselesaikan oleh pekerja. Tak perlu ke dapur untuk memasak, tak perlu ke sumur untuk mencuci, cukup di kasur saja melayani suami.
Sebenarnya semua dikembalikan kepada masing-masing orang. Ada yang sudah nikah masih tetap cantik, ada yang makin ramping, dan ada juga yang makin bongsor seperti saya. Tapi saya bersyukur karena Masih diberikan kesehatan sehingga bisa menjaga anak-anak dan bisa melayani suami.
Duh, kalau bicara Mak-Mak tak lepas dari nama nya duit. Duit gas, duit listrik, duit air, duit spp, duit kontrakkan, duit Jajan, duit dapur dan duit lain sebagainya. Adakah duit untuk Mak-Mak? Harus nya Ada. Karena sibuk dengan pekerjaannya kadang-kadang Mandi pun tak sempat. Sudah bau bawang, bau keringat, ditambah bau amis. Lengkap sudah identitas Mak-Mak.
Tidak segitu juga Kali. Iya sih, memang tak segitu juga. Paling tidak, begitulah gambaran nya. Ada Mak-Mak yang tidak mau repot, cukup melalui catering, laundry, dan sebagainya. Semua dikembalikan kepada kemampuan masing-masing. Kuncinya adalah bersyukur dengan apa yang dimiliki.







