PERLUKAH EMOSI DALAM DIRI?

Terbaru748 Dilihat

Dalam Gambang Buku Budaya-2017 tersurat suatu puisi berjudul “Kota Luka”
karya Indrian Koto. Puisi itu menggambarkan perasaan penuh emosi seorang manusia yang terdampar di tengah kekacauan dan keputusasaan.
Puisi yang mencerminkan suasana kepedihan dan keruntuhan dalam satu kota.
Kutipan lengkapnya seperti ini:

“di kota ini dulu aku menangisi kesedihan yang tiba-tiba mengetuk setiap pintu.
orang-orang kehilangan banyak
aku kehilangan siapa pun.
aku berdiri di jalan
orang-orang berhamburan
seperti gedung yang runtuh
mereka berusaha mendapatkan apa yang masih bisa mereka miliki
aku melepaskan semua yang kupunya.
bertahun lalu di sini, aku sempat menyesali
mengapa belum mengenalmu
untuk kubagi banyak luka”

Penulis puisi itu mencurahkan perasaannya dengan menyatakan gambaran dalam satu kota yang begitu banyak mengalami kehilangan. Semua orang kehilangan sesuatu yang berarti bagi mereka, baik berupa material maupun hubungan interpersonal. Kehilangan ini juga mencuatkan pengalaman pribadi sang penulis yang merasa telah kehilangan banyak hal. Suatu metafora dari kehancuran dan kekacauan yang melanda dirinya.

Setiap individu punya perasaan yang diartikan sebagai pengalaman subjektif dan sadar tentang spa yang dirasakan. Ini merupakan respons yang terhadap hal-hal yang terjadi di dalam diri atau di luar diri individu tersebut. Terlihat dalam wujud bahagia, sedih, cinta, atau rasa sakit dan sebagainya. Pencetusnya bisa karena emosi, sensasi fisik, atau pikiran.

Lalu apa bedanya perasaan dengan emosi? Emosi juga merupakan suatu perasaan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Perasaan dan emosi meski memang saling terkait tapi berbeda. Perasaan ada yang mengartikan sebagai pengalaman yang muncul secara lebih lambat dan mendalam, sementara emosi merupakan respons yang lebih cepat dan kuat yang dapat berperan dalam mengungkapkan perasaan, melibatkan hubungan dengan orang lain, serta memotivasi tindakan seseorang. Karena itu emosi juga dibutuhkan dalam kehidupan manusia.

Banyak faktor yang bisa memicu munculnya emosi seseorang. Mulai dari pengalaman, keyakinan, sikap, interaksi dengan lingkungan. Kesemuanya bisa keluar melalui bahasa tubuh, wajah, suara maupun komunikasi verbal berupa kata-kata.

Emosi ada yang positif dan ada yang negatif. Tentu saja yang positif berperan dalam mengatur perilaku, memberi makna pada peristiwa, dan membantu memahami situasi sosial.  Sebaliknya emosi negatif dalam wujud kemarahan, kecemasan, atau sedih berlebihan banyak memiliki kerugian, baik bagi kesehatan fisik maupun mental. Kerugian ini dapat berupa peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, melemahnya sistem kekebalan tubuh, masalah pencernaan, depresi, dan bahkan niat untuk bunuh diri. Karena itu penting
menahan diri dari sifat emosional yang negarif.

Orang Jepang mengenal beberapa kosakata bagi emosi. Ada “Ikari” yang berarti kemarahan, “Kanashimi untuk kesedihan, “Yorokobi untuk kegembiraan, Kyoufu untuk ketakutan, dan Odoroki untuk kejutan.

Dengan menahan emosi jiwa yang negatif, seseorang dapat menghindari konflik yang tidak perlu, mengendalikan kemarahan, dan meningkatkan stabilitas emosional.

Karenanya ada kata bijak menenangkan yang penting untuk disadari dan direnungkan: “ketika emosi memuncak, berhentilah sejenak dan tarik napas dalam-dalam sebelum bereaksi.” Karena menahan emosi bukan berarti memendamnya, tetapi mengolahnya dengan bijak.
Untuk itu keheningan adalah salah satu jawaban terbaik ketika emosi sedang bergejolak. Itu tanda mampu mengendalikan diri karena mengendalikan diri adalah ciri kekuatan sejati, bukan kelemahan hati.”

Menurut Lucius Annaeus Seneca, atau yang dikenal sebagai Seneca, seorang filsuf stoik salah satu mazhab filsafat Yunani kuno Romawi “hanya orang bijak yang mampu menjaga ketenangan di tengah badai emosi, karena ia tidak membiarkan perasaan menguasai pikirannya”.
(Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom)

 

Tinggalkan Balasan