Bangkitlah anakku Hari esok masih ada

Terbaru647 Dilihat

39.​​​KASIH SAYANG dan RASA SYUKUR,Sejauh Mana…

Sejauh mana kasih sayang seorang ibu atau ayah kepada anaknya?

Sejauh mana kasih sayang seorang caregiver kepada ODGJnya?

Sejauh mana kasih sayang saudara kandung kepada saudaranya yang sakit?

Sejauh mana kasih sayang seorang istri atau suami kepada pasangannya yang sakit?

Pasti setiap individu gradenya berbeda. Menurutku yang relatifsama adalah kasih sayang seorang ibu kandung kepada anaknya dan kasih sayang seorang caregiver sejati kepada ODSnya. Mengapa? Kalau untuk kasih sayang ibu kandung dikarenakan sejak dalam kandungan sampai besar, selalu bersama dan diurus oleh ibu. Ibu kadang merasa bayinya itu seolah ciptaannya sendiri (handmade ibu). Kalau untuk kasih sayang caregiver sejati dikarenakan caregiver selalu bersama ODS dalam suka duka sejak masih sehat lalu tiba-tiba datang penyakit yang sulit dipahami sehingga caregiver berjuang maksimal dan mengorbankan seluruh perhatian untuk penyembuhan ODSnya.

Apa kata Ustadz Lukman Hakim terkait makna kasih sayang. Kasih sayang Allah yang paling tinggi dan abadi mengalir kepada makhluknya tiada henti. Hal-hal yang burukpundiberikan Allah kepada hamba-Nya itu karena kasih sayang-Nya.

Barang siapa yang mendekati-Ku sejengkal maka Aku akan mendekatinya sehasta. Barang siapa yang mendekati-Ku dengan berjalan maka Aku akan menyambutnya dengan berlari. Ini sebagai bukti bahwa Allah mencintai manusia ciptaan-Nya yang dibuat dengan kedua tangannya (handmade) dari tanah. Kasih sayang Allah tidak diragukan lagi. Kita jelas merasakannya pada saat Dia memberikan kemewahan, harta benda, jabatan, keluargadan anak-anak yang sukses. Namun kondisi ini menurut Prof.Nasarudin justru harus diwaspadai karena berpotensi membuat orang lupa. Allah sengaja mengulur-ngulur sehingga orang menjadi riya, pamer setiap gerak gerik, jaim, pelit bersedekah, sibuk bergelimang kemewahan, tidak berempati kepada yang sakit, kalaupun ada cuma basa basi, ibadah hanya ritual dangkal yang mengarah ke riya.. Yang kita inginkan untuk dekat dengan Allah bukan kenikmatan yang berpotensi seperti itu. Tetapi dekat selalu dalam kasih sayang dan lindungan-Nya, tetap dalam kesederhanaan, meski ujian musibah masih berlangsung tetapi selamat tinggal dominasi perasaan kekecewaan, penderitaan, kesakitan, kesedihan dan selamat datang kasih sayang sesama, ketenangan, kedamaian, kebahagiaan. Antara kedua sisi itu tidak terlalu besar bedanya. Akupun masih terus belajar menipiskannya, sampai Allah berkata: Cukuplah, kembalilah kepada-Ku.

Pagi ini langit biru cerah, bunga-bunga di taman bermekaran. Ini tulisan hari ke 39, program ini hampir selesai. Besok rencanaku akan membuat puisi barang 1 atau 2 sebagai penutup, tanpa bercerita apa-apa lagi. Dalam renunganku untuk tulisan hari ini tentang kasih sayang dan bersyukur. Aku mulai dengan pertanyaan-pertanyaan dari hal-hal yang nyata.

1. Mengapa Allah menciptakan skizofrenia, bipolar, penyakit-penyakit lain dan yang paling marak belakangan ini Covid-19?”
2. ”Apakah ini untuk menghancurkan manusia yang telah diciptakan dengan kedua tangan-Nya, karena marah atau dendam?
3. ”Apa saja yang patut disyukuri dari musibah-musibah yang diciptakannya?

Jawabannya tentu pembaca lebih tahu karena aku juga masih belajar

Tapi lebih kurangnya adalah karena Allah Maha Kuasa untuk melakukan apa saja. Allah punya definisi atau tujuan tersendiri dalam mencipkan ujian musibah. Yang jelas tidak ada benci ataudendam, tetapi sekali lagi karena kasih sayang-Nya. Agar manusia bertaubat dan mengambil hikmah serta manfaat dari semua itu..

Hikmah apa yang dapat kita ambil dari ujian Pandemi Covid-19?

Kalau untukku pribadi, pertama jadi tahu seluk beluk tentang covid termasuk pengobatan dan pencegahannya, kedua dapat merasakan sendiri bagaimana rasanya terkena covid, ketiga meningkatnya keakraban antar sesama via WA grup berbagi kisah suka dan duka, keempat 2,5 tahun masa Pandemi dapat membuat taman tanaman hias dan menikmatinya, kelima memperhatikan kehidupan hewan sekeliling, kucing liar, burung, ikan, keenam ini penting setiap hari dapat ikut zoom tausiah beberapa ustadz dan zoom ilmu pengetahuan lainnya.

Hikmat apa yang diperoleh dari ujian Skizofrenia dan sekaligus ujian masa Pandemi?

Banyak sekali hikmah dan manfaatnya. Pertama merasakan antara ujian dan kenikmatan yang diberikan Allah makin dekat dan menyatu, sehingga sudah menjadi terbiasa. Ke dua memperoleh alternatif beberapa kegiatan baru yang sangat bermanfaat sehingga meninggalkan kegiatan-kegiatan lama yang kurang manfaat. Ke tiga, Allah menggerakkanku untuk berpikir dan diberikan banyak waktu untuk mengingat dan membuat buku sejarah kakek dan ayahku. Ke empat dalam rangka mengumpulkan data sejarah banyak mengunjungi dan bersilaturahmi dengan keluarga dekat dan jauh, serta teman-teman lama dan baru di berbagai kota. Ke lima diberi kesempatan oleh saudaraku Thamrin Dahlan dalam program KMAB (Karena menulis Aku Bahagia) selama 40 hari menguji kemampuan dalam menulis kisah ini. Ke enam, hari ini Kahfi dan kakaknya Hanafi serta ayahnya pulang dari perjalanan ke Palembang selama sekitar seminggu untuk suatu urusan dan bersilaturahmi. Kahfi dan Hanafi tetap dalam pantauanku untuk pemberian obat Kahfi yang telah diberikan atau diingatkan oleh kakaknya secara tertib. Berarti sekaligus telah melatih kakaknya sebagai caregiver pengganti dalam hal konsumsi obat. Ke tujuh, dalam trip ini terlihat Kahfi cukup ceria gembira menikmati perjalanan dan silaturahmi, mudah-mudahan banyak membawa manfaat bagi kesehatannya. Ke delapan, cucuku Rafa sehat walafiat ceria mengikuti kegiatan latihan-latihannya dan bersemangat mulai menapaki sekolah di Madrasah Ibtida’iyah Tarbiah Alfalah. Ke sembilan, Yenny ibunya Kahfi mungkin sudah menyadari kesalahan masa lalunya meninggalkan Rafa, sekitar 3 bulan yang lalu minta izin untuk seminggu sekali datang menjenguk Rafa pada hari libur kerjanya di klinik kecantikan. Ke sepuluh, dalam usiaku di atas 70 tahun masih relatif sehat wal afiat. Alhamdulillah…

Mengintip postingan teman-teman KPSI hari ini ada beberapa cukup menarik untuk diperhatikan.

:”Minum obatnya yang harus teratur. Nanti perlahan2 akan mereda sendiri. Saat ini bapak/ibu sekeluarga sedang diberi ujian sabar yang tiada batasnya. Segala jenis kesabaran akan dibutuhkan. Mari kita berserah pada Allah sambil tetap ikhtiar mengawasi minum obat.”

:” Perjalanan seorang ODGJ yang sudah terlanjur parah memang mengharu biru, banyak drama air mata yang harus dilalui menyertai perjuangan mereka untuk pulih. Tidak mudah untuk bisa kembali ke masyarakat tanpa diberikan stigma. Namun apapun bisa terjadi atas kehendak Allah.

Pak Bagus Utomo Ketua KPSI juga menambahkan.

:” Meskipun sama diagnosanya, tapi perjalanan pemulihan setiap orang berbeda-beda. Karena berat ringannya penyakit di setiap orang beda-beda, tilikan diri setiap ODGJ ada yang masih baik ada yang buruk sekali. Dukungan keluarga ada yang baik, ada yang minim, adatidaknya kegiatan produktif, ada tidaknya obat yang bagus di RS tempat berobat. Ada tidaknya pondasi keuangan keluarga yang baik, dan banyak faktor lain yang menentukan proses pemulihan setiap orang.

:”ODGJ bisa stabil saja sudah sangat patut disyukuri. Biasakan merayakan pencapaian-pencapaian kecil. Dengan apresiasi yang kita berikan atas pencapaian-pencapaiankecil, maka ODGJ akan tumbuh rasa percaya dirinya. Nanti Tuhan akan tambahkan kemajuan2 lain.

Semua ujian akan selalu diiringi hikmah dan manfaat, patut kita syukuri. Apalagi jika bisa lulus ujian dimana terjadi perubahan karakter, baik ODGJ maupun caregivernya. Bagiku, agar supaya rasa syukur menjadi lebih dalam dan meresap, dalam kesendirian kadang berlatih dan menyimak ceramah dan latihan audio Ustadz Lukman Hakim.

Tinggalkan Balasan