Terbesit Kesombongan

Cerpen, Fiksiana436 Dilihat

 

Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu. (HR. Muslim)

 

“Mbak Tiara dan Mbak Renata saya tunjuk mewakili TPA untuk mengikuti pelatihan guru TPA di Kotagede,” ungkap Agus ketua TPA Masjid Al-Falah.

“Pelaksanaannya kapan?” tanya Tiara.

“Sabtu besok, untuk biaya administrasi sudah ditanggung sama TPA.”

“Wah mendadak sekali,” sela Tiara.

“Iya… Mbak Tiara dan Mbak Renata segera bersiap-siap. Memang udangannya mendadak baru dikirim tadi  pagi sama penyelenggaranya.” Agus menerangkan.

“Berapa hari Mas, pelatihannya?” Renata bertanya kepada Agus.

“4 Hari, untuk akomodasi, makan sudah disediakan oleh panitia. Ayo segera bersiap-siap!”

Tiara dan Renata kembali ke kosnya masing-masing. Melihat Tiara tergopoh-gopoh Mbak Sri yang satu kos dengan Tiara menjadi penasaran.

“Ada apa Tir, kelihatannya keik buru-buru?”

“Iya Mbak Sri, ini dapat tugas ikut pelatihan di Kotagede,” jawab Tiara.

“Pelatihan apa?”

“Pelatihan peningkatan kualitas pengajar TPA Mbak,” jawab Tiara sambil membuka lemari bajunya.

“Yang ikut siapa aja?” lanjut Mbak Sri penasaran.

“Aku Mbak dan Renata.”

“Wah, padahal aku juga kepengen loh ikut pelatihan itu. Kok yang dipilih gak melalui rembukan ya?” Mbak Sri protes.

“Aku juga gak tahu Mbak, tadi tiba-tiba aja Mas Agus hubungi aku dan Renata memberi kabar segera bersiap-siap.”

“Gratis ya pelatihannya?” ucap Mbak Sri penasaran ingin mengetahui tentang pelatihan tersebut.

“Bayar Mbak, tapi Mas Agus bilang sudah ditanggung sama TPA.”

“Enak banget ya?” Mbak Sri merengut seperti berharap bisa ikut dalam pelatihan itu.

“Kok, kamu terus sih yang ditunjuk,” Mbak Sri masih protes.

“Maaf ya Mbak, aku juga nggak tahu mengapa Mas Agus memilih aku dan Renata.”

Mbak yang ikut pelatihan ini mewakili nama TPA. Jika Mbak Sri yang ikut, nama TPA akan dipertaruhkan. Gimana nanti tanggapan pelatih di sana jika kualitas guru mengajinya seperti ini. Mbak Sri bacaan Alquran mu belum lancar.

 Tiara berkata di dalam hatinya. Tiara tidak menyadari jika di hatinya sudah terbesit kesombongan.

“Mbak Sri aku minta tolong ya! Anterin ke lokasi acara.” Saat itu Tiara tidak bisa mengendarai motor dan Mbak Sri pun bersedia mengantar Tiara ke lokasi pelatihan.

***

Tiara telah sampai di Kotagede. Mbak Sri mengucapkan selamat menempuh pelatihan kepada Tiara dan Renata. Tidak lupa Tiara mengingatkan kepada Mbak Sri untuk menjemputnya kembali 4 hari kemudian.

Pelatihan dimulai di Kotagede di pondok K.H. As’ad Human Sang penemu metode baca Alquran yaitu Iqro.

Empat hari Tiara, Renata dan seluruh ustad/ustadzah pengajar TPA di latih beberapa metode baca Alquran seperti metode Qiroati selain itu juga belajar tahsin, tajwid dan ilmu yang berkaitan dengan membaca Alquran lainnya.

Di hari pertama Tiara sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan ini. Bagaimana tidak ia mendapatkan tambahan ilmu yang berharga. Selama pelatihan peserta di ajak membaca huruf hijaiyah dengan irama dan dengan pelafalan yang benar. Seolah-olah lidah terasa semakin ringan dan enak untuk membaca Alquran.

Hari ketiga tibalah jadwal menguji hafalan dan bacaan Alquran. Tiara berada di kelompok B. Saat ujian tiba tanpa di sadari bacaan Tiara selalu salah, sambung ayat juga salah, hafalan tidak fokus. Hingga tim penguji mengatakan.

“Jika kualitas ustazahnya seperti ini, bagaimana dengan santri-santrinya?” celetuk salah satu tim penguji.

Tiara gagal, tiara dinyatakan tidak lulus dalam pelatihan tersebut. Ia pun menyesal dan beristighfar sebanyak-banyaknya ketika itu. Tiara menyadari betapa sombongnya ia terhadap Mbk Sri, ia merasa bacaan Alqurannya lebih baik dari Mbak Sri.

Sepanjang waktu setelah pelatihan tersebut ia selalu beristighfar dan memohon ampun kepada Allah atas hati yang ujub.

Seminggu setelah pelatihan Tiara pun mendaftar lomba Speech Contest di kampusnya. Saat itu hampir setiap saat ia beristighfar masih terngiang dengan kesombongannya minggu lalu.

Saat lomba ia pasrahkan diri kepada Allah. Melihat peserta yang telah tampil ia sangat salut dan kagum.

Giliran Tiara tampil ia hanya memohon kepada Allah agar semua berjalan lancar dan memasrahkan diri kepada Allah. Tiara pun tampil dengan sangat tenang, tidak emosi dan menampilkan ekspresi sewajarnya.

Ada salah satu pertanyaan dari juri yang membuatnya terkenang.

“How do you enrich your English?” juri bertanya kepada Tiara.

“English is communication. If someone wants to speak English fluently. Ya he or she must communicate in English everyday. No one in my family can speak English. There are many ways to enrich my English. A part from learning vocabulary, grammar and reading news in English and I always listen to English song. I have one special thing that I always do when I learn English even I have no partner to speak to, I close my door, stay in my room and I speak in front of mirror about 20-40 minutes.”

Tiada menyangka penyesalan yang pernah Tiara lakukan atas kesombongannya dan ia pun menyadari dan memohon ampunan kepada Rabbi. Allah pun akhirnya meridhoinya dan menggerakkan hati juri sehingga ia terpilih menjadi sang juara di Speech Contest tingkat mahasiswa di kampusnya.

Jembrana 2 Februari 2020

Rita Wati

Naskah hari ke-2 lomba blog PGRI/YPTD

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan