Bangkitlah anakku Hari esok masih ada

Terbaru1122 Dilihat

29.​​​​LIKA LIKU JEJAK PERJALANAN 1

Bukan hanya perjalanan hidup Kahfi  yang mengalami  berbagai cobaan sejak mulai remaja usia 15 tahun sampai saat ini, tapi perjalanan cintanya penuh dengan lika liku. Kahfi kecil adalah anak dan remaja berwajah ganteng, hidung mancung dengan sorotan mata yang tajam berbulu mata lentik, dengan postur tubuh yang tinggi berkulit putih bersih. Selain penampilannya yang good looking, Kahfi mempunyai sifat yang ramah dan lincah menyenangkan siapapun, teman sebaya, orang tua muda, laki-laki perempuan, bapak maupun ibu.

Sewaktu masih usia 2 tahun, aku mendapat tugas belajar ke luar negeri, Australia. Demi karier dan masa depan anak-anak dengan berat hati kutinggal Kahfi bersama ibuku di Palembang, karena sulit membawa anak umur 2 tahun sambil kuliah di sana tanpa ada yang mengasuhnya. Setiap 2-3 hari kutelpon Kahfi karena rasa kangen dan rasa bersalah meninggalkan anak ganteng kesayanganku.

“Ibu dimana…?” tanya Kahfi

“Di Australi sayang..”

“Aus Ayi dimana…, jauh ya?”

“Oo jauh sekali.. ibu sekolah, nanti kalau sudah selesai ibu cepat pulang ya sayang...”

Masih lama ya?”

“……. Ya Kahfi sama nenek tunggu ibu ya, sudah makanbelum….?”

Setelah duduk di Sekolah Dasar dia senang ikut lomba-lomba, muazim, dokter kecil, renang, yang sering menang juara 1 di lingkungannya.

Setiap bertemu orang yang lebih tua dia mengulurkan tangan, salim. Jika ada yang bertanya.

“Siapa namamu ganteng? Hehe…”

“Khahfi Al Farizi, panggilannya Kahfi.” Jawabnya spontan dengan lancar tanpa malu.

“Nama ibumu siapa, cakep…?”

“Ibu Halimah.”

dimana ibu sekarang?’

Kerja di kantor.”

Setelah dua tahun di Palembang sepulang dari study di Australia, perjalanan hidup membawaku pindah kerja ke Jakarta. Namun Kahfi belum kubawa karena belum ada tempat tinggal yang tetap. Beberapa tahun kemudian baru Kahfi kuajak pindah dan masuk SD di Jakarta. Lalu pindah lagi ke wilayah Depok dan lanjut masuk SMP sampai terjadi peristiwa naas yang menimpanya yang sudah diceritakan di awal kisah ini.

Kemudian perjalanan cinta Kahfi sangat berliku jatuh bangun, timbul dan tenggelam seperti karang di tengah arus gelombang.

Setelah pacaran dengan Sinta sekitar 4 tahun di masa SMA dan setelah tamat SMA yang berakhir ricuh. Meski sepertinya mereka saling mencintai tetapi mungkin karena kondisi kejiwaan Kahfi yang masih belum menentu dan akhirnya membuatnya relaps. Sejak itulah baru kami sadari bahwa Kahfi memang telah terkena suatu penyakit, apa yang dilakukannya itu terjadi tanpa disadarinya, tampil seperti bukan dirinya lagi. Dia membutuhkan pengobatan medis yang profesional, bukan membutuhkan orang-orang pintar yang sudah keliling kami cari dan datangi guna mengusir jin setan yang katanya telah menempel. Namun ternyata tidaklah sesederhana itu persoalannya, maka fokus pada pengobatan medis.

Tiga tahun kemudian yaitu tahun 2010 Kahfi terlihat dekat dengan seorang mahasiswa yang nampaknya cukup serius dan bersedia mengikat diri bertunangan dengan Kahfi sampai dia tamat sekolah. Dengan dihadiri ibunya dari Kalimantan acarapertunangan secara sederhana (tukar cincin) dilaksanakan di apartemen kami. Namun beberapa bulan kemudian Windi yang profesi sampingannya sebagai penari, tanpa bicara apapun menghilang pulang kampung tanpa pamit dan kuliahpunditinggalkannya begitu saja (drop out).

Sekitar dua tahun setelah itu Kahfi terlihat berpacaran dengan seorang mahasiswi perawat bernama Yenny. Yenny adalah salah satu murid Kahfi pada waktu sedang mau aktif mengajar. Yenny kemudian mengetahui bahwa Kahfi mengalami masalah terkait kejiwaan bahkan sudah kami ceritakan sejak awalnya dan apa yang terjadi pada Kahfi tidak ada yang disembunyikan. Yennypun sering ikut menemani dalam usaha pencarian pengobatan Kahfi, baik secara medis maupun alternatif. Pada waktu itu nampak Yenny bisa memaklumi dan bisa menerima kondisi Kahfi dan nampak seperti berempaty/rasa kasih sayang. Hubungan mereka tetap dalam pantauanku, kadang-kadang ada sedikit friksi antara keduanya tapi kemudian membaik dan dekat kembali.

Kahfi pernah bersama kakaknya Hanafi dan sepupunya Ginaatas anjuranku pergi mengunjungi rumah orang tua Yenny di Kalimantan Tengah, berkenalan dan bersilaturahmi dengan orangtua dan keluarga besarnya. Kahfi diterima dengan cara adat disambut dengan beras kuning adat Dayak. Kemudian pada waktu kami menunaikan ibadah umroh rame-rame bersama adik beradik maka Kahfi kuajak, begitu juga Yenny. Begitu juga jika pergi undangan perkawinan atau jalan-jalan keluar kota ke Bengkulu, Palembang, Bangka, Batam, Singapore, Malaysia, Pulau Seribu, Bandung, Yogya, Bali, sampai ke Nusa Tenggara Timur, Yenny juga diajak.

Setelah 3 tahun Yenny tamat kuliah maka diaturlah perkawinan mereka yaitu pada tahun 2015 di Jakarta. Doa selalu kupanjatkan semoga Kahfi bertemu dengan seseorang yangbetul-betul ikhlas dapat menerima Kahfi apa adanya dan mampu merawat Kahfi dengan hati yang tulus sehingga mereka dapat bahagia bersama. Sekaligus kupikir dengan adanya pendamping seorang istri yang mampu mengerti kondisi Kahfi mudah-mudahan kondisi kejiwaan Kahfi berangsur pulih sambil tetap upaya pengobatan. Apalagi sebagai seorang perawat tentu dapat disiplin mengatur suami memberikan obat secara tertib dan tepat waktu. Ketika menikah usia Kahfi 29 tahun, diharapkan usia yang cukup matang untuk membina sebuah biduk rumah tangga.Akupun tidak akan melepas tanggung jawab begitu saja, apapun yang layak  dan wajar mereka butuhkan akan berusaha kupenuhi agar anak bungsuku Kahfi bisa terlepas bebas dari penderitaannya.

Tinggalkan Balasan