Bangkitlah anakku Hari esok masih ada

Terbaru568 Dilihat

15.​​​​A BEAUTIFULL MIND

A Beautiful Mind adalah film biografi drama Amerika Serikat tahun 2001 yang disutradarai oleh Ron Howard dan diproduseri oleh Brian Grazer dan Ron Howard. Film ini mendapat penghargaan Academy Award untuk Film Terbaik.

A Beautiful Mind merupakan film yang diadaptasi berdasarkan kisah nyata seorang Peraih Nobel bidang ekonomi bernama John Forbes Nash Jr. Ia memberikan kontribusi mendasar pada teori permainan, geometri diferensial, dan studi tentang persamaan diferensial parsial.

Pada usia 31 Nash diketahui menderita Skizofrenia Paranoid dan mendapat perawatan di rumah sakit jiwa. Perjuangan dan kisah hidup Nash ini yang menjadi inspirasi untuk dibuat menjadi buku dan film. Berikut sinopsis A Beautiful Mind.

John Nash yang diperankan oleh Russel Crowe pada awalnya adalah mahasiswa pascasarjana di Universitas Princeton.Kemudian John sebagai dosen yang dikenal tertutup dan tak pandai bergaul, berhasil memikat seorang gadis yang juga mahasiswanya di MIT bernama Alicia Larde (diperankan oleh Jennifer Connelly) dan akhirnya memutuskan menikah.

Dalam cerita halusinasi dan delusi penyakitnya ini, John mendapat tawaran pekerjaan lain dari seorang agen di Departemen Pertahanan yang meminta Nash untuk menemukan kode Rusia tersembunyi. John sering merasa mendapat teror, terjebak dalam baku tembak, rasa ketakutan dan sebagainya. Pikiran, perasaan dan perilaku Nash terkuak ketika Alicia menyelidiki keanehan kepribadian suaminya. Kondisi ini mengganggu kehidupan pernikahan mereka yang sudah mempunyai seorang putra. Terjadilah berbagai pertengkaran dan kekacauan dalam rumahtangganya, Alicia bingung dalam menghadapi kenyataan ini, suaminya pernah berperilakumenyakiti diri dengan mengiris tangannya sendiri, menyakiti hati istrinya dengan perkataaan dan perbuatan, dan pernah mau menembak anaknya.

Namun pada akhirnya Alicia memutuskan untuk bertahan mengurus dan merawat kesehatan suaminya karena rasa kemanusiaannya yang tinggi, rasa kasihan yang mendalam atas penderitaan Nash dan sekaligus jiwa kasih sayang keibuan dan tanggung jawabnya yang tinggi untuk membesarkan dan mendidik anaknya. Film berakhir happy ending, Alicia sangat terharu menyaksikan suaminya sebagai pengidap Skizofrenia (ODS) maju ke panggung menerima hadiah Nobel atas prestasinya di bidang matematika. John Nashpun memuji peran istrinya yang setia dalam suka dan duka.

Banyak John Nash John Nash seperti ini dalam kisah perjalanan hidup yang berbeda. Namun semua baik ODS maupun caregivernya pasti berharap happy ending meskipun penyakit ini dapat berlangsung seumur hidup dengan kondisi yang dapat diminimalisir risiko dan dimaksimalkan kestabilannya. Sehingga ODS mampu melangsungkan kehidupannya dengan baik, mandiri dan produktif, bahkan mungkin lebih baik kualitasnya dibanding yang bukan ODS.

Suatu ketika dalam keadaan tenang setelah terjadi relaps dan sudah keluar dari rumah sakit, aku berkata pada Kahfi.

“Itu film beautiful mind itu bagus ya.. Kahfi sudah nonton?”

“Ya sudah.” Katanya

“John Nash meski kondisinya sakit bisa dapat hadiah Nobel ya.? pancingku

“Iya….”

Pembicaraan hanya sampai di situ, karena nampaknya dia tidak berminat berdiskusi lebih lanjut. Jika kutelaah ada beberapa kesamaan kondisi John Nash dengan Kahfi. Sama-sama Skizo paranoid, sama-sama dosen, sama-sama punya istri, istrinya tadinya juga adalah mahasiswanya, dan belakangan sama juga dengan keluarga Nash punya putra satu orang.

Kahfi setelah tamat juga D3 Keperawatan meski dengan dorongan dan dukungan, lalu melanjutkan kuliahnya ke S1 Kesehatan Masyarakat dan lanjut S2 Kesehatan Masyarakat di sebuah universitas swasta. Setelah itu diarahkan agar dia mempunyai kegiatan dan merasa dibutuhkan maka dia mulai belajar mengajar sebagai asisten dosen dan kemudian menjadi dosen tetap. Jika dicermati perubahan pada pikiran Kahfi pada saat tenang dia cerdas dan tanggap dalam rapat atau diskusi dan nyambung memberikan pendapat, bahkan kadang keluar idenya cerdasnya yang tak terduga, meski kadang juga ada yang kurang tepat.

Dalam kegiatan yayasan maupun sekolah Kahfi selalu didorong untuk terlibat, Cuma sayangnya masih mut-mutan, semangatnya naik turun. Pada saat sidang tesisnya dia kulihat begitu semangat dan percaya diri, runut dan tepat dalam menjawab pertanyaan para penguji. Namun pada saat-saat tertentu, dia suntuk mengurung diri seperti minder, malu, tertutup banyak merenung dan malas dalam segala hal termasuk bicara, apalagi mengajar. Begitu juga dengan goresan penanya baik berbentuk catatan curhat maupun puisi terlihat dia dapat memahami apa yang terjadi pada dirinya meski ada kebingungan. Namun dia berusaha dengan keras untuk bisa keluar dari situasi batin yang beruntun menerpanya. Hal ini terlihat dari susunan kata-katanya kadang kacau, melompat-lompat, dan kadang kata-katanya dalam memotivasi dirinya sendiri begitu logis dan dalam. Belakangan dokter Rafli memberikan diagnosa untuk Kahfi yaitu cenderung ke arah Bipolar. Gangguan Bipolar adalah gangguan kejiwaan yang ditandai dengan perubahan suasana hati tidak/kurang stabil dan sulit terkendali, mulai dari posisi terendah (depresif/tertekan) ke posisi tertinggi (manik).

Sumber Halodoc, Jakarta – Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa orang cerdas memiliki risiko terkena gangguan mental, seperti gangguan bipolar empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang kurang cerdas. Orang-orang cerdas juga lebih sering terkena kecemasan fisik dan gelisah. Selain itu, seseorang yang memiliki IQ tinggi juga lebih berisiko mengidap gangguan bipolar. Penelitian tersebut menemukan bahwa orang-orang cerdas memiliki kandungan protein yang sama di otak dengan pengidap skizofrenia dan bipolar. Protein ini dapat menjadi penghubung antara kecerdasan dan jenis gangguan jiwa. Namun, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk membuktikan apakah protein tersebut benar-benar dapat memengaruhi otak manusia.

Kebanyakan orang cerdas dan pengidap gangguan jiwa memiliki satu sifat yang sama, yaitu merasa canggung dengan orang lain. Maka dari itu, mereka cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Bagian otak yang berfungsi mengatur kehidupan sosial jarang digunakan oleh orang cerdas. Alhasil, mereka mempunyai energi lebih untuk dialihkan fungsinya. Pengalihan fungsi tersebut memungkinkan mereka untuk berpikir, berkonsentrasi, dan memecahkan persoalan rumit.Maka dari itu, orang-orang cerdas dapat membuat suatu hal yang besar dan mengaplikasikannya dengan baik. Contohnya seperti sebuah penemuan teknologi, obat-obatan untuk penyakit yang belum dapat disembuhkan, karya seni, sastra, dan lainnya. Walau begitu, penelitian ini harus diuji lebih jauh untuk validasi yang tepat.

Demkian menurut beberapa referensi. Cukup jelas sudah arahnya yaitu Kahfi membutuhkan stabilitas mood Kahfi sehingga grafik atau jarak suasana hati dan pikiran antara tinggi dan rendah semakin dekat atau relatif stabil. Pengobatannya dan penjagaan suasana hati serta pemberian motivasi ini memerlukan waktu yang lama bahkan mungkin selamanya.

Tinggalkan Balasan