Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom
Menulis kini bagi saya menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Ini berkat bergabung dalam suatu kelompok literasi yang diwadahi Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD). Meskipun soal menulis bukan Hal yang baru sama sekali, tapi itu dulu saya lakukan tanpa bekal pengetahuan yang memadai. Saya lakukan begitu saja mengalir secara alami. Ada artikel tentang Gizi, ada puisi, ada juga cerita-cerita pendek pengalaman dan kejadian yang saya alami sehari-hari. Tulisan-tulisan itu sudah cukup banyak, tetapi tersebar dan tercecer entah kemana.
Bermula dari informasi dari seorang teman kuliah dulu yang memperkenalkan saya pada inisiator YPTD, uda Thamrin Dahlan. YPTD membantu para penulis untuk menerbitkan tulisan dalam bentuk buku secara gratis. Memang kata orang buku merupakan muara dari tulisan dan menjadi mahkota para penulis. Ibarat ujar bijak seorang cendekiawan yang mengatakan jika engkau bukan anak raja atau ulama, menulislah. Karena tulisan akan abadi meskipun penulisnya sudah tiada.
Sejak itu saya mulai berbenah diri untuk menulis. Apalagi ketika berinteraksi dengan uda Thamrin di YPTD, ada target yang diberikan untuk menulis 3 buku setahun. Ini jadi pemicu meningkatnya adrenalin dalam tubuh. Apa lagi membaca himbauan menulislah setiap hari, dan lihat apa yang terjadi.
Puji Tuhan, itu semua menjadi tantangan yang mendorong untuk mencapai target yang diberikan. Kini waktu berjalan setahun sudah. Tiga buku ber ISBN telah diterbitkan lewat dukungan YPTD. Bahkan masih ada 4 naskah lagi tengah menunggu untuk diajukan mendapatkan ISBN.
Hikmah lain yang saya peroleh, adalah belajar hal baru menulis Pentigraf, kependekan dari cerita pendek tiga paragraf yang dikembangkan oleh Dr. Tengsoe Tjahjono. Dinamakan pentigraf sebab syarat utamanya adalah terdiri dari tiga paragraf tidak kurang dan tidak lebih dengan jumlah karakter 210.
Pentigraf haruslah memiliki tokoh, alur cerita, dan konflik yang kuat. Untuk itu Penulis bisa menyampaikan pesan tanpa bertele-tele
Pembaca juga tidak perlu banyak waktu untuk membacanya. Dalam waktu singkat, maknanya terpahami. Rumusnya sederhana yaitu 739. Paragraf pertama terdiri dari 7 kalimat, paragraf ke Dua tiga kalimat dan paragraf ketiga 9 kalimat.
Kini dalam keadaan WFH ponsel jadi teman utama mengisi waktu. Keinginan untuk menulis, menulis dan menulis semakin membara.
Kebiasaan ini menggantikan, bahkan menghindarkan kecanduan menonton Netflix atau bermain games dan menjauhkan diri dari berbagai berita tak berguna dalam terpaan media sosial yang muncul bertubi-tubi setiap hari.




