
berfoto dengan Tante Yet dan om Ronald di Amsterdam /dok pribadi
Tanggal 12 Agustus, 2018 kami sudah membooking ticket pesawat ke Belanda Kunjungan kali ini adalah untuk bertemu dengan Tante dan Om kami .Tante dan Om yang sudah lama tidak bertemu. tahun lalu ,Om Ronald dan Tante Yet ,pernah datang berkunjung kerumah kami di Wisma Indah di Padang. Sesusungguhnya,dalam hal usia,kami lebih tua,tapi dalam silsilah keluarga, kami berada di posisi setingkat keponakan.
Dengan diantar adik dan Sandro kamipun menuju bandara untuk bisa terbang ke Belanda Setelah sebulan kami selalu bersama sama, dari pagi hingga larut malam, rasanya sangat berat bagi kami berdua untuk berpisah dengan Margaretha dan Sandro Tapi begitulah hidup ini. A time to meet and a time to part. Dimana ada pertemuan,pasti akan ada perpisahan
Dijemput Om dan Tante
Di Belanda ada tante saya dan Om Ronald karena sudah janji akan ke Belanda dan menginap dirumah mereka. Sudah lama kami tidak jumpa dengan tante ini mungkin 30 tahunan sewaktu keduanya mengunjungi kami di Indonesia.Sewaktu mendarat di Belanda kami sudah ditunggu Tante dan Om ,yang datang menjemput kami berdua.

turun dari kereta di Amsterdam (dok pribadi)
Menuju tempat kediaman
Kami meluncur kekediaman om Ronald dan tante saya di Apartement yang memiliki 3 kamar yang cukup besar dan berlantai dua. Kami menginap dilantai dua.Pagi hari Tante telah siap memasakkan kami Kue Lemper Ayam yang dibungkus dengan kertas timah karena di Belanda daun pisang jarang ada Kalaupun ada mahal sekali harganya jadi tante menggantinya dengan kertas timah saja. Hal ini saya jadikan catatan dalam hati,karena di Australia juga jarang ada yang jual daun pisang.
Di sini kami menginap selama 5 hari saja. Yang mana menurut tante tidak puas jumpa dengan kami hanya sedikit sekali waktu bisa sama sama Berharap lain kesempatan bisa lebih lama lagi kami ditempat mereka.

Gereja di Amsterdam(dok pribadi)
Menuju Amsterdam
Keesokannya kami diajak Om Ronald dan tante untuk menuju Amsterdam. Setelah memarkir mobil di Train Central Station kamipun menuju loket untuk membeli tiket menuju Amsterdam.
Setelah tiket ditangan kami menuju plaform 6. Dan selang 5 menit keretapun tiba dan kami memasuki kereta untuk menuju Amsterdam Karena hari masih pagi kereta masih kosong
Kami menggunakan kesempatan bercerita dalam bahasa Padang yang membuat orang orang disekitar kami tercengang cengang mendengar kami mengomong dalam bahasa apa.
Om Ronald adalah Alumi USU dan menjadi dosen disalah satu Universitas di kota Tilburg.

Ada restoran Indonesia Food (dok pribadi)
Om ini banyak berceritera tentang Amsterdam yang mana dimulai dari pernak pernik tentang Penjara. Katanya disini penghuni boleh memesan makanan apa yang disukai mereka Kemudian cerita sampai pada kehidupan “Lampu Merah” Amsterdam, yaitu di mana “barbie hidup”menjajahkan dirinya terang terangan.”Calon pembeli “boleh melihat lihat dulu, seperti mau beli barang,kalau tertarik baru masuk untuk tawar menawar. Ngeri ah

Casino yang terdapat di Amsterdam(dok Pribadi)
Terasa Lapar ? Gampang ada banyak pilihan
Bila lapar tidak usah kuatir karena disini banyak pilihan mau makan apa saja, semua tersedia. Masakan Eropa, Jepang dan Chinese Food dan Indonesian Food. Semua tersedia tidak perlu jauh jauh cukup berjalan kaki saja. Begitu juga dengan hiburan disini ada Casino yang terbesar di Amsterdam.Mau masuk untuk sekedar lihat lihat juga tidak ada masalah. Nggak harus ikut main judi .
Mau makan buah
Di sini kalau mau makan buah tidak perlu ke Supermaket karena dipinggir jalan ada kios kios yang menjual buah jauh lebih murah dibandingkan Supermarket dan mall

kios buah dipinggir jalan(dok pribadi)
Tempat sampah yang unik
Kalau mau buang sampah ada tempat special untuk sisa sisa makanan yang dituang dalam tong ini kemudian ditarik tuasnya semua sisa makanan akan tertuang dibawah tanah tempat lubang sampah . Siapa tahu suatu waktu bisa dipraktekan di Indonesia

tong sampah yanunik/dok pribadi
Amsterdam adalah kota modern yang merupakan surga dan neraka bagi orang orang yang mau menggunakan kebebasan mereka.
Karena sejak awal kami memang sama sekali tidak tertarik akan hidup gaya bebas ,maka bagi kami hal semacam itu sama sekali tidak tertarik akan night Club dan semacam itu.
Kami bersyukur telah mendapatkan kesempatan untuk menjalin hubungan persaudaraan yang sempat terputus karena perjalanan waktu dan jarak yang memisahkan
Hingga kemarin tante masih menanyakan kapan kami bisa datang ke Belanda lagi ?Tapi dengan pesan :” Lin kalau lain kali datang jangan seperti dulu lagi ya. Paling sedikit dua minggu bersama tante disini.” Senang banget rasanya dirindukan oleh tante ya,begitulah kami saling sapa. Hubungan yang berdasarkan kasih sayang ,tak lapuk dek hujan dan tak lekang dek paneh. Puluhan tahun sudah berlalu dan dipisahkan jarak yang ribuan kilometer,tapi tidak memudarkan hubungan kekeluargaan antara kami. Kami bersyukur kepada Tuhan, kemana saja kami pergi,selalu disambut hangat dan penuh kasih sayang ,
6 Maret 2023.
Salam saya,
Roselina.




