Bagi yang berprofesi sebagai guru pasti sering mendengar suara gaduh yang mengema jika ada pengumuman bahwa ada penciutan jam pelajaran karena satu dan lain hal. Suara heboh mereka akan terdengar sangat kuat dan mengema, mereka merdeka tidak belajar seperti hari biasanya, sungguh miris bukan.
Hampir dua puluh satu tahun mengajar, tapi belakangan ini sungguh mereka sepertinya tidak berminat untuk belajar berlama – lama. Belum lagi masalah keterlambatan kehadiran dengan alasan yang sebenarnya sungguh tidak masuk akal, bagaimana tidak jam masuk sekolah sudah diingatkan pada pukul tujuh tiga puluh tapi masih saja terlambat, bukankah sebagai pelajar mereka harus displin waktu.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pandemic juga menjadi pemicu mereka dalam artian siswa seperti terlena karena hampir dua tahun didatang kesekolah, biasanya hanya butuh tiga bulan menjadi wali kelas mereka tidak ada lagi yang berani datang terlambat, tapi sekarang sudah lebih dari enam bulan masih ada yang datang terlambat bahkan dengan sengaja datang terlambat. Belum lagi minat belajar yang rendah, mencontek menjadi satu penyakit yang paling sulit untuk ditangani.
Jika diumumkan pulang cepat karena alasan tertentu, sorak sorai mereka terdengar meriah, mengalahkan supporter pemain sepak bola. Dan hari ini terdengar lagi sorak sorai mereka karena sebelumnya tidak ada pengumuman bahwa hari ini adadegna workshop sasaran kinerja pegawai yang disingkat dengan SKP yang harus cepat dilaksanakan.
Walhasil hati ini merasa miris, bagaimana tidak seharusnya mereka merasa dirugikan karena waktu belajar mereka harus dipangkas, tapi mereka bahkan tidak peduli dengan pemangkasan jam belajar mereka malah yang terdengar mereka merasa bahagia karena tidak belajar.
Nyakbaye hanya bisa berceloteh di media YPTD karena kesal mereka bersorak sorai karena tidak belajar, semoga ini menjadi celoteh yang bermanfaat dan ada solusinya, semoga.***








