Curahan Hati Seorang Ayah

Humaniora364 Dilihat

Curahan Hati Seorang Ayah

Beberapa hari ini, entah mengapa saya diperlihatkan pemandangan antara ayah dan anak gadisnya. Saat akan berangkat kerja saya melihat ayah yang sedang menuntun anak gadisnya ke sekolah. Di pusat perbelanjaan saya melihat seorang ayah sedang mengantri di kasir bersama anak gadisnya yang sedang memengang es krim, sambil bercanda dan tertawa.

Pemandangan seperti ini, jujur terkadang membuat saya sedih dan iri dengan kondisi mereka yang bisa dekat dengan anak gadisnya. Ini lebih karena saya belum bisa mengalami, dan merasakan momen bahagian seperti itu.

Sebenarnya saya juga bisa dekat dengan anak gadis kami, tapi tidak mendapatkan respon yang diharapkan dari dia. Hal ini terjadi karena naka gadis kami spesial, karena mengalami global delay developmen ( keterlambatan perkembangan secara menyelruh),  akibat penyakit meningitis pada saat usia 6 bulan. Dampak yang terjadi adalah dia belum bisa duduk, belum bisa berdiri, dan berbicara pada usianya yang kini sudah meninjak 6 tahun.

Sudah hampir 5 tahun lebih, saya berharap dan menantikan momen seperti yang saya lihat. Hati ini bertanya, kapan, saya bisa menuntun anak gadis kami berjalan beriringan. bergurau layaknya anak yang lain. Sementara anak seusianya sudah mulai berangkat ke Taman kanak-kanak, sedangkan dia pergi ketempat terapi.

Kondisi seperti ini menyesakkan dada, dan untuk melegakannya, saya perlu mengingat kebaikan Tuhan dalam kehidupan kami, kasih anurahnya luar biasa. Kemudian dengan sepenuh hati dan ikhlas mengucap syukur untuk setiap keadaan. Bersyukur kami dianugrahi keturunan, dan perlu mengubah pola pikir bahwa ini titipan bukan beban. Dan berikutnya adalah semangat untuk terus memberikan yang terbaik guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak kami.

 

salah satu foto rebahan kami-dokpri
Dan satu hal yang tidak kalah pentingnya, menciptakan kebagahiaan kami sendiri dengan cara kami sendiri, tanpa perlu membandingan dengan orang lain. Salah satu hal yang dapat saya lakukan seperti foto bersama meski dalam posisi rebahan, karena anak kami belum bisa duduk dan berdiri. Kegiatan lain yang bisa kami lakukan bersama adalah berenang. Berenang bersama, selain untuk terapi juga menciptakan ikatan emosional kami. Dan menciptakan momen bersama lainnya, yang penuh kebahagiaan untuk melupakan apa yang sedang kami hadapi. 

 

Bahasa tubuh dan emosional meski tidak dikatakan, namun dapat dirasakan oleh anak-anak kita. Karakter yang sikap kita kepada mereke memberikan kedekatan tersendiri. Tetap semangat, semoga curahan hati (curhat) ini, dapat menginspirasi dan membangkitkan semangat para orang tua terutama yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK).

Tinggalkan Balasan