Serumpun Padi
Serumpun padi tumbuh di sawah
Hijau menguning daunnya
Tumbuh di sawah penuh berlumpur
Di pangkuan ibu pertiwi
Serumpun jiwa suci
Hidupnya nista abadi
Serumpun padi mengandung janji
Harapan ibu pertiwi
Lirik lagu di atas karangan Raden Maladi. Bercerita tentang gambaran alam (sawah) dan mata pencaharian petani. Di dalamnya tersirat makna mendorong untuk menjaga dan mencintai tanah air ibu pertiwi, meskipun harus menghadapi berbagai rintangan dan tantangan.
Ini sedikit menelisik kisah tentang padi. Nama ilmiahnya Oryza sativa L.Tanaman yang umum dibudidaya di sawah atau di ladang. Sarat mengandung zat gizi, terutama karbohidrat sembagai sumber energi.
Dalam kisah pewayangan padi dilambangkan sebagai Dewi Sri, dewi yang membawa kesuburan dan kelimpahan pangan.
Diduga dimulai ditanam oleh orang-orang India atau Indocina.Di Indonesia tercatat sudah dibudidayakan sejak sekitar 1500 SM.
Nama padi bagi masyarakat Indonesia beragam, sebutannya banyak menurut wujud bentuknya. Ibarat kata”mencala putra, mencala putri” berubah wujud menyandang nama sendiri.
Ketika masih berupa tanaman di sawah atau di ladang, buahnya disebut padi. Ketika dituai dinamakan gabah.
Gabah yang ditumbuk dikenal dengan nama beras. Beraspun setelah dimasak, jadilah nasi. Nasi juga jika diolah dengan menggunakan banyak air berubah menjadi bubur.
Bubur nasi ini memang umum dikonsumsi masyarakat sebagai menu sarapan di pagi hari. Ada referensi yang menunjukkan kerugian mengonsumsi bubur nasi, terutama bagi diabetesi atau penderita diabetes. Karena dapat memicu meningkatkan gula darah.
Mungkin saja hal ini terjadi jika asupan makanan pada penderita tidak terkendali. Dapat menyebabkan “sugar spike” atau lonjakan kadar gula dalam darah. Karena itu memang waktu, jenis dan jumlah makanan pada penyandang diabetes harus diatur.
Ada olahan nasi di daerah Minahasa yang disebut bubur Menado. Campurannya beragam ada kangkung, bayam jagung, ubi atau labu kuning dan sebagainya. Disantap lengkap dengan ikan asin dan sambal namanya Tinuntuan.
Namun ‘Versi Taste Atlas” mencatat makanan ini masuk dalam daftar salah satu makanan terburuk di dunia. Itu menurut penilaian pengguna plattform tersebut yang mungkin tidak terbiasa mengonsumsinya.
Bagi masyarakat Minahasa Tinuntuan lezatnya tetap melekat di lidah. Itu makanan tradisional yang diwariskan para leluhurnya secara turun temurun.
Padi memang di tanam di berbagai daerah, bahkan termasuk di daerah Papua. Ada pro dan kontra dalam hal ini. Mungkin kuatir pola makan tradisional yang sudah cukup baik takut tergerus oleh nasi, menggantikan makanan pokok berupa sagu dan umbi-umbian yang sejatinya sama fungsinya dengan beras.
Kebijakan pemerintah pun kini mendorong agar Indonesia dapat mencapai swasembada beras dan tidak akan lagi mengimpor beras hingga 2026.
Kisah padi memang menarik. Bahkan para pencipta lagu banyak menulis lirik terkait padi. Ada yang berkaitan dengan perpisahan, cinta, anak, ayah, Tuhan, alam dan sebagainya. Bahkan ada kata bijak yang berbunyi: “Tirulah ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk”. Maknanya sangat mendalam tentang pentingnya menjaga sikap rendah hati, bahkan setelah meraih kesuksesan atau memiliki banyak pengetahuan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)







