Terbaru66 Dilihat

Jeneng dalam bahasa Jawa atau Sunda berarti nama. Sedangkan jenang bagi orang Jawa itu jenis makanan olahan yang cukup tenar. Ada yang cukup kondang dari Kudus Jawa Tengah.  Tetapi ditemukan juga di berbagai daerah lain seperti  Banyumas, Magetan, Wonogiri, Magelang dan sebagainya.

Tetapi yang mau diungkap bukan dari sisi kulinernya. Ternyata kata jenang secara filosofis, merupakan simbol doa, harapan, dan nilai-nilai kehidupan. Kesemuanya itu wujudnya dinyatakan lewat simbol-simbol dalam jenang sebagai bagian dari suatu acara ritual adat.

Di dalamnya sarat makna.  Rasa manis dan tekstur jenang yang lengket,  melambangkan keharmonisan dan ikatan kuat antara sesama. Demikian juga keharmonisan dalam rumah tangga maupun hubungan sosial, serta harapan agar selalu bersama dalam suka maupun duka.

Proses pembuatannya panjang dan membutuhkan kesabaran. Itu menggambarkan usaha dan kerja keras. Jenang juga digunakan sebagai media untuk menolak bala (sengkolo) serta memohon keberkahan, kesehatan, agar diberi kelancaran dalam  kehidupan  apakah pernikahan, kelahiran bayi, dan pergantian tahun.

Ada jenang abang (merah) dan jenang putih. Maknanya Jenang abang putih itu melambangkan dualitas kehidupan. Lazimnya diketahui unsur feminin dan maskulin, atau Adam dan Hawa, siang dan malam, baik dan buruk  serta pentingnya persatuan dari perbedaan untuk menciptakan rasa harmonis yang kuat dan sebagainya.

Namun jika dirangkai sebagai kata bijak “Aja golek jeneng, goleko jenange” dalam bahasa sehari-hari bisa diterjemahkan: jangan cari nama tapi carilah manfaatnya yang memberi berkat”. Itu jadi nasihat yang amat sangat dalam maknanya.

Sejalan dengan kata bijak lain “Rame ing gawe, sepi ing pamrih” meski bisa dimaknai dengan lebih luas. Lakukan sesuatu, kerjakanlah dengan tanpa pamrih. Tanpa menunggu dan mencari balasan atau imbalan.

Tebaran kata bijak “Berbagi kebaikan, menuai keberkahan”. Sebab tak seorangpun menjadi miskin karena memberi.

Mengerjakan sesuatu atau menolong seseorang hanya untuk mendapat “jeneng” agar “jumeneng” atau mendapat suatu kedudukan yang dihormati banyak orang. Tak peduli dengan cara apa dan bagaimana. Jenang yang didapat hanya untuk dinikmati diri tanpa peduli dan hampa rasa pada sesama.

Jadi pilihan ada pada diri pribadi sendiri. Ketika melakukan sesuatu yang dipalut dengan kebajikan apakah teruji tulus dan murni lewat pertanyaan : Golek Jeneng opo jenang”

Bagi mereka dengan predikat pemimpin “urang Sunda” berpesan “Mun kiruh ti girang komo ka hilirna (jika pemimpin tidak baik, rakyat yang dipimpinnya akan berbuat  yang jauh lebih buruk)(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan