KATA-KATA ITU IBARAT GARAM

Terbaru116 Dilihat

Kata itu unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan. Juga digunakan dalam bercakap-cakap.

Dapat digunakan sebagai satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri,  memiliki makna untuk mewujudkan pendapat,  perasaan, dan pikiran.
.
Dua kata atau lebih dapat digabungkan untuk membentuk frasa dan klausa, ketika dirangkai akan membentuk kalimat.

Kata yang merupakan unsur terkecil dalam bahasa itu di dalamnya mengandung bunyi-bunyi yang diucapkan atau ditulis. Ini simbol untuk mewakili suatu konsep atau makna. Dapat dipahami atau dimengerti atas kesepakatan bersama suatu masyarakat atau komunitas.

Dalam suatu komunikasi akan terjadi interaksi. Di sini kata-kata memainkan peran penting. Interpertasi dan persepsi jadi inti komunikasi. Kesamaan maknapun harus terjadi.

Jika tidak akan timbul sumbatan komunikasi. Masalah yaitu kesenjangan antara apa yang diharapkan dan kenyataan pasti tak dapat dihindari.

Kata-kata itu ibarat garam. Ada yang mengatakan ” Seasoned with salt” artinya dibumbui dengan garam. Setiap masakan atau makanan tanpa garam akan terasa hambar. Tetapi jika terlalu banyak akan merusak cita rasa makanan.

Demikian juga dengan kata-kata. Setiap berbicara ada kata-kata yang membumbui. Jika kurang bisa tidak dipahami, tetapi jika berlebihan bisa juga merusak komunikasi.

Ibarat garam yang punya sifat pengawet, demikian juga kata-kata. Sekali terlontar tak dapat ditarik kembali. Ia akan awet erat melekat dalam pikiran dan hati.

Karena itu kata-kata yang lemah lembut menyejukkan hati dan kata-kata kasar membangkitkan emosi.

Di wilayah Timur Indonesia ada istilah “Air kata-kata”. Ini istilah untuk miras alias minuman beralkohol. Nengapa disebut “Air kata-kata?”. Pasalnya mereka yang meminumnya terlalu banyak akan memproduksi dan menebar beratus kata tanpa makna, “mengoceh”, melantur tak karuan kemana-mana.

Menggunakan kata-kata dengan baik, itu sikap bijak. Struktur kalimat, pilihan kata, dan tujuan komunikasi itu harus dipikirkan dengan pasti.  Menggunakan kata-kata yang sesuai dengan konteks, jelas, dan efektif untuk menyampaikan pesan. Ada  subjek, predikat, dan objek.

Lebih baik cepat mendengar daripada cepat berkata-kata. Jika terampil melakukannya tentu menghindari kesalahpahaman. Ibarat pepatah mengatakan “Mulutmu harimaumu” artinya  perkataan yang diucapkan bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri, entah itu perkataan baik maupun buruk.

Jadi sejatinya bukan mulut yang salah tetapi kata-kata yang menggunakan mulut itu yang membawa petaka.

Apalagi di zaman teknologi canggih ini. Rekam jejak digital sangat mudah ditelusuri. Kapan pun kata-kata yang diucapkan dapat digali kembali.

Bijaklah berkata-kata, karena kata bijak itu adalah ungkapan singkat atau kalimat pendek yang mengandung makna mendalam.  Bisa berisi nasihat, motivasi, atau pelajaran hidup yang dapat menginspirasi dan memberikan pencerahan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan