RAJIN PANGKAL KAYA, MALAS PANGKAL BEBAL

Terbaru196 Dilihat

Dua kata ini tentu tidak asing dijumpai dalam keseharian kehidupan manusia, rajin dan malas. Kosa kata rajin menggambarkan seseorang yang memiliki semangat untuk bekerja atau melakukan sesuatu dengan tekun dan giat, konsisten secara terus menerus.

Kebalikannya dengan malas
seseorang yang malas berarti tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu.  Seseorang tidak ingin melakukan sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan, atau kurang semangat dalam melakukan aktivitas.

Keduanya punya untung rugi. Rajin untungnya bisa meningkatkan hasil pendapatan, bisa mencapai apa yang diinginkan atau dicita-citakan, bisa meningkatkan pengetahuan atau kepandaian. Tapi kalau terlalu atau berlebihan ada juga kerugian bisa stres, kurangnya waktu istirahat, dan mengalami potensi kelelahan fisik atau mental.

Kalau malas rasa-rasanya tidak ada untungnya. Lain halnya kalau bermalas-malasan bisa diartikan sedang bersantai di rumah atau di suatu tempat yang indah.

Lalu bagaimana mengatasi rasa malas ini.  Ada banyak cerita fiksi yang bisa diambil hikmahnya. Dikenal dengan Fabel. Tokoh-tokohnya adalah binatang yang berperilaku, berpikir, dan berbicara seperti manusia. Fabel sering kali mengandung pesan moral yang dapat diambil dari cerita tersebut.

 Para fabulis terbaik sepanjang masa adalah Aesop, Franz Kafka, Beatrix Potter, Romulus, Tim Winton, Hans Christian Andersen, dan Brothers Grimm.

Juga semboyan “semut Ireng” patut ditiru. Semut  Ireng atau semut hitam dikenal sebagai hewan pekerja keras yang selalu bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, bahkan dalam  mengadapi  kesulitan.

Ada cerita belalang dan semut yang terkenal dari Aesop.
Kutipannya sebagai berikut:

Di suatu hutan yang lebat dan indah, sekawanan semut sedang bergotong royong mengumpulkan makanan ke dalam rumah mereka. Dengan bersemangat, mereka saling membantu membawa berbagai macam jenis makanan, seperti sayur dan buah yang langsung mereka petik dari sekitar hutan.

Ketika sedang asyik berjalan, belalang yang melihat kegiatan gotong royong para semut mulai penasaran dan mendekat. Dengan lantang, dia bertanya, “Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya belalang. Salah satu semut menjawab dengan tidak kalah lantang, “Kami sedang mengumpulkan dan menyimpan persediaan makanan untuk musim dingin.”

Jawaban dari salah satu semut itu membuat belalang tertawa keras. “Kalian ini terlalu rajin. Musim dingin masih lama. Harusnya kalian bersantai-santai saja seperti aku.” Belalang sangat bersemangat meledek semut. Akan tetapi, para semut tidak menghiraukan ledekan itu. Mereka tetap bersemangat mengambil banyak makanan.

Berselang beberapa bulan, musim dingin tiba. Belalang mulai panik karena buah dan sayur di sekitar hutan sudah hampir habis. Dia hanya bisa menemukan sedikit makanan untuk menghilangkan rasa lapar. Berhari-hari setelahnya, belalang benar-benar kehabisan makanan.

Dengan langkah lemas, ia berjalan ke rumah para semut. Semut yang membuka pintu tentu saja kaget melihat wajah pucat belalang. Diapun spontan bertanya, “Ada perlu apa kamu ke sini?” Belalang segera membalas, “Aku kelaparan. Boleh aku meminta makanan kalian?”

Semut kembali menanggapi perkataan belalang, “Apakah kamu tidak malu sudah pernah meledek kami yang bersusah payah mengumpulkan makanan?”

Belalang tersinggung mendengar pertanyaan salah satu semut itu. Dia segera membalikkan tubuh dan pulang ke rumah.

Beberapa waktu setelahnya, para semut mulai mengkhawatirkan belalang. Mereka dengan berbesar hati mengambil beberapa buah yang ada di tempat penyimpanan makanan, lalu membungkusnya ke dalam kain berwarna coklat.

Semut yang membukakan pintu tadi bertugas untuk mengantarkan buah-buahan itu kepada belalang. Akan tetapi, sesampainya di rumah belalang, tidak ada jawaban yang terdengar setelah beberapa kali semut itu memanggil belalang. Karena khawatir, semut kembali ke rumah dan meminta bantuan teman yang lain untuk membuka pintu rumah belalang.

Setelah bekerja sama, mereka berhasil membuka pintu rumah belalang. Mereka sangat terkejut ketika menemukan belalang yang pingsan kelaparan. Salah satu semutpun segera membuka mulut belalang dan memberikan air perasan buah jeruk. Tidak lama setelahnya, ternyata cara itu berhasil. Belalang terbangun dan ia tidak percaya para kawanan semut sedang berada di rumahnya.

Belalang segera menyadari kesalahan yang telah ia lakukan. “Maafkan aku,” ucap belalang dengan penuh rasa sesal. “Seharusnya, aku tidak meledek kalian. Seharusnya, aku mencontoh sifat rajin kalian.” Kawanan semut berkumpul mendekat dan memeluk belalang. Mereka memaafkan belalang dan akhirnya mereka menjadi teman baik.
(sumber:https//kumparan.com)

Lalu apa hikmah yang dapat dipetik dari fabel tersebut. Pentingnya kerja keras dan mempersiapkan masa depan dengan bijak, itu intinya. Apalagi menyongsong Indonesia Emas 2045 mendatang. Nampaknya upaya menciptakan generasi emas tidak boleh diabaikan. Terutama membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang bercirikan sehat, berumur panjang, terdidik dan berahlak serta memiliki akses untuk hidup layak.

Rasa-rasanya tak akan ada yang menyangkal kalau status gizi anak yang baik akan mendukung tumbuh kembang yang optimal. Karena itu salah satu hak anak yang dilindungi undang-undang dan di dukung Perserikatan Bangsa-Bangsa disamping perlindungan terhadap berbagai kekerasan, penelantaran dan diskriminasi.

Kini terpaan gejala malas makin merebak, merambat dan menyusup lewat teknologi canggih  dalam genggaman. Upaya digital literasi perlu giat digalakkan melawan malas dengan menebar rajin.

Sifat bodoh mungkin masih bisa diajari (teachable), tapi malas menuntun seseorang kearah suatu sifat dan sikap “bebal”. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sulit menerima nasihat, tidak mau belajar dari kesalahan, atau terus melakukan hal yang sama berulang kali.

Ingat kata pepatah “Kerja keras tidak menjamin hidup sukses, apalagi kerja malas.” Juga perlu dicamkan: “Orang malas cenderung tidak mau mengambil risiko, tapi mengekspresikan diri dengan cara merobohkan karya orang lain.”  Itu dikatakan- Ann Rule.

(Abraham Raubun.B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan