Bangkitlah anakku Hari telah Senja 6

Terbaru640 Dilihat

Boarding School itu Ternyata Brengsek

Boarding school di Parung dengan susunan nama pendiri pembina Yayasannya yang beken terkenal telah menjadi harapanku satu-satunya untuk menyelamatkan jiwa anakku dan pendidikan lanjutan (SMU) anakku. Satu tahun berlalu, secara rutin aku menjenguk Kahfi membawakan berbagai keperluannya. Bahkan setiap datang aku minta izin masuk ke dalam kamar asramanya. Satu kamar berempat dengan 2 lemari. Satu lemari berdua sebelahan. Kubongkar lemari pakaian Kahfi dan kususun kembali dengan rapi. Pakaian yang bersih masih terletak di tempat tidur kususun ke dalam lemarinya sesuai kelompoknya, pakaian sekolah, pakaian hari-hari, pakaian tidur dan handuk, pakaian dalam, jaket, yang tadinya campur aduk. Sepatu sendalnyapun kubersihkan, perlengkapan mandinya diperiksa dan kuganti bila kurang. Buku-buku yang ada dimejanya yang agak berantakan, kubuka satu-satu, kususun dengan rapi sesuai kelompoknya. Setiap datang kutanyai Kahfi bagaimana di sini, enak? Belajarnya bagaimana?, makannya? Tidurnya? Sambil kuperhatikan ekspresi dan responnyamenjawab.

“ iya bu, lumayan” katanya

“ Alhamdulillah kalau begitu.. teman-teman di sini gimana? Baik-baik semua khan?”

“ iya baik”

“Guru-gurunya?”

“ Baik”

“Alhamdulillah… Masih adakah orang atau pikiran dalam peristiwa Kahfi diculik dulu yang menggangu Kahfi?”

“ Gak lagi”

“ Iya Syukurlah nak, sekarang Kahfi bisa fokus ya sayang belajar di sini, gembira lagi seperti dulu, olahraga basket kan hobbynya dulu, berenang, sekarang gimana?”

“ Iya bu”.

Meskipun Kahfi berkata iya, baik, enak, tapi sepulangnya seperti masih ada ganjalan dalam hati dan benakku, responnya meragukan. Apakah dia berkata sebenarnya atau ada yang ditutup-tutupi? Keluarga ataupun murid yang diantar masuk lingkungan sekolah, tasnya ditarok di meja dan diperiksa secara ketat oleh petugas (guru). Awalnya aku heran kenapa tas orangtuanyapun diperiksa, tapi biarlah kupikir itu aturan mereka yang aku tidak perlu tahu alasannya.

Semester pertama berlalu, kulihat nilai-nilai Kahfi masih rendah, masih jauh belum kembali sesuai dengan harapanku yang menginginkan sama dengan prestasinya pada saat dia duduk di SD atau SMP dalam 5-10 besar, prestasi aktivitasnyapun belum jelas. Kupikir biarlah itu mungkin perlu proses. Setahun berakhir, kulihat kondisi badan Kahfi menjadi makin kurus, nilainya justru makin turun. Yang aku sangat terkejut melihat di raportnya ada absen tidak masuk kelas selama 25 hari dalam satu semester, berarti dalam 1 bulan itu ada 5 kali tidak masuk kelas, kemana dia? Khan dia di asrama, kok bisa bolos?. Akupun menghadap kepala sekolah yang kemudian diarahkan menghadap wali kelasnya.

Pak maaf, ini kok Kahfi ada bolos 25 hari kemana?. Kan dia tinggal di asrama?”

kataku dengan nada agak geram. Toh aku sudah bayar mahal untuk masuk sekolah ini, dan bayaran bulananpun tergolong mahal hanya bisa terjangkau oleh golongan midle atau high class.

“Ini begini bu, Kahfi ini hobbynya rajin sholat, berdoa. Kalau sudah di masjid lamaa sekali, meski sudah waktunya masuk kelas dia tetap bertahan. Jadi kami tidak bisa memaksanya”.

“ Iya Allah.. kok guru-guru disini jadi ga bisa mengatur disiplin muridnya Ya? Waktu ibadah, waktu sekolah, waktu olahraga, waktu makan, waktu tidur, itu semua sudah kita serahkan kepada pihak sekolah. Orangtua kan tidak bisa ikut campur mengatur”

“Kita usahakan bu, selanjutnya akan kita perhatikan”. Katanya

“ Baik pak tolong diperhatikan ya pak”.

Dengan Kahfi kugali lagi tentang kondisinya di asrama. Dengan susah payah sedikit terkuak kondisi ketidaknyamanannya tinggal di boarding school ini, namun tidak bicara terang-terangan.

“Di sini berlaku yang kelas 3 adalah dewa/raja. Yang kelas 2 asisten dewa. Yang kelas 1 kacung”.

“ Nah sekarang Kahfi sudah kelas 2 sekarang apakah masih tergolong kacung?”

“ Sudah agak mendingan sekarang bu, kalau awal dulu kakak kelas seenaknya suruh lap sepatu, bersihkan ini itu, suruh ambilkan ini itu. Jika tidak nurut bisa… dipukul”.

“Dipukul? Ya Allah… kenapa Kahfi tidak bilang dari dulu. Kahfi sering dipukul?”

“iya… dulu”.

“sekarang masih?”

“tidak lagi, tapi masih sering dibentak-bentak oleh kakak kelas kalau tidak mau ikuti cara mereka ngacungi adik kelas”.

Suatu saat kembali aku menghadap wali kelasnya yang nampak ramah, tapi feelingku mengatakan sikap orang ini kurang bertanggung jawab. Namun sebelumnya kutanya dulu ibu yang kebetulan duduk bareng denganku di ruang tunggu tentang kondisi anaknya di sekolah ini. Setelah kupancing dia mengatakan hal-hal yang hampir sama dengan cerita Kahfi. Aku kuatir kalau sumbernya hanya dari Kahfi sendiri nanti Kahfi akan disalahkan karena mengadu dan makin tersiksa disini tanpa kuketahui.

“Pak, aku mendengar cerita dari ibu-ibu sesama orang tua dan juga dari muridnya bahwa hubungan pertemannya sesama murid di boarding school ini kurang baik”.

“Ibu dapat cerita dari siapa?” Kata si wali kelas

“Tadi sudah saya katakan…”

Begini bu… namanya siswa tentu bermacam-macam, ada yang baik, ada yang kurang baik, ada yang nakal”.

“ Ooo iya”

“Jadi sekarang kami sedang berusaha mendidik siswa yang agak nakal tersebut. Maklum ini sekolah bergengsi, orangtuanya mampu bayar berapapun bagi anaknya yang tadinya susah dididik atau terlanjur nakal lalu dikirim kesini”.

“Wah, anakku tidak nakal, dia sangat loyal dan mengalah, tidak ada narkoba segala”

“Iya bu, saya tahu Kahfi, saya tahu anak-anak dalam wali kelasku satu persatu. Ibu sabar saja, akan kami perhatikan”.

“ Baik pak, saya mohon dengan sangat anakku diperhatikan”.

Aku pulang dengan hati yang gundah. Jangan-jangan kupikir, Kahfi ini keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya….

Tinggalkan Balasan