Saat ini kita tengah berada di era kemajuan teknologi dan informasi, dimana tingkat penyebaran informasi begitu cepat dan masif. Jika tidak diiringi dengan pengendalian dan kontrol diri yang kuat, maka kita akan mudah terlena dengan arus algoritma dari media sosial yang dengan mudahnya kita scrolling setiap saat.
Dalam konteks sejarah, tepatnya pada 20 Mei 1908 atau 117 tahun yang lalu telah berdiri sebuah organisasi nasional yang bernama Boedi Oetomo, yang menandai awalnya kesadaran nasional untuk menjadi bangsa yang satu, merdeka , dan berdaulat. Kenangan atas sejarah masa lalu ini, sejatinya membuat kita untuk selalu membangkitkan semangat kebangsaan, semangat untuk maju, dan semangat untuk bangkit menghadapi tantangan zaman.
Sebagai generasi muda, khususnya bagi para pelajar, sudah seyogyanya memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjadi pelajar yang berprestasi, berkarakter, serta memiliki semangat gotong royong dan cinta tanah air.
Dengan momentum hari kebangkitan nasional 20 Mei 2025 ini, semoga menjadi pemicu kepada setiap generasi muda untuk terus belajar, berinovasi, dan berkarya demi Indonesia yang lebih maju. Fokus pada tujuan sebagai seorang pelajar, jangan terbuai dengan kemudahan sarana digital, dengan menghabiskan waktu hanya untuk bermain games online dan scrolling media sosial. Padahal tanggung jawab yang diemban begitu besar sebagai pelanjut estafeta kepemimpinan bangsa, atau minimal kepemimpinan untuk diri dan keluarga.
Modal utama menjadi pemimpin masa depan adalah dengan membangun karakter sejak dini. Karakter yang unggul yang bersendikan nilai-nilai religius, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kecakapan dan kecerdasan yang paripurna, antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.
Untuk membentuk hal tersebut dibutuhkan sebuah pembiasaan agar pada akhirnya menjadi sebuah kebiasaan (habit). Dalam hal ini, sesungguhnya Kemendikdasmen telah mencanangkan gerakan 7 kebiasaan hebat anak Indonesia pada 27/12/2024. Tujuh kebiasaan yang dimaksud di antaranya adalah bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Untuk menyukseskan gerakan ini dibutuhkan kerjasama antara 3 pilar pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan karakter bukanlah semata-mata tanggung jawab sekolah, justru hal ini harus dimulai dari keluarga. Kedua orang tua adalah figur utama yang sangat berperan di dalamnya. Kebiasaan bangun pagi pada anak harus mendapat sokongan dari orang tua. Banyak kasus anak sering terlambat bangun pagi, karena mereka tidur terlalu larut malam. Untuk itu orang tua tidak boleh bosan untuk sekadar mengingatkan putra-putrinya agar tidur cepat, bangun pagi, giat beribadah, gemar belajar, dan juga bermasyarakat.
Banyak sekarang ini para pelajar hanya “bermasyarakat” pada dunia maya, sementara pada dunia nyata mereka begitu terasing dan jarang bersosialisasi. Hal ini justru kedepannya akan berdampak pada kesehatan mental, mereka akan cenderung menjadi intovert, dan memiliki split personality, yaitu suatu kondisi ketika seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda.
Dengan momentum hari kebangkitan nasional, mari kita bangkit dan bergerak menuju Indonesia maju dan bersatu, “Bangkit Bersama, Wujudkan Indonesia Kuat”.
Referensi:
https://www.detik.com/jateng/berita/d-7733485/apa-saja-7-kebiasaan-anak-indonesia-hebat-ini-penjelasan-lengkapnya
https://kumparan.com/info-psikologi/split-personality-pengertian-penyebab-dan-ciri-cirinya-21bSMlW7d14/1








