Takdir Anak dan Ramadan: Benarkah Ditentukan?

Menelusuri Peran Doa Orang Tua dalam Membentuk Masa Depan Anak

Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Bulan itu bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan bulan penempaan jiwa bagi diri kita, terutama bagi anak-anak kita. Dalam hening sahur, dalam khusyuknya sujud tarawih, terselip satu kekuatan yang sering luput kita sadari, yaitu doa orang tua.

Doa bukan sekadar rangkaian kata. Doa adalah visi, harapan, dan arah yang kita titipkan kepada Allah untuk masa depan anak-anak kita. Karena itu, Ramadan menjadi momentum paling tepat untuk menguatkan doa-doa tersebut, yang bukan hanya di bibir, tetapi juga dalam kesadaran, keteladanan, dan kesungguhan mendidik.

Berikut tujuh doa yang patut kita hidupkan kembali, bukan sekadar menghafalnya, tetapi juga merenungkannya dan mewujudkannya dalam laku kehidupan.

  • 1. Doa agar Anak Menjadi Saleh dan Salihah

Rabbi hab li minash-shalihin. (QS. As-Saffat: 100)

Nabi Ibrahim memanjatkan doa ini dalam penantian panjang akan keturunan. Beliau tidak meminta anak yang sekadar cerdas, rupawan, atau terpandang. Beliau memohon anak yang termasuk golongan orang-orang saleh.

Kata saleh bukan hanya berarti taat secara ritual, tetapi pribadi yang lurus, membawa manfaat, dan tidak menyakiti sesama. Di tengah zaman yang serba cepat dan penuh distraksi, doa ini menjadi fondasi utama. Sebab sebelum anak menjadi “apa”, ia harus menjadi “siapa”. Dari fondasi inilah doa-doa berikutnya menemukan pijakan yang kokoh.

  • 2. Doa agar Anak Menjadi Penyejuk Mata dan Bertakwa

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun, waj’alna lil-muttaqina imama. (QS. Al-Furqan: 74)

Jika pada doa pertama kita memohon kesalehan pribadi, pada doa ini kita berharap dampak yang lebih luas: anak yang menjadi qurrata a’yun, sang penyejuk mata.

Penyejuk mata bukan berarti anak tanpa kesalahan, melainkan anak yang kehadirannya menenangkan hati. Saat namanya disebut, orang tua tersenyum dan bersyukur. Lebih jauh lagi, doa ini menautkan keluarga dengan kepemimpinan dalam ketakwaan. Artinya, orang tua tidak hanya berharap anak menjadi baik, tetapi juga mampu menjadi teladan. Di sinilah doa melampaui kepentingan pribadi dan memasuki wilayah peradaban.

  • 3. Doa agar Anak Mendapatkan Perlindungan

U’idzukuma bi kalimatillahit tammati min kulli syaithanin wa hammatin wa min kulli ‘ainin lammah. (HR. Abu Dawud)

Anak yang saleh dan menyejukkan hati tetaplah insan yang hidup di tengah dunia dengan berbagai godaan. Maka dari itu, perlindungan menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat ditawar.

Doa ini dahulu dibacakan untuk Hasan dan Husain. Isinya sederhana, tetapi mendalam, yaitu perlindungan dari gangguan setan, bahaya makhluk, serta dari ‘ain, berupa pandangan yang disertai iri dan dengki. Di era media sosial, ketika eksposur begitu mudah dan pujian begitu cepat, doa perlindungan ini terasa semakin relevan. Orang tua tidak dapat mengendalikan seluruh dunia di sekitar anak, tetapi mereka dapat menitipkan anak-anaknya pada penjagaan Allah yang tanpa batas.

  • 4. Doa agar Anak Senantiasa Mendirikan Salat

Rabbi aj’alni muqimash-shalati wa min dzurriyyati, rabbana wa taqabbal du’a. (QS. Ibrahim: 40)

Yang menarik, Nabi Ibrahim tidak hanya mendoakan anaknya, tetapi juga dirinya sendiri: “Jadikanlah aku dan keturunanku orang yang mendirikan salat.”

Ada pelajaran besar di sini, yaitu sebelum meminta anak taat, orang tua harus terlebih dahulu menata ibadahnya. Salat bukan sekadar kewajiban lima waktu, melainkan poros kehidupan spiritual. Jika doa sebelumnya berbicara tentang karakter dan perlindungan, doa ini menegaskan sumber kekuatan itu sendiri, hubungan yang kokoh dengan Allah.

  • 5. Doa agar Dikaruniai Keturunan yang Baik

Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan thayyibah, innaka sami’ud-du’a. (QS. Ali ‘Imran: 38)

Doa ini dipanjatkan Nabi Zakaria pada usia yang tidak lagi muda. Kata thayyibah berarti baik, bersih, dan penuh keberkahan.

Doa ini penting bukan hanya bagi yang telah memiliki anak, tetapi juga bagi mereka yang sedang menanti atau mempersiapkan diri menjadi orang tua. Sebab kualitas keturunan bukan semata-mata persoalan genetik, melainkan persoalan keberkahan. Dan keberkahan selalu berawal dari doa yang tulus dan kesungguhan menjaga diri.

  • 6. Doa agar Anak Memahami Agama dengan Benar

Allahumma faqqihhu fiddin wa ‘allimhu ta’wila. (HR. Bukhari)

Di tengah arus informasi yang deras, pemahaman agama yang benar menjadi benteng utama. Banyak anak cerdas, tetapi kehilangan arah. Banyak yang religius, tetapi dangkal dalam pemahaman.

Doa ini memohon dua hal. Pertama, tentang kefakihan dalam agama. Kedua, tentang kemampuan memahami makna yang mendalam atau ta’wil. Artinya, bukan sekadar hafal, tetapi paham; bukan sekadar mengikuti, tetapi menyadari. Di sinilah doa bertransformasi menjadi investasi intelektual sekaligus spiritual.

  • 7. Doa agar Harta dan Kehidupan Anak Berkah 

Allahumma aktsir malahu wa waladahu, wa barik lahu fima a’thaitah. (HR. Bukhari)

Sering kali kita canggung membicarakan harta dalam konteks doa. Padahal, Islam tidak memusuhi kekayaan. Yang ditekankan adalah keberkahan.

Melalui doa ini, kita tidak sekadar memohon kelimpahan, tetapi juga memohon keberkahan atas setiap karunia yang Allah berikan. Kita berharap anak tidak hanya memiliki harta, tetapi mampu menjadikan hartanya sebagai sumber manfaat, bukan mudarat. Dengan begitu, kita tetap menautkan urusan dunia pada orientasi akhirat.

  • Lebih dari Sekadar Rangkaian Kata

Jika kita merangkai ketujuh doa ini, kita sedang menyusun peta lengkap pendidikan anak, yaitu tentang kesalehan, ketakwaan, perlindungan, ibadah, keberkahan, pemahaman agama, hingga kesejahteraan hidup.

Ramadan mengajarkan kepada kita bahwa perubahan besar lahir dari amalan yang tampak kecil, tetapi kita lakukan secara konsisten. Doa orang tua termasuk di dalamnya. Meski tidak menggema di ruang publik, doa itu mengarahkan dan menentukan jalan hidup seorang anak.

Karena itu, jangan lewatkan Ramadan tanpa memperbarui doa-doa kita, bukan hanya membacanya setelah salat, tetapi menjadikannya kesadaran dalam mendidik, menegur, memuji, dan memberi teladan.

Pada akhirnya, anak bukan sekadar amanah yang dibesarkan. Ia adalah titipan yang kelak menjadi saksi apakah orang tuanya sungguh-sungguh mendoakan dan membimbingnya menuju rida Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara doa-doa dalam kekhusyukan itu, tersimpan masa depan yang terang dan terarah.

Wallahu a’lam. (RK)

*) dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan