PENGUSIRAN JIN dan HANTU
Tidak pernah terpikir dalam benak seumur hidupku untuk melakukan pekerjaan atau kegiatan mengusir makhluk halus. Bahkan aku cenderung kurang begitu yakin dengan keberadaan hantu, kuntilanak, tukang sihir/teluh dan sebagainya itu. Namun belakangan setiap aku bertanya dengan keluarga, tetangga, teman-teman, bahkan teman sekerjapun ada yang mengatakan anakku telah ditempeli jin-jin serta makhluk halus lainnya. Harus diusir oleh orang pintar. Aku kadang merasa begitu bodohnya selama ini tidak pernah tahu dengan hal begituan sementara orang-orang sudah banyak tahu. Aku hanya sibuk dengan peningkatan karir dalam pekerjaan, melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, mengurus kebutuhan anak-anak, sekolahnya dan lain-lain, mengurus pendirian sekolah-sekolah. Urusan yang begini benar-benar baru kuketahui, namun harus kupelajari dan kujalani demi menyelamatkan anakku.
Aku merasa bersalah dalam membesarkan Kahfi telah terjadi kelalaian atau kecolongan oleh orang-orang kelompok tertentu yang entah dengan alasan apa memilih Kahfi untuk direkrut masuk dalam kelompok mereka. Sekarang masalahnya jadi berkepanjangan tidak menentu. Mulailah aku mencoba dan mengikuti anjuran dari orang-orang untuk membuang jin-jin yang katanya sudah menempel lengket dalam tubuh dan pikiran anakku, karena kulihat sikap kelakuan Kahfi makin lama makin aneh susah diatur dan dikendalikan.
Mulailah kami dengan usaha-usaha pengobatan alternatif dengan berbagai metode yang menguras tenaga waktu dan uang. Kami pergi ke orang-orang pintar, pengusir jin, rukiyah, hipnoterapi, menggunakan media elektronik, bahkan mendatangi orang atau kelompok pemburu jin. Pernah pula beberapa hari menginap di suatu panti untuk pengobatan, namun karena tidak ada perubahan dan Kahfi lari menghilang dari panti, pulang sendiri jalan kaki ke rumah. Upaya-upaya seperti ini dilakukan bertahun-tahun sehingga sangat melelahkan tanpa ada hasil yang diharapkan.
Hari itu karena merasa sudah terdesak kami mencoba ke Ciganjur. Aku tertarik ingin tahu tentang pengusiran Jin oleh kelompok pemburu hantu yang setiap minggu action di TVswasta, aku berharap jin-jin yang kata orang-orang nempelin Kahfi bisa diusir dengan mudah sehingga Kahfi dapat kembali jati dirinya semula. Kutelusuri alamat dan nomor telponnya, membuat janji dan kami datangi dengan membawa Kahfi. Katanya harus membawa baju ganti untuk Kahfi. Kami (aku, suami, Kahfi, Hanafi) disambut di sebuah rumah oleh ustadz Ilyas (bukan nama sebenarnya).
“Ibu…, maaf sebelum kita mulai pengobatan anaknya, kita harus ada ijab dulu”.
Kata ustadz setelah kami bincang-bincang tentang masalah Kahfi.
“ Ijab bagaimana, ustadz?”
“ bahwa ibu menyerahkan anak ibu untuk diobati dan kami menerimanya dengan
persyaratan tertentu”
“Bagaimana persyaratannya?
“ Kita sekarang ijab bahwa dana pengobatan ini sebesar 5 juta, kalau orang lain biasanya
minimal 10 juta”.
“…… 5 juta? Pengobatannya bagaimana dan bagaimana jaminan keberhasilannya?”
“Pengobatannya nanti ibu akan tahu karena di depan mata ibu. Untuk jaminan kita usahakan maksimal, selama ini selalu berhasil’.
“Iya.. tapi saya sekarang tidak bawa uang sebanyak itu ustadz.”
“Ibu bawa uang berapa?”
“Cuma 1,5 juta….”
“Baik, saya terima, dan nanti sisanya ibu bisa bayarkan berapa lama?”
“Sekitar 1 bulanlah, mudah-mudahan kondisi Kahfi membaik…”
“Baik, saya terima”. Katanya sambil mengangkat dua jempolnya.
Maka transaksipun berlangsung.
Lalu Kahfi dimasukkan ke dalam satu ruangan, kami belum disuruh masuk. Setelah 10 menit kuminta kepada ustadz untuk melihat proses pengobatan Kahfi. Kulihat baju Kahfi sudah berganti dengan sarung menelungkup dan ada seseorang yang memijit. Aku duduk menyandar di dinding, melihat dan menunggu. Namun proses pemijitan berlangsung sekitar 1 jam dan selesai. Lalu Kahfi disuruh masuk kamar mandi dan disiram atau dimandikan oleh si tukang pijit. Kemudian tukang pijit minta baju ganti Kahfi dan Kahfi disuruh berganti baju. Bajunya yang dipakai sebelumnya dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberikan oleh ustadz kepadaku.
“Bu, yang tadi nempel-nempel pada anaknya, sekarang sudah nempel di baju ini. Nanti ibu pulang, diperjalanan akan ketemu sungai yang berada di pinggir jalan xx.., ibu berhenti dulu di pinggir sungai baca Alfatihah lalu baca Bismillahi Allahu Akbar. Lalu lemparkan baju dalam kantong plastik ini jauh-jauh ke tengah sungai.”
Dengan penuh keraguan kulakukan hal itu, bahkan aku merasa menjadi orang yang paling bodoh sedunia. Apalagi setelahnya tidak ada perubahan apapun pada Kahfi. Ketika si ustadz mengirim sms kepadaku 3-4 kali dalam sebulan itu menagih sisa uang ijab. Hpnya kublokir.
Suatu ketika kami bawa Kahfi ke pengobatan Rukiyah, namun sudah berapa kali tanpa terlihat ada perubahan. Lalu pindah ke tempat rukiyah yang lain, yang kemudian menganjurkan agar bukan hanya orangnya (Kahfi) yang dirukiyah tetapi juga rumah tempat tinggalnya, dan minta bayaran lumayan tinggi. Rumah kamipun dirukiyah oleh 2 orang perukiyah, selama 1 jam kami disuruh menunggu di teras luar rumah. Terbesit dalam hatiku apa yang dilakukan mereka di dalam? Jangan-jangan…. Tapi kupikir aman saja karena aku tidak pernah menyimpan barang-barang berharga di dalam rumah.
Demikianlah antara lain suka duka upaya pengobatan yang ditempuh. Sementara itu Kahfi tetap kumotivasi dan kufasilitasi untuk terus melanjutkan pendidikannya, meskipun pikirannya berubah-ubah karena mudah bosan. Setelah menganggur satu tahun, dia memilih masuk Fakultas Bahasa ambil jurusan Bahasa Arab namun tidak sampai satu semester, tidak mau kuliah lagi. Tahun depannya mau ikut Fakultas Seni ambil jurusan Seni Musik tapi hanya beberapa bulan, berhenti.Hubungannya dengan Sinta juga terlihat berantakan, jarang ketemu, bahkan Kahfi ketika ditanya tercetus bilang bahwa Sinta telah menyakiti hatinya. Sikap dan bicaranyapun mulai agak cuek, agak ketus dan makin sering melamun dan menyendiri, kurang semangat dalam segala hal seperti anak-anak muda lainnya. Waktu terus berlalu…








