Mainan Decin

Cerpen, Fiksiana211 Dilihat

“Ayo bereskan mainannya setelah selesai bermain Kak,” perintah bunda setelah Decin bermain.

“Duh Bund. Aku capek, Bunda aja ya,” keluh Decin.

“Lo kok begitu? Kan Decin yang main. Ayo lihat semuanya berserakan di mana-mana. Gak bagus dipandang mata. Ayo Sayang! Jangan malas gitu,” ujar bunda.

“Iya deh Bun. Tapi dibantu ya,”

“Iya Bunda bantu. Namun besok-besok Decin harus mandiri. Harus bertanggung jawab dengan mainannya.”

Akhirnya Decin dan bunda bersama-sama merapikan lagi mainan Decin. Menyusunnya seperti sediakala dan meletakkan kembali ke tempatnya.

Kepada ayah, bunda mengeluhkan Decin yang suka malas-malasan merapikan mainan. Kadang dia rapikan juga tapi setelah lama sekali sampai disuruh bunda. Kalau tidak begitu, mainannya akan tergeletak di mana-mana.

“Bagaimana ya Yah agar Decin tidak seperti  itu lagi?” tanya bunda bingung.

“Begini saja Bun. Kita biarkan saja mainan Decin berantakan. Tidak usah disuruh atau dibantu. Memang nanti akan mengganggu kerapian rumah, tapi bunda tahan dulu saja. Biarkan Decin bertanggung jawab dengan mainan tersebut,” jawab ayah.

Bunda menuruti kata-kata ayah. Bunda membiarkan saja Decin dengan mainannya. Hasilnya, rumah berantakan. Lego, pensil warna, buku gambar dan berbagai mainan Decin lainnya bertaburan di lantai rumah. Adik Decin yang baru pandai merangkak ikut memegang mainan Decin. Adik membawanya ke taman, melemparnya ke bawah kasur atau lemari dan merobek buku Decin yang tergeletak sembarangan. Bunda yang melihat itu semua membiarkan saja. Itulah akibatnya kalau Decin lalai dengan mainannya.

“Bun…mainan Decin banyak yang hilang dan rusak. Gara-gara Adik nih,” teriak Decin sambil mengumpulkan mainannya.

“Lo, kok gara-gara Adik. Kenapa setelah main tidak dikemasi? Makanya seperti itu,” ucap bunda.

“Tapi Bun, tetap saja adik harusnya tidak memegang mainan Decin,” Decin berkata sambil menahan tangisnya.

“Sayang, adik masih kecil. Dia suka memegang apa saja yang bisa dia jangkau. Dia mana tahu itu mainan atau bukan. Dia pun juga tidak akan mengerti yang dia lakukan tersebut merusak atau tidak.”

“Tapi Bun…” Decin merajuk.

“Tapi apa lagi Nak. Bunda kan selalu bilang, setelah selesai bermain rapikan dan letakkan kembali di tempatnya. Kalau semuanya tertata dengan baik, mainan atau barang apapun itu akan lebih terjaga. Kita pun mudah mengambil kembali kapan kita membutuhkannya,” nasehat bunda kepada Decin.

“Iya Bunda. Aku mengaku salah,” Decin menundukkan kepalanya.

“Decin, merapikan mainan itu bukanlah hal yang sulit. Cukup tanamkan dalam pikiranmu bahwa kerapian itu indah. Malas itu merugikan. Anggap saja kegiatan rapi merapikan, bersih membersihkan adalah permainan juga. Sehingga Decin tidak merasa terbebani.”

“Iya Bunda, jadi bagaimana sekarang. Mainan Decin tinggal sedikit. Bunda belikan lagi ya,”

“Huu…bagaimana Bunda mau membelikan lagi kalau hanya berakhir dengan rusak dan hilang. Bunda gak mau ah belikan lagi. Nanti malah diserakkan di mana-mana.”

“Tidak Bun, Decin janji akan menjaga semua mainan Decin. Merapikannya kembali setelah selesai bermain.”

“Apa betul begitu? Nanti hanya janji-janji saja,”

“Iya betul Bun.”

“Bunda lihat dulu ya bagaimana perubahan Decin dalam beberapa hari setelah ini. Baru Bunda putuskan apakah membelikan lagi atau tidak,”

“Iya Bun. Lihatlah nanti. Aku bisa dipercaya,”

Benar saja, untuk selanjutnya Decin berubah. Ia tidak lagi membiarkan mainannya berserakan. Setelah bermain dia akan menata kembali mainannya dan meletakkannya di tempat semula. Kamar Decin pun rapi dan bersih. Ia kini sadar bahwa malas hanya akan merugikannya.

Melihat perubahan sikap Decin ayah dan bunda sangat senang. Mereka tidak keberatan kalau Decin ingin membeli mainan lain yang dia inginkan. Mereka percaya bahwa anaknya kini sudah bertanggung jawab dengan barang yang dia miliki.

Tinggalkan Balasan