Cinta Bukan Miliknya (part 3)

Cerpen, Fiksiana434 Dilihat

Sepi, ketika aku terbangun dari tidurku. Aku mengambil jam tangan yang ada di nakas sebelah tempat tidurku. Jamku menunjukkan pukul 10 pagi, sekali lagi kepalaku terasa sangat sakit. Aku sudah terlambat untuk memberikan penyuluhan sesuai dengan jadwal yang sudah kami sepakati, semoga Lia bisa mengcover kerjaku karena jika salah satu dari kami sakit  biasanya akan ada yang mengcovernya.

Aku mencoba bangun dari tidurku, tapi kepalaku masih terasa sakit. Aku memalingkan kepalaku kearah pintu kamarku, sekali lagi aku melihat siluman dengan kepala manusia itu, sekarang ia melingkar dipintu kamarku seperti ingin mengatakan sesuatu kepada diriku. Tapi yang namanya takut sudah menyerang aku malah pingsan.

“Ais, kau kenapa? Untung saja kamarmu tidak dikunci.” Suara Lia menyadarkanku, aku mencium aroma terapi di hidungku pasti Lia yang mengoleskannya.

“Badan kamu panas sekali Ais. Sebaiknya kita ke puskemas saja.” Aku menganggukkan kepalaku tanda setuju.

Dari arah pintu kamar aku melihat seseorang masuk, Aku memperhatikannya dengan teliti ternyata Bang Is.

“Bang Is ada di sini Lia? Aku mengajukan pertanyaan kepada Lia

“Sewaktu penyuluhan Bang Is menanyakanmu, Aku mengatakan Kau sakit. Karena itu Bang Is memaksa untuk mengikuti pulang setelah penyuluhan tadi.” Terang Lia kepadaku.

“Bang kita antar Ais ke puskesmas ya bang.” Mendengar perkataan Lia Bang Is menghampiriku, bersama dengan Lia bang Is menolongku untuk menuju pukesman.

***

“Abang pulang dulu, semoga kamu cepat sembuh Ais.”

“Terima kasih Bang, sudah membantu Ais hari ini.” Ucapku sopan setelah sampai ke Mes lagi.

Bang Ismail salah seorang pemuda kampung tempat aku dan teman – teman memberikan pelatihan tentang wirausaha. Dari pertama berkenalan aku tahu Bang Is selalu memberikan perhatian lebih kepada diriku dibandingkan dengan teman – teman perempuan lainya. Tapi aku tidak membalas perhatiannya karena aku merasa ada yang tidak beres dengan dirinya walaupun kelihatannya dia adalah pemuda baik – baik, teman perempuan satu angkatanku selalu mencari perhatian Bang Is.

“Ais, Bang Is cemas sekali sewaktu aku menelepon dirinya mengatakan bahwa kamu pingsan. Kenapa sich kamu tidak membalas perhatiannya, Kamu belum punya pacar atau calonkan Ais.” Lia berkata sambil membawakan Aku teh bersama kue, sejak dari pagi aku memang belum makan.

“Buat kamu saja Lia.” Sahutku

“Hmm maunya Aku sich iya, tapi Bang Is sukanya sama kamu Ais.” Aku lucu melihat mulut Lia yang buat monyong kedepan setelah menjawab ucapanku.

“Aku tidak merasa Bang Is baik, Lia. Entahlah aku merasa ada lain dengan dirinya.” Aku menjelaskan kepada Lia pendapatku tentang Bang Is.

“Apanya yang tidak biak, Dia pekerja keras dibandingkan dengan pemuda lain dikampung ini dia yang sarjana dan punya pekerjaan tetap walaupun hanya kerja di kantor lurah sich Ais.” Aku mendengarkan panjang lebar bagaimana Lia mendukung Bang Is. Aku jadi tersenyum mendengarnya.

“Kalau gitu Bang Is buat kamu saja Lia. Nanti aku kasih tahu Bang Is ya?” ucapanku malah mendapat pelototan mata Lia  yang besar dan menakutkan aku.

“Tu mata tidak perlu dibesarkan, udah besar tambah besar bikin takut saja.” berkata itu tapi aku masih melepar senyum kearah Lia, membuat Lia tambah jengkel dengan aku

“Percuma Ais, Bang Is kan maunya sama Kamu bukan Aku.”  Katanya cemberut

“Udah, sana pergi terima kasih teh hangat dn kuenya, aku lapar Li beliin aku nasi ya.” Pintaku kepada Lia.

“Oh iya udah pukul 1, sama Aku juga lapar. Kamu tunggu ya aku ke warung dulu beli nasinya.” Setelah mengatakan itu Lia meninggalkan aku pergi ke warung.(bersambung)

***

 

 

 

Tinggalkan Balasan