Mengolah makanan sama dengan memasak. Ini proses mengubah bahan makanan mentah melalui berbagai teknik dan metode menjadi makanan siap saji untuk dikonsumsi.
Tujuan mengolah atau memasak itu untuk mengubah tekstur, rasa, dan penampilan bahan mentah menjadi lebih lezat dan menggugah selera untuk dimakan. Selain itu juga memenuhi zat gizi yang dibutuhkan tubuh.
Hasil olahan atau masakan akan disantap jika sesuai selera. Karena selera menyangkut rasa, nafsu makan, dan kecenderungan atau minat terhadap makanan.
Soal rasa, ada rasa dasar yaitu sensasi pada lidah seperti manis, asam, asin, pahit, umami. Kombinasi rasa dasar dengan aroma, tekstur, serta kesan menimbulkan cita rasa.
Cita rasa terbentuk melalui interaksi indera: perasa (lidah), penciuman (hidung), perabaan (tekstur), penglihatan (penampakan), dan pendengaran (suara saat makan). Tetapi juga tentang bagaimana kesemuanya itu berpadu dan menciptakan pengalaman rasa yang unik. Pasalnya juga menyangkut ilmu dan seni (science and art).
Salah satu faktor yang memengaruhi cita rasa adalah cara memasak, menyimpan, dan menyajikan makanan. Memasak dengan baik melibatkan pemilihan bahan berkualitas, metode memasak yang tepat, dan perhatian terhadap rincian waktu dan suhu.
Banyak teknik memasak yang dapat digunakan seperti
Merebus (poaching, boiling simmering). Menggoreng (deep frying), Memanggang (baking, grilling). Mengukus (steaming).
Menumis (sautéing). Membakar (roasting).
Penanganan hasil masakan berupa makanan tentu penting diperhatikan. Setidaknya ada 4 perilaku dasar yang harus diperhatikan dalam mengolah makanan. Bersihkan, pisahkan, masak, dan dinginkan. Ini akan menjaga makanan tetap aman.
Memasak dapat juga digunakan sebagai sarana mempererat ikatan dengan orang lain misalnya, dengan memasak bersama kemudian makan bersama. Bahkan dapat menciptakan bermacam hidangan dari berbagai budaya.
Tapi soal makan itu juga gampang-gampang susah. Kalau mau dibilang ribet ya tidak juga, tapi sering tidak sederhana.
Makan itu memang tindakan memasukkan makanan atau minuman kedalam mulut. Kemudian mengunyah dan menelannya. Ini merupakan proses penting untuk mendapatkan asupan energi, dan zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh agar dapat berfungsi dan bertahan hidup
Namun ibarat kata, mana yang harus dipilih ” apakah hidup untuk makan atau makan untuk hidup?” mana yang lebih baik? Keduanya punya tempat sendiri-sendiri.
Keseimbangan keduanya memungkinkan setiap orang untuk menikmati makanan tanpa mengorbankan tujuan hidup lainnya. Keduanya harus berjalan serasi. “Makan untuk hidup,” penting agar sehat untuk mencapai tujuan hidup. Para ahli gizi dan kesehatan mendukung pandangan ini.
Tetapi “hidup untuk makan” juga wajar untuk menikmati hidup dan merayakan momen penting. Meski orang yang berpendapat seperti ini mungkin cenderung menghabiskan waktu dan uang
berburu kuliner lezat atau mewah menjadi prioritas.
Makan bagi mereka merupakan pengalaman sosial dan emosional yang bukan hanya sekadar kebutuhan fisik. Tetapi juga menjadi sarana untuk berkumpul, berekspresi, dan menikmati kehidupan.
Tradisi kuliner di berbagai negara sering kali diisi dengan makna sejarah, simbolik, dan perayaan, yang menjadikan makanan sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan tubuh. Dalam budaya Prancis dan Italia misalnya, menikmati makanan enak bersama keluarga dan teman-teman dianggap sebagai momen yang sangat penting dalam hidup.
Di Indonesia “bancakan” merupakan tradisi yang mengandung makna budaya, ritual, makna simbolis serta dari jenis makanan yang dimasak dan dihidangkan. Di banyak daerah ini hasil masak bersama yang meliputi berbagai aspek.
Makan hasil masakan pun dilakukan bersama. Hal ini dilakukan untuk merayakan atau memperingati peristiwa tertentu, seperti syukuran, selamatan, atau bahkan sekadar kumpul dengan kerabat dan sahabat. Lazimnya Hidangan ditempatkan dalam satu wadah besar biasanya digunakan tampah dan dinikmati bersama. Di Lampung ada kebiasaan “nyeruit” makan bersama dari makanan dan sambal yang ditempat dalam satu cobek besar. Bahkan ada makanan yang dihamparkan diatas daun pisang memanjang, alas daun kata orang Sunda untuk dimakan bersama.
Mengolah atau memasak makanan dan makan merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Karena itu ada kata bijak yang mengatakan ” Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang”. Karena kalau kebablasan melahap hasil memasak ini bisa menyengsarakan badan.
Seperti Pernyataan Hippocrates filsuf dan dokter Yunani yang hidup sekitar 400 SM. “Jadikan makanan obatmu, bukan obat makananmu” yang oleh RRI.co.id diadop menjadi
“Jadikan makananmu sebagai obat sebelum obat jadi makananmu”. Karena itu memasak dengan cara yang sehat dan membiasakan memakan makanan sehat harus jadi andalan bermanfaat.
(Abraham Raubun.B.Sc, S.,Ikom)






