Tanpa manusia, budaya tidak ada, namun lebih penting dari itu, tanpa budaya, manusia tidak akan ada”
Itu kata-kata anthropolog Amerika Clifford Geertz (1973). Ia juga mendefinisikan kebudayaan sebagai : suatu sistem keteraturan dari makna dan simbol-simbol bagi individu-individu mendefinisikan dunia mereka, mengekspresikan perasaan-perasaan mereka, dan membuat penilaian mereka.
Menarik menyimak postingan facebook seorang teman yang Kepala Desa Cibiru Wetan, salah satu desa di Kabupaten Bandung. Tercantum dalam video yang diunggahnya “Tagline” dalam bahasa Sunda “Rengse Pancen Dipigawe , Tuntas Tugas Dipilampah”. Terjemahan bebasnya: Selesai karena memang dikerjakan, tugas tuntas karena dilakukan”.
Ini sejatinya berkaitan dengan semangat “JUNUN JUCUNG”, maknanya semua pekerjaan pembangunan harus diselesaikan secara tuntas serta dapat dipertanggungjawabkan.
Tentu kalimat pendek ini dipakai untuk menggambarkan semangat dalam berkinerja. Budaya Masyarakat Sunda memang memiliki makna berharga dalam keseluruhan perilaku dan hasil karya baik bersifat fisik maupun non fisik yang diterapkan dalam setiap pekerjaan.
Oleh para leluhurnya yang dikenal sebagai “Karuhun Sunda” sudah dilaksanakan dalam manajemen pemerintahan dan laju pembangunan sejak jaman “baheula” yang sekarang kembali dicuatkan kepermukaan menjadi trend pembangunan masa kini oleh banyak pemerintah daerah.
Istilah-istilah seperti “BRUKBRAK”, bermakna semua pemangku kepentingan (stakeholders) secara sukarela bermusyawarah. Istilahnya “Hade Goreng Ku Omong”. Sisi baik maupun buruknya harus dibicarakan bersama berdasarkan panggilan hati yang saling terbuka dan membuka diri.
Banyak daerah dalam melaksanakan pembangunan dengan berbasis pada nilai-nilai budaya lokal. Ada yang bernilai filosofis seperti di Jawa Barat “Insun Medal Insun Madangan” artinya aku lahir untuk memberi penerangan atau pencerahan kepada sesama insan.
Ada juga yang bernilai manajerial semisal dalam perencanaan “Sirnaning Cipta; Sirnaning Rasa; Sirnaning Karsa”. Ketika pelaksanaan digunakan kata “Sirnaning Diri; Sirnaning Hirup; Sirnaning Hurip” Sedangkan untuk pengawasan ” Sirnaning Wujud”. Juga nilai operasional (Dasa Marga Raharja) antara lain: Taqwa; Someah; Surti; Jembar; Guyub; Motekar; Tarapti, Taliti, Ati-Ati; Punjul Luhung (sumber acuan compasiana.com).
Nilai-nilai operasional ini ada yang mencerminkannya dalam rangkaian kata-kata “ Sauyunan Babarengan Ilubiung Ngaluluguan Pangwangunan ” disingkat menjadi “SABILULUNGAN“. Sabilulungan sendiri merupakan konsep kearifan lokal dalam budaya Sunda yang menekankan pada semangat gotong royong, kebersamaan, dan persatuan.
Pengalaman beberapa bangsa seperti Korea Selatan, Jepang, China, Malaysia, Jerman menunjukkan keberhasilan pengelolaan pembangunan negara berbasis budaya. Hal ini membuktikan pembangunan berbasis akar budaya mampu membangkitkan spiritualitas pembangunan.
Karenanya mengikhtiarkan budaya lokal masuk dalam tatar kebijakan pembangunan menjadi penting. Namun memang harus disertai dengan pendampingan vertikal dari pemerintah. Dengan demikian budaya lokal akan terungkit menjadi trend yang sejajar dengan kebijakan politik penyelenggaraan roda pemerintahan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom).






