Ayam Tangkap: Ketika Dapurku Beraroma Rempah, Pandan, dan Temurui

Cerita Rati Kumari Memasak Ayam Tangkap Khas Aceh

Ayam Tangkap Masakan Rati Kumari/DokPri

Ada hari-hari ketika dapur bukan sekadar ruang memasak, melainkan ruang merawat kenangan dan rasa. Hari itu, aku memilih menghadirkan Ayam Tangkap, makanan khas Aceh ke meja makan keluarga. Mengapa Ayam Tangkap khas Aceh? Karena hidangan ini tidak hanya gurih, tetapi juga sarat cerita dari tanah Aceh. Dahulu, orang menangkap ayam kampung langsung dari pekarangan rumah sebelum memasaknya. Oleh sebab itu, nama “tangkap” melekat hingga kini. Namun demikian, ada pula yang percaya bahwa ayam disebut “tangkap” karena potongannya tersembunyi di balik dedaunan goreng saat dihidangkan. Dan kali ini, akulah yang “menangkap” aromanya pertama kali.

Ritual Rempah yang Menghidupkan Dapur

Pertama, aku memotong satu ekor ayam kampung menjadi 12 bagian. Ayam itu kuremas dengan air jeruk nipis, lalu kubilas hingga bersih. Sementara itu, wangi jeruk nipis sudah mulai menyegarkan udara di sekelilingku.

 Asam Sunti dan Daun Temurui (Daun Kari)/DokPri

Kemudian, kuhaluskan bawang putih, bawang merah, cabe rawit, kunyit, jahe, garam, dan asam sunti. Saat ulekan bergerak perlahan, warna kuning kunyit dan merah cabe semarak berpadu. Bumbu itu lalu kucampur dengan 200 ml air matang yang telah diberi air asam jawa. Ayam dimasukkan ke dalam rendaman bumbu. Selama sepuluh menit, ia beristirahat. Pada tahap ini, rasa seperti tengah dijalin perlahan. Aroma rempah mulai menyeruak. Sedap!

Minyak Mendidih dan Detik yang Mendebarkan

Selanjutnya, aku memanaskan 500 gram minyak dalam wajan besar. Minyak harus benar-benar mendidih. Jika tidak, ayam tidak akan renyah sempurna. Goreng ayam hingga tenggelam seluruhnya. Bunyi gemercik terdengar nyaring, sementara permukaannya perlahan berubah kecokelatan. Pada momen itu, dapurku terasa hidup. Namun, puncak keajaiban belum tiba.

Daun-daun yang Menari di Minyak Panas

Menjelang ayam matang, kumasukkan irisan bawang putih, 8 tangkai daun temurui, 5 lembar daun pandan, dan 50 gram cabe hijau iris. Dalam hitungan detik, harum khas langsung tercium. Gorengan daun temurui menciptakan aroma yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Karena itulah, Ayam Tangkap khas Aceh begitu berbeda dari ayam goreng biasa. Lalu, goreng dedaunan tersebut sekitar tiga menit. Setelah itu, angkat ayam goreng dan tiriskan. Hendaknya pada bagian proses ini lakukan dengan penuh perhatian agar daun tidak pahit dan ayam tidak terlalu kering.

Tersembunyi di Balik Harum

Ketika kusajikan di piring besar, potongan ayam bersembunyi di balik rimbun daun temurui dan pandan goreng. Dan di situlah letak keunikannya. Konon, hidangan ini dahulu hanya disajikan untuk kenduri dan tamu terhormat. Bahkan, restoran seperti Rumah Makan Hasan dan Ayam Tangkap Cut Dek turut melambungkan popularitasnya sejak 1990-an. Namun hari ini, hidangan istimewa tersebut hadir di rumahku.

Mengapa Ayam Tangkap Khas Aceh Layak Dicoba?

Pertama, ayam kampung memberikan tekstur yang lebih padat dan rasa lebih dalam. Selain itu, asam sunti menghadirkan sensasi asam unik yang tidak biasa. Lebih lanjut, daun temurui dan pandan menciptakan wangi khas. Karena itu, setiap gigitan terasa berlapis: gurih, asam, pedas, dan harum. Dan sebagai seseorang yang memasaknya sendiri, aku merasa seolah sedang merawat tradisi, bukan sekadar menggoreng ayam.

Resep Ayam Tangkap Khas Aceh ala Rati Kumari

Durasi: 60 menit | Porsi: 6 orang

Bahan:

1 ekor ayam kampung
1 buah jeruk nipis
50 gram cabe hijau
50 gram cabe rawit
8 tangkai daun temurui
8 buah asam sunti
5 lembar daun pandan
500 gram minyak goreng

Bumbu Halus:

4 siung bawang putih
8 siung bawang merah
Kunyit 2 cm
Jahe 2 cm
Garam secukupnya
200 ml air matang + air asam jawa secukupnya

Cara memasak: Ikuti cerita di atas, ya. Terima kasih!

Memasak Ayam Tangkap khas Aceh ini memberiku satu pelajaran, yaitu rasa yang kuat lahir dari kesabaran dan keberanian memainkan rempah. Sekarang giliran Anda!

“Yuk, coba masak Ayam Tangkap khas Aceh di rumah. Tangkap aromanya, rasakan gurihnya, dan biarkan dapur Anda bercerita seperti dapurku hari ini!”

(RK)

Tinggalkan Balasan