KMAA#14 : Belajar dari pemulung (Part 14)

Novel464 Dilihat

Diam-diam Bu Nely mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh Aisyah dan Parhan. Sebelum meninggalkan wanita tua itu, Bu Nely mengambil lima lembar uang ratusan dan langsung diserahkan kepada nenek Ijah.

Tangis nenek Ijah meledak saat menerima uang tersebut. Dia langsung mencium uang tersebut dan langsung sujud syukur.  Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih dan mendoakan Bu Nely dan keluarganya.

Momen yang tidak pernah dialaminya seumur hidup. Pelajaran berharga yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidup. Bu Nely jadi paham mengapa anaknya senang sekali diajak keluar oleh Aisyah. Ternyata dengan melihat kehidupan nyata yang dialami oleh orang-orang yang kurang beruntung membuatnya sadar bahwa Tuhan memberikan harta yang berlimpah, Namun dia jarang bersyukur sehingga hidupnya selalu merasa gelisah dan kurang bahagia.

Setelah membagikan semua bingkisan yang dibawa. Bu Nely mengajak Aisyah dan Parhan untuk meninggalkan lokasi tersebut yang secara tidak langsung merubah cara pandangnya selama ini kepada orang-orang yang kurang beruntung.

Sepanjang perjalanan Parhan, Aisyah dan Bu Nely berdiskusi tentang sampah dan pemulung. Tanpa terasa mereka sudah berada di depan gerbang rumah Bu Nely. Sopir yang mengantar mereka buru-buru membuka pintu gerbang.

Sebelum pulang Aisyah duduk berdua dengan Bu Nely di kursi yang ada di teras. Mereka mendiskusikan kemajuan yang dialami Parhan Sementara Parhan langsung masuk untuk membersihkan diri.

“Sepertinya Parhan sudah mulai mengalami perubahan Bu, jadi saya pikir sudah bisa memberikan dia materi pelajaran. Tapi menurut hemat saya, biar semakin menumbuhkan semangat belajarnya. Saya akan mulai dengan pelajaran yang paling disenanginya, bagaimana menurut ibu?” Ucap Aisyah sambil meminta pendapat Bu Nely.

“Silahkan, lakukan apa yang menurut nak Aisyah baik, ibu setuju-setuju saja. Jawab wanita paruh baya itu  dengan senyum tersungging di bibir.

Wanita itu diam sesaat, ada rasa haru bercampur bahagia yang tidak bisa diucapkan. Nampak butiran bening disudut matanya yang menandakan air mata bahagia melihat anaknya kembali ceria seperti dulu.

“Alhamdulillah dan terima kasih nak Aisyah telah membuat Parhan berubah seperti sekarang ini. Ibu tidak bisa memberikan apapun kepada nak Aisyah untuk membalas semua ini. Ibu hanya bisa berdoa semoga nak Aisyah selalu mendapat keberkahan dan kebahagiaan sepanjang hidup,” suara Bu Nely membuat hati Aisyah terharu.

Sebelum meninggalkan rumah, Bu Nely menyelipkan amplop ke dalam tas Aisyah membuat Aisyah terkesiap. Buru-buru Aisyah mengembalikan amplop yang diberikan Bu Nely.

“Ibu akan sedih jika nak Aisyah tidak mau menerimanya,” ucap Bu Nely.

“Tapi Bu, saya baru satu Minggu membimbing Parhan, dan ini juga belum masuk ke materi pelajaran di sekolahnya,” tukas Aisyah.

“Apa yang nak Aisyah lakukan kepada Parhan hingga membuatnya kembali seperti dulu tidak sebanding dengan isi amplop yang tidak seberapa ini,” kata Bu Nely dengan nada menghiba.

Dengan berat hati akhirnya Aisyah menerima amplop yang diberikan oleh Bu Nely.
“Terima kasih banyak, Bu,” kata Aisyah dan langsung pamit pulang. (Bersambung)

 

Tinggalkan Balasan