BERMULA DARI ARTIKEL DALAM SELEMBAR KORAN

Terbaru678 Dilihat

Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom

Di penghujung tahun 2021, sekelompok alumni yang masuk Akademi Gizi tahun 1971 berniat memperingati 50 Tahun kebersamaan mereka. Beberapa alumni segera berinisiatif mengambil langkah persiapan untuk membuat acara memperingati setengah abad persahabatan dalam wadah yang dinamakan AKZI’71 singkatan dari Akademi Gizi Tahun 1971. Selain itu tentu acara ini menjadi ajang mempererat tali silaturahmi.

Keinginan bertatap muka secara langsung terpaksa harus disisihkan. Situasi pandemi jelas tidak memungkinkan bagi para alumni yang sebagian besar sudah menapaki usia senja berkepala 7 ini. Satu-satunya cara melepaskan rasa rindu serta saling mengingat ulang kenangan-kenangan lama selama berada di kampus tentu lewat Dunia Maya.

Temu kangen itu akhirnya dilakukan secara virtual. Acara yang digelar sederhana. Selain saling menyapa juga ada beberapa teman yang memang dengan sengaja bermulut usil mengungkit-ungkit kisah lawas selama di bangku kuliah. Tentu ini dimaksudkan hanya untuk meriahkan suasana.

Pertemuan semacam ini tentu jarang dilakukan. Karenanya perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya melepas rasa kangen tetapi juga disisipi cerita terkait sejarah Profesi Gizi yang selama ini ditekuni.

Untuk hal ini tokoh yang dianggap paling tepat untuk menyampaikan asal mula berkembangnya Gizi di Indonesia adalah Prof. DR. Soekirman. Seorang Pini sepuh sebagai pendidik di Akademi Gizi dan juga mendidikasikan dirinya secara “all-out” dalam mengembangkan Dunia pergizian di Indonesia yang diundang dalam pertemuan itu. Sosok Guru Besar di IPB yang penuh dengan pengalaman di tataran Pemerintahan secara nasional maupun dunia ilmiah international.

“Munculnya sosok bapak Gizi Indonesia itu berawal dari satu artikel yang tertulis dalam “Colombo Daily News Paper” Pak Professor yang sudah berusia di atas 80 tahun ini memulai kisahnya di hadapan para mantan mahasiswanya.

Kisah yang disampaikan tentang seorang dokter yang bertugas di kapal selama 6 bulan di tahun 1949, dengan jalur pelayaran ke Belanda kemudian ke London. Dokter ini bernama Poerwo Soedarmo.

Dalam pelayaran ke Amsterdam Pak Poerwo begitu ia biasa disapa, membaca tulisan di Koran itu tentang masalah kekurangan Gizi parah yang merebak melanda negara-negara berkembang di dunia termasuk Indonesia. Ia merasa trenyuh dan prihatin ketika mengetahui Indonesia merupakan negara dengan keadaan Gizi terburuk.

Tak disangka tak dinyana keprihatinannya ini ternyata menjadi titik awal perubahan total dalam hidupnya untuk mulai menggeluti dunia pergizian.

Ditambah lagi di Amsterdam ia berjumpa dengan beberapa pakar yang pernah bekerja di
Institute Eijkman Jakarta tahun 1945, antara lain van Veen, Terra, Postman, Jansen dan Groen Direktur sekolah dietetik di Amsterdam. Mereka ini dari beragam disiplin ilmu, ada biokimia, pertanian, dokter medis, dan nutrisionis. Ketika bekerja di Institute Eijkman mereka melakukan penelitian di bidang pertanian, pangan dan Gizi pada beberapa desa di Jawa Tengah.

Pak Poerwo sendiri lulusan STOVIA, sekolah kedokteran di zaman Belanda di Batavia (Jakarta). Lulus tahun 1927 kemudian dari tahun 1942-1945 bekerja sebagai dokter pemerintah. Selain itu bekerja di Rumah Sakit swasta dan sebagai dokter keluarga. Setelah kemerdekaan, ia menawarkan diri kepada Dr. Leimena yang kala itu ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan untuk mengabdikan diri pada negara. Namun pada saat di awal kemerdekaan itu berbagai institusi/lembaga pemerintahan termasuk Kesehatan belum siap untuk menjalankan fungsinya.

Yang lebih menarik, cerita prof. Soekirman melanjutkan kisah tentang pak Poerwo, ketika beliau ke London sebenarnya untuk belajar tentang malaria dan TBC, tetapi akhirnya berakhir dengan lebih banyak mendalami tentang Gizi. Bahkan kemudian di tahun 1950 mendapat pendidikan gizi lebih lanjut di “Colombia University Institute of Nutrition Sciences New York.

Sekembalinya ke Jakarta di akhir tahun 1949, Pak Poerwo melapor kepada Menkes Dr. Leimena. Kemudian Menkes menjelaskan bahwa sekarang Institute Eijkman dengan Lembaga Makanan Rakyatnya kini sudah diserahkan dan berada dalam tanggungjawab Kementerian Kesehatan. Maka Pak Poerwo ditunjuk sebagai Direktur pengelola lembaga tersebut dari tahun 1950-1958. Lembaga Makanan Rakyat inilah yang merupakan institusi Gizi pertama di Indonesia dengan tugas Utama mengembangkan institusi pendidikan bagi tenaga gizi.

Begitu semangatnya Pak Professor berkisah, seolah lupa akan usia. Tak terasa hampir dua jam sudah waktu dihabiskan. Namun akhirnya beliau menyadari dan meminta maaf karena lupa kalau yang mendengarkan itu bukan mahasiswa, tetapi para mantan mahasiswa yang juga sudah menapaki usia senja.

Beberapa waktu setelah Prof. Soekirman berkisah di acara temu kangen itu, beliau menurunkan suatu tulisan berjudul “Institution building and leadership in nutrition in Indonesia up to 1980’s.-A historical Note.

Ada tiga misi yang diemban Pak Poerwo, tulis Prof. Soekirman tentang pak Poerwo. Pertama mendirikan Sekolah Pembantu Ahli Gizi (SPAG) sederajat Sekolah Menengah Atas. Kemudian Akademi Gizi, untuk mendidik para dietisen dan nutrisionis setingkat Sarjana Muda awalnya berlokasi di Bogor kemudian dipindahkan ke jl. Hang Jebat III Kebayoran Baru Jakarta Selatan di sekitar tahun 1965.

Hebatnya Pak Poerwo ini membangun kesemuanya itu dilakukannya secara mandiri, lanjut Prof. Soekirman. Begitu gigih dan besar jasa beliau dalam meletakkan fondasi untuk mencetak tenaga-tenaga gizi, khususnya tenaga penyuluh bagi masyarakat.

Kedua, Institute Eijkman diaktifkan untuk melakukan berbagai penelitian makanan dan Gizi melalui laboratorium yang ditingkatkan. Hal ini mendapat dukungan penuh dari konsultan-konsultan lembaga PBB WHO dan FAO.

Lembaga ini menjadi cikal bakal berkembangnya “Center for Research and Development for Food and Nutrition (CRDN). Di era repelita ini ditingkatkan bersama Pusat Pengembangan teknologi pangan (“Food Technology Development Center”) dan Departemen Gizi Keluarga di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Ketiga, pendidikan Gizi masyarakat. Tahun 1950 Pak Poerwo mengembangkan poster dengan slogan yang dikenal sebagai “4 Sehat 5 sempurna”. Meskipun tidak ada penelitian khusus tentang efektifitas pesan Gizi dalam Slogan itu, namun tak dapat dipungkiri isi pesannya sangat dikenal dan dikenang oleh banyak kalangan.

Tanpa disadari Pak Poerwo telah mengembangkan jejaring kerja yang lebih luas, tidak terbatas hanya dalam bidang Kesehatan. Kesempatan berharga Pak Poerwo adalah menjadi narasumber dalam Kongres LIPI pertama di Malang pada tahun 1958. Juga di tahun 1968 berkesempatan menjadi anggota Tim persiapan Lokakarya Pangan dan Gizi Nasional pertama yang diselenggarakan oleh BAPPENAS, LIPI dan US Academic of Science yang kemudian menjadi kegiatan rutin diselenggarakan setiap tahun yang dibuka oleh Presiden RI kala itu.

Itulah sekilas kisah tokoh perintis pergizian Indonesia, yang kemudian sebelum pensiun menjadi guru Besar di Universitas Indonesia dan Kepala Direktorat Gizi Department Kesehatan RI. Selain Pak Poerwo ada Dua sosok lain yang berkontribusi signifikan meletakkan dasar bagi kemajuan dan perkembangan dunia Gizi di Indonesia mereka adalah Christian Eijkman yang memimpin Institut Eijkman dan Widjojo   Nitisastro, Menteri BAPPENAS pertama di era kepemimpinan Presiden Soeharto.

Semoga sekelumit kisah ini dapat menambah wawasan cakrawala Gizi di Indonesia bagi generasi muda insan Gizi dan masyarakat pada umumnya.

 

 

Tinggalkan Balasan