Kasih ibu kepada beta
Tak terkira sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia.”
Penggalan lagu legendaris ciptaan Mochtar Embut pada dekade 1960-an ini bukan sekadar nyanyian masa kecil. Itu pengingat abadi tentang cinta paling murni yang pernah dikenal manusia: kasih seorang ibu. Kasih yang memberi tanpa menuntut, mencintai tanpa syarat, dan hadir tanpa mengenal waktu.
Cinta ibu adalah cinta yang tulus, tanpa pamrih, dan tak mengenal batas usia. Ia mengalir sejak seorang anak belum mampu mengenal dunia, hingga kelak berdiri sebagai pribadi dewasa.
Lagu “Kasih Ibu” mengajarkan nilai empati, penghargaan, dan rasa syukur sejak dini—nilai dasar yang membentuk karakter manusia. Melalui nada sederhana, pesan besar itu ditanamkan: bahwa hidup ini berutang pada pengorbanan seorang ibu.
Tanggal 22 Desember diperingati sebagai “Hari Ibu” di Indonesia. Satu momentum yang tampak sederhana, namun sarat makna. Hari ini bukan sekadar seremoni, melainkan ajakan untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam, dan mengingat kembali cinta tanpa batas yang sering luput dari perhatian.
Sering kali kasih ibu hadir dalam bentuk yang tak kasat mata. Ia bangun paling pagi, tidur paling larut. Memastikan keluarga makan dengan layak, sehat, dan merasa aman. Tanpa banyak kata, ibu membangun fondasi kehidupan yang kokoh—menopang tumbuh kembang anak-anaknya agar siap menyongsong masa depan. Dalam diam dan kesederhanaan, terdapat keteguhan yang luar biasa.
Menghargai ibu sejatinya tidak harus diwujudkan dalam hadiah besar. Pelukan hangat, obrolan singkat, atau sekadar ucapan terima kasih dapat menjadi energi baru bagi seorang ibu untuk mengabaikan lelahnya.
Perhatian kecil, bila tulus, sering kali bermakna jauh lebih besar daripada materi.
Merawat ibu adalah bagian penting dari merawat kualitas keluarga. Ada ungkapan bijak yang mengatakan, seorang ibu mampu merawat sepuluh anak, namun sepuluh anak belum tentu mampu merawat seorang ibu. Kalimat sederhana ini menyentil kesadaran kita tentang tanggung jawab moral yang kerap terlupakan seiring kesibukan hidup.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia juga berakar pada sejarah panjang perjuangan perempuan sebelum masa kemerdekaan. Sejak abad ke-19, perempuan Indonesia telah bangkit melalui berbagai gerakan sosial dan kebangsaan. Momentum ini menandai kesadaran kolektif akan peran strategis perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Tokoh-tokoh perempuan pejuang bangsa seperti Tjut Nyak Dien dari Aceh, Nyi Ageng Serang dari Jawa Tengah, RA Kartini, Dewi Sartika dari Jawa Barat, Martha Christina Tiahahu dari Maluku menjadi bukti nyata bahwa perempuan memiliki kekuatan yang tangguh. Mereka berjuang bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan keteguhan hati, kecerdasan, dan keberanian moral.
Berbagai organisasi perempuan pun bermunculan, terutama sejak era Budi Utomo tahun 1908. Aisyiyah, Wanita Katolik, Putri Merdeka, dan banyak perkumpulan lain menjadi wadah perjuangan perempuan untuk pendidikan, kesehatan, dan kemajuan sosial. Bahkan dalam Kongres Pemuda tahun 1928, kedudukan perempuan menjadi salah satu pembahasan penting dalam merumuskan masa depan Indonesia.
Sejarah membuktikan bahwa kekuatan sejati perempuan—sebagaimana ibu—tidak semata berasal dari kapasitas fisik. Kekuatan itu lahir dari tekad yang gigih, dari kelembutan yang konsisten, dan dari cinta yang tak mudah menyerah. Kelembutan bukanlah kelemahan, melainkan sumber daya moral yang mampu mengubah dunia.
Mereka yang lemah tidak pernah mampu memaafkan. Pengampunan adalah atribut orang yang kuat. Cinta, dalam wujudnya yang paling luhur, jauh melampaui kekuatan fisik. Ia hadir dalam pelayanan, ketenangan hati, dan kemampuan mengubah diri sendiri demi kebaikan orang lain.
Cinta seorang ibu tidak terbenam bersama matahari. Ia menyelimuti sepanjang malam, menghangatkan dalam dingin yang membekukan badan, dan tetap menyala sepanjang zaman. Kasih ibu adalah sumber kekuatan yang tak pernah padam.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)







