FILANTROPI WUJUD CINTA KASIH PADA SESAMA

Terbaru37 Dilihat

Kemajuan teknologi membuat hidup terasa lebih mudah. Banyak hal kini bisa dilakukan sendiri, cukup lewat ponsel. Namun tanpa disadari, kemudahan ini juga membawa dampak lain: manusia semakin sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Rasa peduli terhadap sekitar pun perlahan memudar menyembunyikan diri.

Di tengah situasi ini, filantropi menjadi semakin berarti. Filantropi itu sikap suka memberi dengan tulus dan sukarela, tanpa mengharapkan imbalan kembali. Wujudnya tidak selalu uang. Waktu, tenaga, perhatian, dan keahlian juga jadi wujud yang dinyatakan.

Kata filantropi berasal dari bahasa Yunani, philein yang berarti mencintai, dan anthropos yang berarti manusia. Artinya sederhana: mencintai sesama manusia. Jadi, filantropi bukan sekadar memberi bantuan, tetapi menunjukkan kepedulian dan rasa kemanusiaan.

Banyak orang mengira filantropi hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berkecukupan. Padahal anggapan ini keliru. Siapa pun bisa berbagi, sesuai kemampuan masing-masing. Menemani tetangga yang sakit, membantu korban bencana, atau berbagi ilmu kepada yang membutuhkan, semua itu adalah bentuk filantropi.

Lebih dari sekadar bantuan sesaat, filantropi membantu menjawab persoalan sosial yang nyata, seperti kemiskinan, kesenjangan pendidikan, dan masalah kesehatan. Kepedulian yang dilakukan secara konsisten dapat membawa perubahan kecil yang berdampak besar.

Sayangnya, gaya hidup modern sering mendorong orang untuk fokus pada diri sendiri. Kesibukan kerja, tuntutan ekonomi, dan persaingan membuat interaksi sosial semakin berjarak. Akibatnya, rasa empati mudah tergerus.

Di sinilah filantropi menjadi pengingat. Ketika kita melihat ketidakadilan, bencana, atau penderitaan orang lain, kepedulian seharusnya tidak berhenti pada rasa iba. Filantropi mendorong kita untuk bertindak, sekecil apa pun langkahnya.

Memberi tidak membuat kita kehilangan. Justru sebaliknya, memberi membuat hidup terasa lebih bermakna. Seperti ungkapan yang sering kita dengar, tak seorang pun pernah menjadi miskin karena memberi. Yang terpenting bukan seberapa banyak yang kita berikan, melainkan seberapa tulus niat di baliknya.

Di tengah dunia yang semakin individualistis, filantropi adalah cara sederhana untuk tetap menjadi manusia—peduli, berbagi, dan saling menguatkan tali silaturahmi.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan