Cinta Bukan Miliknya (part 1)

Cerpen, Fiksiana309 Dilihat

Sudah hampir satu purmana dari purnama sebelumnya, aku ingin tidak mempercayainya tapi ini sesuatu yang tidak mungkin bisa aku enyahkan dari pikiran maupun hatiku begitu saja. Sebelumnya aku tidak pernah mempercayai yang namanya alam gaib, tapi inilah kenyataannya di zaman serba modern ini masih ada yang percaya akan yang tidak kasat mata, termasuk aku yang tidak bisa mengatakan tidak kepadanya.

Mau percaya silakan tidak juga tidak apa – apa, yang pasti aku tidak bisa mengatakan tidak pada alam tidak nyata ini. Aku seorang sarjana di tahun Sembilan puluhan sepertinya tidak masuk akal untuk mempercayainya tapi sekali lagi aku harus mengakuinya walaupun masih ada pilah hati serta pikiranku yang mengatakan ini tidak nyata.

Pengalaman yang tidak mungkin aku bisa nafikan, sedari kecil aku selalu mendengarkan nenek buyut yang waktu aku masih berumur 10 tahun sudah berumur lebih dari 80 tahun, tua sudah sangat tua, tapi kata Ibuku orang zaman dulu umurnya panjang karena mereka mempunyai pegangan. Waktu itu aku tidak mengerti yang namanya pegangan tapi seiring berjalannya waktu akhirnya aku tersenyum jika mengingat itu. tapi itu dulu sebelum aku mengalaminya.

Sedari kecil, nenek buyutku selalu berkata sambil mengelus rambutku. Dirimu adalah penerusku, suami bukan dari dunia ini tapi dari dunia gaib yang mukanya bagaikan Nabi Yusup, sangat tampan sehingga kau akan merasa seperti wanita paling bahagia dunia. Aku hanya tersenyum saja, karena kata Ibu jangan pernah aku membalas kata – kata nenek buyutku dengan sesuatu yang membuatnya marah apalagi berkata aku tidak percaya dengan adanya alam gaib.

Dalam keluarga besar Ibuku, masih percaya dengan alam gaib. Walaupun itu salah di syariat agama tapi kata nenek buyutku kita tidak memduakan yang Maha Kuasa, masa kecilku selalu melihat yang namanya setiap jumat nenek buyut meletakkan semangkok air di atas nampan yang sudah ada kembang tujuh rupa dan limau serta sedupa bara yang akan diberikan kemenyan yang membuat baunya meremangkan bulu keduk bagi yang tidak biasa melihatnya. Tapi karena sedari kecil melihatnya aku sudah biasa.

Mana cicit buyutku, kesini sayang duduk didekat nenek. Setiap kumpul keluarga pasti aku yang menjadi favorit nenek buyutku. Sambil mengelus kepalaku yang kurebahkan di pangkuannya, nenek buyutku akan bercerita tetang alam gaibnya. Cicit nenak jika sudah datang bulan, nenek akan memberikan satu mantra yang akan menjaga dirimu sehingga pada waktu yang telah ditentukan maka kau akan memiliki dua suami. Aku hanya mendengarkannya dengan senyum dikala umurku baru 10 tahun, karena aku tidak mengerti akan apa yang dikatakan nenek buyutku.

Bertambahnya umurku, setiap berkumpul dengan keluarga besar Ibuku, aku menanyakan kepada Nenek buyutku.

“Nenek mengapa harus Ais, bukankah ada Mia, Ira.” Sepupuku yang lainnya yang sama – sama cicit nenek buyutku.

“Ais lahirnya hari jumat, karena itu hanya Ais yang cocok meneruskan pegangan Nenek.” Jawaban yang membuatku hanya bisa melonggo saja

“Memangnya harus yang lahir hari jumat Nek?” aku masih bertanya karena masih heran.

“Iya, nanti setelah Ais datang bulan pertama akan nenek buyut terangkan semuanya.” Aku hanya mengangguk karena aku melihat mata nenek buyutku memandangku dengan pandangan yang tidak mau dibantah.

Sejak kecil aku selalu lebih di sayang dengan nenek buyutku, aku sepertinya istimewa buat nenek buyutku. Setiap habis kumpul keluarga besar Ibuku, Ibuku selalu mendapatkan amanat nenek Buyut untuk menjagaku baik – baik.

***

Aku masih ingat bagaimana pertama kali aku di limau istilah nenek buyutku, aku bagaiman putrid raja yang dimandikan air kembang tujuh rupa dari tujuh sumbur yang entah dari mana nenek buyutku dapat, sebelum mandi bersih setelah datang bulan pertamaku. Nenek buyutku memastikan dengan benar apakah aku sudah benar – benar bersih sebelum aku dimandi limaukan. Dengan mengenakan kain sarung duduk bersimbuh di kamar mandi, kemudian aku melihat mulut nenek buyutku mulai komat kamit membaca doa dengan awal kata menyebutkan bismilah, sebenarnya aku mau ketawa tapi aku ingat dengan pesan Ibu.

“Ais melakukan ini hanya untuk menyenangkan hati nenek buyut saja. jika Ais suka Ais boleh mengamalkannya jika tidak juga tidak apa – apa. “ sebenarnya banyak lagi yang dikatakan Ibuku tapi aku hanya mengingat point penting untuk membahagiakan nenek buyut yang entah tinggal berapa lama lagi hidup mengenang umurnya yang sudah lebih dari 90 tahun.

Telah selesai ritual yang menurutku lucu saja, aku mandi bunga tujuh rupa dari air sumur tujuh sumur pula. Nenek buyutku berikan amalan yang menurutku aneh, bagaimana tidak aneh.

“Ais cucu buyutku, mulai sekarang Ais tidak boleh keluar dari rumah pada malam jumat, jangan makan dalam tudung, Ais harus rajin sholat. Untuk sholat rasanya aku bisa menerima, tapi siapa yang mau makan dari tudung, maksud nenek buyutku jangan makan dari tutup wadah apa saja, memangnya tidak ada piring sampai harus makan dari tutup mangkok/periuk pikirku kala itu.

Berjalannya waktu, apalagi setelah nenek buyutku meninggal dunia, aku lupa dengan pemberiannya.(bersambung)

***

 

Tinggalkan Balasan