KMAA#24 : Menjadi Relawan Lombok (Part 1)

Novel475 Dilihat

Kening Aisyah berkerut, matanya tak berkedip sedikit pun, dada sesak, napasnya serasa tertahan di tenggorokan menyaksikan penderitaan yang dialami oleh warga Lombok. Perhatiannya tertuju kepada berita yang disiarkan hampir di seluruh stasiun televisi tentang gempa bumi yang terjadi di wilayah Lombok. Bencana ini meluluh lantahkan hampir semua bangunan Yang ada di sana.

Sebagai anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, membuat rasa iba itu menyeruak dalam diri Aisyah. Mahasiswa berkerumun di papan pengumuman yang ada di are kampus. Penasaran dengan info yang di tempel, gadis manis berjilbab itu pun mendekat.

Setelah membaca sekilas gadis itu langsung menuju ruang sekretariat BEM untuk mencari tahu lebih jauh tentang informasi di papan pengumuman. Dia langsung mendaftarkan diri menjadi salah satu relawan serta siap diberangkatkan ke lokasi gempa yang ada di Lombok.

Aisyah dan Umam sedang duduk di bawah pohon Pinus yang rindang sambil menikmati es dawet.

“Bang, tiga hari lagi saya akan berangkat ke Lombok menjadi sukarelawan bersama tim kampus,” ucap Aisyah.

“Aku juga mau berangkat kesana sama tim sukarelawan,” ungkap Umam terperanjat.

“Bisa jadi kita satu tim,” timpal gadis yang duduk di sampingnya.
Tampak wajah kedua insan itu tersenyum membayangkan perjalanan mereka nantinya.

Bus Darma Raya yang akan mengangkut tim rekawan melaju menyusuri jalan tol menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Suara klakson memekakkan telinga saat bus harus menyalip kendaraan lain yang sedang melaju kencang. Aisyah dan Umam duduk berdampingan di jok ketiga. Sesekali kepala gadis itu berbenturan dengan bahu pemuda tampan berwajah Arab yang duduk di sampingnya.

Melihat gadis di dekatnya tertidur, Umam langsung membiarkan bahunya menjadi bantal bagi kepala Aisyah. Sesekali tangannya memperbaiki posisi kepala gadis disampingnya yang hampir tergeser saat bus tiba-tiba mengerem mendadak. Hampir seluruh penumpang tampak tertidur, hanya sepasang mata Fadli yang duduk di jok belakang tak pernah lepas memperhatikan gerak gerik kedua insan yang sedang dilanda cinta. Ada rasa iri saat melihat bagaimana Umam memperlakukan Aisyah.

Suara sirine menandakan Kapal Legundi, akan mulai bergerak meninggalkan Pelabuhan Tanjung Perak. Kapal berukuran sangat besar dengan tiga lantai terus melaju. Barisan kendaraan tertata rapai dilantai paling bawah. Lantai dua dipenuhi oleh penumpang yang sedang asyik menikmati segelas kopi dibagian pojok kapal. Sementara penumpang yang lain tampak rebahan di kursi sofa atau matras yang di sewa dibagian dek kapal. Terpampang televisi dengan ukuran jumbo menghiasi tembok di beberapa bagian sebagai penghilang kejenuhan menemani perjalanan Sembilan belas jam. Lantai paling atas dimanfaatkan oleh penumpang untuk memandang hamparan laut lepas yang tak bertepi dan memandang indahnya langit di malam hari yang dihiasi oleh cahaya bulan dan kerlap kerlip bintang sambil menikmati hembusan angin laut.

Aisya berdiri di pinggir kapal. Kedua tangannya ditopang oleh besi pagar yang terbuat dari baja stainless. Pandangannya jauh ke depan menikmati bias cahaya bulan yang menerpa air laut.

Deboran ombak berpadu dengan hembusan angin seolah terdengar seperti irama alam. Baju gamis yang dipadu dengan jilbab biru warna navi berkibar-kibar terkena tiupan angin laut yang kencang.

“Sendiri saja,” suara seorang lelaki membuyarkan lamunannya.
Mata melotot, bibirnya menganga, bahu terangkat sembari tangannya memegang dada, seolah tidak percaya dengan lelaki yang berada di depannya.

“Fadli,” ucapnya dengan nada gemetar. “Kamu sedang apa di sini?”

Rasa takut dan kesal menyeruak dalam diri Aisyah melihat sosok pemuda yang berdiri tidak jauh darinya.

“Mau ke Lombok,” jawabnya santai. Fadli berjalan menghampiri pembatas pagar dan ikut menopangkan kedua tangannya di sana.

“Apakah aku mengangetkanmu? Dia balik bertanya.

Aisyah diam saja sambil matanya lurus ke depan.

“Kebetulan kita satu tim yang akan menjadi relawan di Lombok untuk membantu para korban gempa di sana. Kamu dari fakultas psikologi, sementara aku dari fakultas kedokteran.” Ungkapnya.

“Aku tahu kamu sangat benci padaku atas apa yang pernah ku lakukan. Kamu benar aku lelaki yang egois, tidak punya perasaan, sombong, angkuh dan tidak punya perasaan. Justru kata-katamu yang membuatku sadar bahwa apa yang aku lakukan selama ini melukai hati orang yang begitu berjasa merubah keadaan keluargaku. Kamu menyelamatkan laptop yang berisi tugas akhirku yang sudah aku perjuangkan selama ini, kamu pula yang sudah bisa merubah prilaku adikku kembali seperti dulu, sehingga ibuku bisa tersenyum kembali.” Tapi…Apa balasanku?! (Bersambung)

Tinggalkan Balasan