“Maaf anda yang bernama Aisyah.” Aku memandang perempuan yang mencariku sampai ke Mes, aku merasa tidak mengenalnya tapi mengapa Dia mencariku
“Kenalkan namaku Mia, aku tunanganya Bang Ismail.” Aku sedikit terkejut ketika Dia mengatakan tungannya Bang Is
“Iya, saya Aisyah. Ada perlu apa ya?” tentu dengan senyum aku menjawab pertanyaannya
“Tolong jauhi Bang Is, sebaiknya anda tidak menganggu laki – laki yang sudah bertunangan.”
“Maaf, mungkin Anda salah alamat. Saya tidak pernah menganggu Bang Is. Saya tahu siapa saya dan mengapa saya di sini, jadi Anda tidak perlu khawatir.” Belum juga aku selesai bicara, wanita yang bernama Mia menyiramkan cairan kearahku. Untung saja ada seseorang yang menarikku kesamping sehingga cairan yang dilemparkan Mia kearahku tidak kena sasaran. Aku menjerit dan badanku menabrak badan orang yang telah menarikku.
“Bang Is.” Spontan aku menyebut naman Bang Is ketika aku tahu Bang Is yang menolongku dari terkena cairan yang dilemparkan kearahku. Cairan yang dilemparkan kearahku tumpah kelantai dan mengepul mengeluarkan asap.
“Air keras.” Ucapku tanpa sadar, mataku membesar memandang wanita yang bernama Mia
Plak suara tamparan pada wajah Mia, aku melihat Bang Is menamparnya, aku meraih tangan Bang Is sebelum tamparan ke dua mendarat di pipi Mia.
“Sudah Bang, pasti ada salah faham di sini.” Kataku menenangkan Bang Is
“Maaf Aisyah, Mia memang tunangan Abang kami dijodohkan orang tua tapi Abang tidak bisa mengingkari hati Abang, Abang suka sama Aisya.” Kejujuran Bang Is tentu saja membuat wanita yang bernama Mia sebuah pukulan berat aku melihatnya menangkup kedua tangannya ke arah mukanya dan terdengar isak tangisnya.
Aku berjalan ke arah wanita yang bernama Mia, merangkulnya dalam pelukanku
“Maafkan Saya, tapi yakinlah Saya hanya menganggap Bang Is sebagai Abang yang membantu saya selama di sini.” Aku berusaha menenangkan Mia.
Perlahan tapi pasti isak Mia mulai berhenti, aku masih memeluknya. Akhinya Mia melepaskan kedua tangannya yang menutup mukanya.
“Maafkan Aku Aisyah. Aku terlalu cemburu, ketika Bang Is mengatakan Ia menyukaimu walaupun Bang Is mengatakan Bang Is tahu Aisyah tidak mempunyai perasaan yang sama dengan Bang Is. Sebagai tunangan yang sudah mencintai Bang Is sedari kecil aku tidak bisa menerimanya. “ aku hanya tersenyum mendengar kata – kata yang keluar dari mulut wanita yang bernama Mia.
“Hanya salah faham, yakinlah Cinta Aisyah bukan milik Bang Is. Sudah ada yang menunggu Aisyah.” Aku tersenyum ke arah Mia dan Bang Is, memastikan bahawa cinta Bang Is bukan milik Aisyah.
Aku melihat sekantung luka di pelupuk mata Bang Is, sementara Mia matanya berbinar mendengar sudah ada yang menantiku yang pasti bukan Bang Is. Maafkan Aisyah bang, Ais sudah membuat Abang terluka, tapi Ais tidak pernah menjanjikan apa – apa tapi Cinta tiada yang tahu kapan datangya. Yang pasti Cinta Aisyah bukan milik Bang Is, Bang Is berjalan meninggalkan Mia dan Aku.
“Maafkan Mia, Ais.” Setelah mengatakan itu aku melihat Mia berlari kecil mengejar Bang Is yang telah meninggalkan kami.
Percaya atau tidak aku sudah di ingatkan oleh pegangan Nenek Buyutku yang telah diturunkan kepadaku. ****






