Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom
Ketika bertugas ke Palembang ada hal yang membuat saya mula-mula merasa tertipu tapi kemudian merasa puas. Pasalnya sore itu saya tiba-tiba dibangunkan kawan dari tidur dan disuruh segera siap-siap. “Kita sudah di tunggu Noni,” ujar teman itu sambil senyum-senyum. Memang tubuh terasa lelah dan mata mengantuk setelah seharian berkeliling memeriksa pemasangan pipa air bersih di beberapa lokasi desa. Sambil siap-siap saya berpikir siapa Noni yang disebutkan teman itu. Meski kepala dipenuhi tanda tanya, saya tidak juga bertanya. Saya hanya menduga-duga Noni itu mungkin salah satu staf Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Selatan yang datang ke hotel menjemput kami. Mungkin kami ditunggu kepala Dinas. Tetapi saya tidak bertanya juga entah karena masih mengantuk. Walau istilahnya nyawa belum terkumpul, saya mengikuti saja teman yang melangkah menuju lobby hotel. Di lobby saya melihat Pak Min sudah menunggu. Pak Min ini supir kepala Dinas. Entah siapa nama lengkapnya kami tidak pernah tahu dan tak pernah menanyakan juga. Setelah berada di dalam mobil saya akhirnya bertanya sambil berbisik “Noni itu siapa, mana dia?.” Kawan saya hanya tersenyum misterius sambil menjawab ” Ya di rumahnyalah” jawabnya santai. Akhirnya Pak Min yang rupanya mendengar pertanyaan saya berkata “Noni itu rumah makan mpek-mpek pak. Pak kadis sudah duluan menunggu di sana,” ujarnya. Mendengar penjelasan pak Min saya agak kesal kepada kawan yang duduk disamping saya dalam mobil. Rupanya saya dikerjain kawan ini. Setibanya di tempat tujuan, kami disambut pak kepala dinas dan dipersilakan duduk.
Ketika mpek-mpek disajikan dalam piring besar isinya ada beberapa macam. Ada kapal selam, lenjer, kulit dan adaan. Ukurannya kecil-kecil. Untuk kuah cukanya tersedia dalam botol-botol kecil. Ketika makan dituangkan dalam pinggan masing-masing. Rasa mpek-mpeknya enak, didominsi rasa ikan tenggiri. Juga tersedia krupuk kemplang Palembang yang renyah rasanya.
Pada umumnya untuk campuran adonan mpek-mpek digunakan ikan tenggiri. Ikan ini banyak disukai orang, diperdagangkan dalam bentuk segar, ikan kering, atau diolah menjadi makanan lain seperti kerupuk, campuran siomay dan lain-lain.
Tenggiri yang nama asingnya Spanish mackerel, senang hidup bergerombol tidak jauh dari pantai. Di Indonesia tenggiri hidup di perairan Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Kaya akan protein dan Omega 3 yang penting bagi kesehatan, terutama pertumbuhan dan perkembangan otak.
FAO Salah satu badan PBB dalam bidang makanan dan pertanian menyatakan Indonesia merupakan negara penghasil tenggiri terbanyak diantara Filipina, Sri Lanka, Yaman dan Pakistan. Ini merupakan negara-negara penghasil tenggiri yang banyak.
Sekali waktu saya pernah diajak kawan pergi memancing ke laut. Kapten Dadang, nakoda kapal yang kami sewa seorang yang berpengalaman. Ia tahu persis di mana spot untuk memancing yang bagus. Meski hanya mengandalkan naluri dari beberapa kali pengalaman kami memancing dengan Kapten Dadang, hasilnya cukup memuaskan. Terlebih antara bulan Februari-Maret menurut kapten Dadang itu saat yang baik untuk memancing tenggiri.
Mpek-mpek yang menggunakan ikan tenggiri sebagai campurannya memang lezat sehingga banyak digemari orang. Sayangnya ada hal yang tidak menguntungkan jika terlu sering mengonsumsi mpek-mpek ini. Memang mpek-mpeknya sendiri kalau diperhatikan bahan dasarnya cukup baik. Bisa menjadi sumber protein dan karbohidrat yang berasal dari ikan dan tepung yang digunakan. Tetapi cukanya itu bisa berdampak kurang baik bagi tubuh, terutama kesehatan gigi. Sebenarnya gigi merupakan organ tubuh yang kuat dan tak mudah rapuh. Tetapi jika pola makan tidak baik, seperti halnya terpapar zat seperti cuka. Lama-lama akan cepat rusak juga. Kalau sekali-kali mungkin tidak menjadi masalah.







